Sungai Musi yang Jadi Denyut Kehidupan Masyarakat Pesisir Sumsel

Sungai Musi yang Jadi Denyut Kehidupan Masyarakat Pesisir Sumsel
info gambar utama

Bagi masyarakat Sumatra Selatan, Sungai Musi dan anak-anak sungainya telah lama berperan besar dalam perjalanan kehidupan warga. Bahkan diyakini keberadaan situs-situs megalitik di kota ini terkait mobilitas manusia prasejarah melalui Sungai Musi.

Kepala Balai Arkeologi Palembang, Nurhadi Rangkuti menjelaskan Sungai Musi menjadi lokasi berkembangnya Kerajaan Sriwijaya, kerajaan maritim yang pernah disegani di Asia Tenggara pada abad ke 7 Masehi.

“Di daerah hulu Sungai Musi terdapat kawasan Basemah (Pasemah) yang menggambarkan kebudayaan masa prasejarah, berupa peninggalan megalitik (batu besar),” ucapnya yang dimuat Kompas.

Asian Games dan Jejak Kehidupan Bahari di Sungai Musi

Dalam penggunaan aksara juga terlihat jelas keterkaitan Sungai Musi dengan kehidupan warga di sekitar DAS, sub-DAS, dan anak-anak sungainya, seperti Empat Lawang, Pagaralam, dan sebagian Musi Rawas.

Di daerah-daerah itu, warga menggunakan aksara yang sama, aksara ulu, yang disebut juga aksara kaganga. Aksara ini pun digunakan masyarakat di sebagian Lampung dan Kerinci, Jambi.

Peran ekonomi

Usman merupakan pedagang keturunan Tionghoa di Pasar 16 llir. Dirinya mengisahkan masa silam Pasar IIir, dari berdagang di rakit, lalu naik ke darat menempati toko buatan Hindia Belanda

“Dari mana modal warga di hulu, transmigran di hilir, kalau bukan dari tauke 16 IIir? Ketika musim tanam dimulai atau butuh modal untuk bibit karet, mereka datang,” katanya.

Sementara itu Didi Kwartanada dalam tulisan di buku Orang Cina, Bandar Tol, Candu, dan Perang Jawa karya Peter Carey menjelaskan posisi orang Tionghoa seperti Usman. Disebutnya mereka adalah ceruk perantara dalam sistem ekonomi.

Sungai Terpanjang di Asia Tenggara

Sungai Musi yang menjadi jalur utama transportasi barang dan penumpang di Sumsel. menjadikan pasar tersebut hidup berabad-abad. Apalagi 400 kilometer dari 640 km panjang Musi dapat dilayari.

Melalui Sungai Musi dan anak-anak sungai, barang akan bergerak dengan perahu pedagang dan pembeli menuju pemukiman penduduk di pedalaman. Musi kemudian menjadi urat nadi kehidupan dan pemasok segala macam barang.

“Pemerintah pernah berencana memindahkan Pasar 16 IIir ke Jakabaring, Palembang. Namun, hal itu sulit direalisasikan karena 16 IIir tak mungkin hidup tanpa Musi sebagai urat nadi distribusi barang,” kata juragan beras Pasar 16 IIir, Ken Krismadi.

Sudah mulai surut

Peran Sungai Musi dan beberapa anak sungainya dalam pergerakan penduduk, perdagangan, dan pengiriman barang masih tetap besar. Kebanyakan barang kini diantar melalui jalur darat.

“Setelah banyak jalan beraspal, mengirim barang lebih cepat dan aman melalui jalan darat,” kata M Sidik, warga Kelurahan Muara Kelingi.

Namun untuk warga Palembang dan sekitarnya, Sungai Musi tetap menjadi andalan. Barang kebutuhan pokok mengalir dari Pasar 16 IIir, Palembang ke daerah-daerah pedalaman yang belum memiliki jalan darat.

Indonesia Punya Banyak Sungai Bersih nan Memukau, Ini 3 di Antaranya

Melalui Sungai Musi pula, bahan bakar minyak yang dihasilkan kilang minyak Sungai Gerong dan Plaju, pupuk dari PT Pupuk Sriwijaya, tandan buah segar sawit, minyak mentah sawit dan produk turunannya dikirim dari Palembang melalui Selat Malaka.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini