Arak Bali Sejajar Whiskey dan Vodka Jadi 7 Minuman Spirit Dunia

Arak Bali Sejajar Whiskey dan Vodka Jadi 7 Minuman Spirit Dunia
info gambar utama

Sah! Seperti keputusan yang tertuang dalam Surat Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 414/P/2022, Arak Bali ditetapkan jadi Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.

Dengan begitu, pembuatan arak Bali dengan proses destilasi tradisional harus dipertahankan dan tidak diubah. Bahkan Gubernur Bali, Wayan Koster juga meminta untuk para pengelola hotel di Bali untuk menjadikan arak Bali sebagai welcoming drink untuk para wisatawan.

Bentuk pertahanan budaya ini juga ternyata membuat arak Bali masuk kategori minuman spirit ketujuh di dunia. Diketahui minuman yang masuk kategori spirit dunia adalah minuman golongan C dengan kadar alkohol 25-45 persen yang dibuat dengan proses destilasi atau penyulingan.

Dengan begini arak Bali sejajar dengan Whiskey dari Irlandia, Rum dari India Barat, Gin dari Belanda, Vodka dari Rusia, Tequila dari Mexico, dan Brandy dari Belanda.

Whiskey sendiri tercatat memiliki kadar 40% alkohol. Rum memiliki kadar 40% alkohol yang terbuat dari seri tebu yang disebut molase. Gin memiliki kadar 40% yang terbuat dari buah juniver. Vodka memiliki kadar 35%. Tequila punya kadar 33%.

Brandi punya kadar 35% yang berasal dari buah anggur. Sedangkan arak bali memiliki kadar alkohol yang beragam antara 35-45% yang terbuat dari bahan kelapa, enau, dan lontar.

Istilah minuman spirit ini memang difokuskan pada proses fermentasi alkohol yang dilakukan dengan cara penyulingan. Istilah ‘spirit’ mengacu pada minuman suling yang setidaknya mengandung 20% alkohol berdasarkan volume dan tanpa tambahan gula.

Minuman alkohol yang melewati proses penyulingan dari cairan fermentasi ini bertujuan untuk mempermanis atau memberikan aroma khas pada minuman tersebut. Itulah mengapa minuman spirit ini pada awalnya tidak terasa manis seperti liquor tetapi rasanya akan berkembang saat proses fermentasi.

Peraturan (EC) No. 110/2008 Parlemen dan Dewan Eropa pada 15 Januari 2008 mendefinisikan spirit drinks sebagai minuman beralkohol yang ditujukan untuk konsumsi manusia yang memiliki kualitas organoleptik tertentu dengan kandungan alkohol minimal 15% volume.

Peraturan tersebut juga menitikberatkan pada proses penyulingan meski ditambah dengan proses penambahan perasa atau dengan mencampurkannya dengan minuman alkohol lain seperti etil alkohol yang berasal dari pertanian atau sulingan tertentu.

Mengapa disebut minuman ‘spirit’?

Secara harfiah ‘spirit’ memang diartikan sebagai roh, namun jika mengacu pada minuman alkohol, kata tersebut berasal dari alkimia dari Timur Tengah. Alkimia adalah protosains yang menggabungkan unsur-unsur kimia, fisika, astrologi, seni, semiotika, metalurgi, kedokteran, mistisisme, dan agama.

Pada akhirnya dijadikan sebagai kategori minuman alkohol karena berasal dari uap yang dihasilkan oleh penyulingan dan dikumpulkan setelan kondensasi. Proses ini yang disebut sebagai ‘roh’ dari zat aslinya.

Jenis minuman ini tentu berbeda dengan jenis liquor yang berasal dari bahasa Latin, ‘liquere’ yang berarti cairan. Istilah liquor cenderung mengacu pada bir, anggur, dan minuman fermentasi lainnya yang batas kandungan alkoholnya maksimal sekitar 18% dari volume.

Ini karena ragi yang menghasilkan alkohol selama fermentasi tidak dapat bertahan dalam kekuatan alkohol jauh di atas itu.

Jika ingin meningkatkan kandungan alkoholnya, maka dipilih proses distilasi untuk memekatkan alkohol dalam minuman fermentasi ini. Distilasi ini untuk memisahkan alkohol dari air dan zat lain melalui penguapan karena etanol alkohol mendidih pada suhu yang lebih rendah dari air.

Proses distilasi pada liquor juga memiliki manfaat untuk memisahkan alkohol etanol dari racun dalam minuman fermentasi seperti metanol dan minyak fusel karena keduanya juga mendidih pada suhu yang berbeda.

Melihat penjelasan tersebut tak heran jika Gubernur Koster memang berambisi kalau pembuatan arak Bali dengan proses destilasi tradisional ini harus dipertahankan dan tidak diubah dengan bebas, serta harus dipertahankan keasliannya.

Koster juga menegaskan, masyarakat tidak boleh lagi membuat arak gula dengan proses fermentasi. Sebab hal itu bisa merusak tradisi arak Bali.

“Dengan begini para petani arak menyambut gembira dan berbagai kreativitas tumbuh, mulai dari kemasan yang elegan dan berkualitas hingga inovasi berbagai aroma dan rasa,” ungkap Koster dikutip Kompas.com (4/11/2022).

Sebelumnya arak Bali tak terlindungi bahkan para produsen cenderung sembunyi-sembunyi karena takut akan ancaman hukuman yang dianggap sebagai pengedar minuman keras.

Sumber: EconomicTimes.com, Vinepair.com, DiffordsGuide.com, Kompas.com

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dini Nurhadi Yasyi lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dini Nurhadi Yasyi.

Terima kasih telah membaca sampai di sini