5 Perempuan Indonesia di Perusahaan Teknologi Dunia, Ada yang Sudah 18 Tahun Berkarier

5 Perempuan Indonesia di Perusahaan Teknologi Dunia, Ada yang Sudah 18 Tahun Berkarier
info gambar utama

Perempuan berdaya. Perempuan berjaya.

Isu terkait perempuan di dunia teknologi memang masih jadi sorotan. Pasalnya, belum banyak perempuan Indonesia yang menerjukan dirinya sendiri ke bidang yang sejak lama didominasi oleh laki-laki ini.

Tapi proses kesetaraan itu sampai kini ternyata terus berkembang. Pasalnya siapa sangka di antara ribuan diaspora Indonesia di seluruh dunia, lima orang perempuan diantaranya ternyata berhasil menorehkan prestasi yang luar biasa. Bisa banget jadi inspirasi dan motivasi untuk perempuan Indonesia lainnya.

Yuk kenalan dengan lima perempuan perempuan Indonesia di perusahaan raksasa teknologi Indonesia.

Amanda Surya, Lead Technical Program Manager di Google Assistant

Amanda Surya, Head of Engineering Program Management untuk Nest. Sumber Foto: Fatimah Kartini Bohang/Kompas.com
info gambar

11 tahun menjadi Googlers-sebutan untuk pegawai Google-Amanda adalah satu dari 50 orang Indonesia lainnya yang bekerja di kantor pusat Google. Dari sekian diaspora Indonesia tersebut, Amanda adalah salah satu perempuan Indonesia yang menduduki jabatan pekerjaan yang cukup tinggi.

Saat ini Amanda menjabat sebagai Head of Engineering Program Managemen untuk Nest, yakni divisi yang mengembangkan Internet of Things di bawah perusahaan induk Alphabet milik Google.

Perempuan kelahiran Jakarta ini bekerja langsung di kantor pusat Google atau yang kerap disebut Googleplex. Di sana Amanda bertugas menciptakan perabot rumah tangga pintar yang sudah dimodifikasi sesuai dengan perkembangan teknologi.

Dalam wawancara bersama Kompas.com, Amanda mengaku bahwa sebenarnya ia dilamar oleh Google. “Mereka bilang profil saya cocok dengan posisi yang dicari,” katanya.

Amanda merupakan lulusan Bachelor of Science, University of Texas dan melanjutkan pendidikannya di Carnegie Mellon University untuk menempuh Masters Information Systems & Management.

Sebelum berkarir di Google Assistant, Amanda tercatat pernah menjadi Head of Developer Relations untuk Youtube dan Google Wallet. Amanda juga pernah menjadi bagian dari Engineering Program Management di Nest serta VP System Engineering di Bank of America

Moorissa Tjokro, Pencetus Autopilot Software Engineer di Tesla

Moorissa Tjokro (tengah) bersama insinyur lainnya di kantor Tesla, California, Amerika Serikat. Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi Moorissa Tjokro via VOA Indonesia
info gambar

Moorissa Tjokro adalah satu dari enam Autopilot Software Engineer yang bekerja untuk perusahaan Tesla di California. Menariknya lagi, Moorissa adalah satu-satunya perempuan yang mengemban tugas tersebut dalam timnya. Memang betul, profesi seperti ini memang masih jarang ditekuni oleh perempuan.

Moorissa sudah bekerja untuk Tesla sejak 2018 silam. Sebelum dipercaya menjadi Autopilot Software Engineer, Moorissa pernah ditunjuk oleh Tesla untuk jadi bagian dalam tim Data Scientist yang juga menangani perangkat lunak mobil.

Pada hasil wawancaranya bersama VOA Indonesia, Moorissa mengaku bahwa pekerjaan mengevaluasi perangkat lunak autopilot ini memakan jam kerja yang sangat panjang. Jam kerjanya bersama tim bisa menjapai 70 jam dalam sepekan. Kalau dihitung hari kerja Senin-Jumat, artinya Moorissa harus bekerja 14 jam setiap harinya.

Sebelum meniti karir di Tesla, Moorissa yang merupakan lulusan Master of Science di Columbia University ini juga ternyata pernah bekerja di NASA sebagai Machine Learning Researcher.

Nadia Anggraini, Head of Business Planning & Workforce Management di Google Cloud

Nadia Anggraini sempat bolak-balik Indonesia meniti karir sebelum akhirnya jadi eksekutif di salah satu perusahaan di Silicon Valley dunia. Sumber Foto: Dokumentasi pribadi via Linkedin
info gambar

Tak banyak yang tahu tentang perempuan kelahiran Medan ini. Tak banyak juga media yang mewawancarai salah satu anak bangsa yang berhasil meniti karir cemerlang menjadi eksekutif di beberapa perusahaan Silicon Valley dunia ini.

Perempuan lulusan Master of International Policy Studies, Stanford University ini menyebutkan pada lama LinkedIn-nya pernah bekerja di perusahaan Uber salam tiga tahun menjadi Business Intelligence & Operations Lead.

Setelah itu sejak Juli 2020 Nadia meniti karir di kantor Google. Memulai langkah menjadi Business Planning Manager, hingga kini Nadia dipercaya mengemban tugas menjadi Head of Business Planning & Workforce Management di Google Cloud.

Sepanjang karirnya tersebut ternyata Nadia sempat bolak-balik Indonesia setelah lulus kuliah di Wharton School, University of Pennyslvania. Nadia sempat bekerja diperusahaan pembiaayaan mikro, Kiva, di Bali dan bekerja di Jakarta sebagai Rekan Usaha Mikro Anda sebelum akhirnya memilih meraih gelar pendidikan master di Stanford University.

Monica Harjono, Head of Finance Manager Group Microsfoft Corporation

Monica Harjono. Sumber Foto: Wicak Hidayat/KompasTekno
info gambar

Siapa yang menyangka kalau perempuan kelahiran Surabaya ini ternyata sudah berkarir selama 18 tahun di Microsoft Corporation. Monica memulai karir di perusahaan milik Bill Gates ini sebagai akuntan. Hingga akhirnya dipercaya untuk memegang tanggung jawab sebagai Group Finance Manager.

Perjalanan ‘menemukan’ jalur karir bersama Microsoft dilewati Monica dengan jalan penuh liku. Monica pernah bekerja di salah satu korporasi global yang memiliki skandal keuangan di tahun 2000-an, WorldCom. Monica masih ingat kalau itu adalah masa yang sangat menegangkan.

Beruntung Monica kemudian dihubungi oleh head hunter yang menawarkannya pekerjaan di Microsoft, tepatnya di Microsoft Asia Pacific Operations Center di Singapura. Setelah di singapura, Monica juga banyak berhubungan dengan kantor Microsoft di wilayah lain seperti Microsoft di Irlandia, dimana Monica menemukan tambatan hati yang sampai kini menjadi suaminya.

Setelah 2,5 tahun menjadi bagian Microsoft di Singapura, akhirnya Monica ‘bereksplorasi’ merasakan dinamika operasional dan bisnis Microsoft di Eropa, Timur Tengah, dan Afrika. Selama 18 tahun berkarir, sudah 3 benua ia arungi bersama suaminya hingga menjadikannya Monica seperti sekarang.

Monica ini lulusan Universitas Airlangga mengambil jurusan Bachelor of Science, Accounting, dan Finance. Setelah itu Monica merantau untuk mendaftarkan gelar masternya di E-Commerce Business & Technology, University of California.

Renata Aryanti, Director Engineering of the Social Impact Team di Facebook

Renaya Aryanti, pengembang Facebook Lite. Sumber Foto: Foto: Dok. /Her World Indonesia
info gambar

Pengguna smartphone Android, pasti tidak asing dengan aplikasi Facebook Lite. Tapi tahukah Kawan GNFI kalau orang dibalik aplikasi tersebut adalah perempuan asal Indonesia?

Perempuan asal Semarang ini ternyata didapuk sebagai Director Engineering of the Social Impact Team di Facebook, yang mana didominasi oleh para pria di timnya. Tujuan pengembangan Facebook Lite yang dicanangkan oleh Renata ternyata berawal dari kondisi di Indonesia.

Renata mau untuk mereka yang berada di negara berkembang seperti Indonesia untuk tetap saling terhubung dan memberikan kesempatan untuk perekonomian kepada semua orang. Siapa sangka di tahun pertama peluncuran, Facebook Lite jadi salah satu aplikasi Facebook dengan pertumbuhan tercepat hingga mencapai 100 juta pengguna di tahun pertamanya.

Selain mengembangkan produk Facebook Lite, semasa pandemi Covid-19 Renata ternyata pengembang Facebook Group dan Pusat Informasi Covid-19.

Untuk diketahui, Facebook Group adalah salah satu landasan strategi dan misi Facebook yang diumumkan oleh Mark Zuckerberg di acara Facebook Community Summit pada tahun 2017 silam.

Sedangkan fitur Pusat Informasi Covid-19 digunakan untuk memberikan dampak kepada masyarakat dalam memberikan informasi terpercaya mengenai pandemi. Nantinya para pengguna terhubung dengan komunitas seperti pakar kesehatan dan gugus tugas untuk mencegah penyebaran virus corona.

Sumber: JawaPos.com, Kompas.com, HerWorld.co.id, Good News From Indonesia, VOA Indonesia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dini Nurhadi Yasyi lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dini Nurhadi Yasyi.

DY
SA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini