Sedang Dikembangkan, Drone-drone Kamikaze Buatan Indonesia

Sedang Dikembangkan, Drone-drone Kamikaze Buatan Indonesia
info gambar utama

Bagi yang mengikuti kabar terkiri perang Rusia - Ukraina, tentu tak melewatkan episode barunya, yakni penggunaan drone (pesawat tanpa awak) bunuh diri (kamikaze) besar-besaran oleh pihak Rusia untuk menyerang sasaran-sasaran strategis di Ukraina. Uniknya, drone tersebut bukan buatan Rusia sendiri, melainkan buatan sekutu Rusia di Timur Tengah, yakni Iran. Namanya Shahed-136. Pengerahan drone Shahed-136 buatan Iran yang digunakan oleh Rusia dalam perang melawan Ukraina ternyata cukup mumpuni dan mampu membuat pertahanan udara Ukraina kalang kabut.

Shahed-136 sendirii diperkirakan memiliki jangkauan hingga 2.000 kilometer (kira-kira jarak Banda Aceh ke Bandar Lampung). Kemampuan jelajahnya yang begitu jauh membuat Rusia membeli dalam jumlah besar. Drone kamikaze i ini mempunyai dua keuntungan startegis. Selain secara teknis mampu mengunci sasaran dan menabrakkan tubuhnya hingga meledak, drone ini juga membuat pertahanan udara lawan menjadi kalang kabut dan serba salah. Mengapa?

Dalam hal perang Rusia - Ukraina, Shahed-136 yang satu unitnya seharga kira-kira 20 ribu Dolar AS, harus dijatuhkan dengan cara ditembak dengan rudal National Advanced Surface-to-Air Missile Systems (NASAMS) yang berharga 140 ribu hingga 500 ribu dolar AS. Selain harganya mahal, tentu persedian NASAMS Ukraina juga terbatas, dan harus juga digunakan untuk pertahanan udara melawan serangan udara (non drone), maupun misil-misil jarak jauh Rusia.

Inilah mengapa, makin banyak negara yang tertarik membeli atau mengembangkan sendiri drone kamikaze. Salah satunya Indonesia.

Dikutip dari CNBC, Indonesia, melalui PT Pindad (Persero), tengah mengembangkan pesawat tanpa awak drone bunuh diri yang diberi nama Minibe. "Kamikaze drone itu sistemnya seperti misil, karena di dalamnya drone atau war head-nya kita bisa tambahkan explosive," kata Senior Development Product and Process Development of Ammunition Innovation Division PT Pindad Saraswaty. Kekuatan daya ledak dari drone ini tergantung dari isian bahan peledak yang dimasukkan. Namun maksimal saat ini diisi sebanyak 0,8 kg TNT atau RDX. Minibe juga memiliki kemampuan jarak terbang mencapai 25 km dengan kecepatan 250 km per jam.

Drone bersenjata buatan Pindad (photo : Defense Studies)
info gambar

"Dia bisa terbang sendiri, bisa diangkut oleh ini (drone misil), bisa juga swarming. Swarming itu jadi dia kayak lebah gitu konsepnya, jadi ada beberapa untuk dia menghancurkan satu area,"lanjut Saraswaty. Drone ini hasil kerja sama dari PT Pindad dan salah satu startup lokal Bandung yaitu BETA yang diproduksi di Bandung. Saraswati mengatakan, pihaknya telah melakukan uji terbang dan saat ini tengah melalukan optimasi.

Selain Minibe, Indonesia juga sedang mengembangkan drone bunuh diri lain, yang sedang dikembangan oeh PT Dahana (Persero) yaitu Rajata. Senior Officer PT Dahana, Andi menjelaskan, Rajata menggunakan propeler. Setelah diluncurkan ke atas, propeler inilah yang akan mengarahkannya ke sasaran.

"Jadi kalau ini set ke sasarannya itu lewat GPS. Jadi sebelum diluncurin, diset dulu targetnya, dan range-nya ini kurang lebih 30 km, kecepatan maksimal 200 km/jam," kata Andi.

Drone pintar bernama RAJATA karya PT Dahana (Persero) (dok: DAHANA)
info gambar

Drone yang telah dikembangkan sejak 2021 silam ini bekerja sama dengan perusahaan lokal yaitu PT Aero Terra. Sama seperti Minibe, Rajata juga diproduksi di Bandung. Rajata merupakan teknologi baru dan pertama di Asia Tenggara yang dapat dibekali warhead asap maupun warhead live (bahan peledak).

Targetnya ialah sasaran tidak bergerak, di mana target dapat dikunci dari jarak jauh. Teknologinya juga memungkinkan personel yang menggunakan Rajata dapat menghancurkan target tanpa diketahui musuh.

Minibe dan Rajata, jika sudah layak dioperasikan nanti, tentu sangat berpotensi untuk digunakan di seluruh matra pertahanan TNI, seperti penggunaan pleton matra darat di tiap perbatasan Indonesia, pada kapal laut milik TNI AL, ataupun pada pesawat TNI AU sebagai senjata.

Sumber: CNBC | Detik | Business Insider

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Akhyari Hananto lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Akhyari Hananto.

AH
SA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini