Kewirausahaan Bukan Untuk Mahasiswa Fakultas Ekonomi Saja

Ahmad Cholis Hamzah

Seorang mantan staf ahli bidang ekonomi kedutaan yang kini mengajar sebagai dosen dan aktif menjadi kolumnis di beberapa media nasional.

Kewirausahaan Bukan Untuk Mahasiswa Fakultas Ekonomi Saja
info gambar utama

*Penulis senior GNFI

Seringkali masyarakat “terkejut” bila mahasiswa fakultas kedokteran belajar ilmu kewirausahaan karena umumnya bidang yang ditekuni mahasiswa jurusan ekonomi dan bisnis, sementara umum menganggap bahwa mahasiswa kedokteran hanya balajar tentang ilmu kedokteran, setiap hari bekutat dengan suntik, obat dan stateskop.

Dulu ketika ramai-ramainya indutri perbankan di Indonesia, banyak orang juga bertanya-tanya kenapa banyak alumni IPB yang bekerja di dunia perbankan bukan didunia pertanian karena IPB itu perguruan tinggi yang memfokuskan pengajarannya pada hal-hal yang berhubungan dengan pertanian.

Edukasi online dari Stanford University menjelaskan bahwa pada tingkat yang dasar, kewirausahaan mengacu pada individua atau sekelompok mitra yang berusaha menciptakan bisnis baru diluar jalur aslinya. Seorang wirausahawan bercita-cita tinggi secara aktif mencari usaha bisnis tertentu. Namun ada kekhasannya dalam bidang kewirausahaan ini yaitu seorang wirausaha sering melibatkan inovasi.

Penjelasan dari Stanford tadi senada dengan Suryana melalui bukunya Kewirausahaan: “Kiat dan Proses Menuju Sukses” (2013), menyebutkan bahwa entrepreneurship adalah proses yang dilakukan seseorang sebagai upaya untuk menerapkan kreativitas serta inovasi untuk mencari peluang serta pemecahan masalah.

Kedua penjelasan tentang kewirausahaan itu menekankan kata kunci inovasi.

Dengan demikian kewirausahaan itu tidak hanya berlaku pada mahasiswa jurusan ekonomi dan bisnis saja karena ini menyangkut kemampuan memunculkan ide-ide baru, kreativitas dan inovasi.

Hal ini bisa menjelaskan kenapa lulusan perguruan tinggi di bidang pertanian bekerja di dunia perbankan, karena kemampuan menciptakan peluang dari inovasi itu yang diperlukan industri perbankan (tapi juga mereka diperlukan sebab perbankan adakalanya credit exposure nya itu menyasar pada nasabah korporat yang bergerak dibidang pertanian atau perkebunan).

Karena itu status sebagai mahasiswa kedokteran tak menutup peluang untuk tetap berwirausaha. Seperti yang dilakukan oleh mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) pada minggu pertama bulan Januari 2023 menggelar semarak Karya FK Unusa dengan acara bazar kewirausahaan sebagai salah satu mata kuliah kewirausahaan sosial yang ditempuh mahasiswa.

Sebanyak 16 produk yang ikut dalam bazar yang digelar civitas akademika FK Unusa. Ada berbagai macam produk seperti Sooja (susu bonggol Jagung) hingga semir sepatu dari jerami serta berbagai macam produk lainnya.

Wakil Rektor 1 Unusa Prof. Kacung Marijan, mengapresiasi upaya mahasiswa FK. "Ini bagus di mana bisa meningkatkan kemampuan soft skill dari mahasiswa Unusa, jadi tidak hanya bisa menguasai satu ilmu saja tapi ilmu bisnis atau kewirausahaan juga dikuasai mahasiswa kita”.

Memang dalam perkembangan jaman yang semakin modern dan canggih ini suatu pekerjaan memerlukan kolaborasi antar bidang keilmuan.

Mahasiswa fakultas kedokteran misalnya harus memahami tentang ilmu komunikasi yang efektif, memahami consumer behavior atau perilaku konsumen, memahami apa itu strategi deferensiasi, kepemimpinan biaya menyeluruh atau cost leadership, mengetahui pengendalian strategik atau strategic control atas suatu kebijakan yang sudah ditetapkan dan dijalankan dsb. Hal ini juga berlaku bagi mahasiswa-mahasiswa selain jurusan ilmu kedokteran.

Indonesia yang diprediksi akan menjadi negara besar tahun 2045 itu akan terwujud apabila Indonesia tidak hanya mengandalkan pada potensi kekayaan sumber daya alamnya saja, namun harus menyadari untuk mengerahkan potensi bangsa yang menghasilkan produk dan jasa berdasarkan pada kreativitas dan inovasi anak bangsa.

Mengacu pada contoh negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jerman, Jepang, Korea Selatan dan lain-lainnya,--kemajuan negara-negara maju itu Sebagian besar disebabkan karena kreativitas dan inovasi yang dilakukan terus menerus sehingga menghasilkan produk yang punhya nilai tambah.

Singapura dan Jepang merupakan contoh yang bagus untuk dipelajari karena kedua negara ini tidak memiliki sumber daya alam yang besar, namun berkat kreativitas dan inovasi Singapura menjadi salah satu hub atau pusat perdagangan dunia, pusat indusri perbankan dan insurance di kawasan Asia.

Jepang semua orang tahu bahwa negeri ini selalu menciptakan produk-produk dengan teknologi tinggi.

Semoga bangsa dan negara Indonesia fokus pada perkembangan anak-anak mudanya yang memiliki kemampuan berinovasi dengan kreativitas yang mengagumkam.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Ahmad Cholis Hamzah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Ahmad Cholis Hamzah.

Tertarik menjadi Kolumnis GNFI?
Gabung Sekarang

AH
AH
SA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini