Dijuluki “Mother of Spices”, Tapi Indonesia Bukan Konsumen Rempah Terbesar Dunia

Dijuluki “Mother of Spices”, Tapi Indonesia Bukan Konsumen Rempah Terbesar Dunia
info gambar utama

Indonesia diketahui sebagai rumah dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. Diketahui 11 persen spesies tumbuhan di seluruh dunia ditemukan di hutan tropis di seluruh wilayah Indonesia.

Dari persentase tersebut tercatat ada sekitar 30 ribu spesies tanaman yang sebagian besar adalah rempah-rempah.

Kalau Indonesia punya 17.000 pulau itu artinya sedikitnya ada 17.000 rempah dari setiap wilayah Indonesia. Masing-masing pulau itu pasti punya rempah endemik yang jadi sumber utama. Hal inilah yang buat Indonesia jadi salah satu penghasil dan pengekspor rempah-rempah terbesar di dunia.

Dalam perjalanan sejarahnya, Indonesia memang negeri yang kaya akan rempah. Pada masa perdagangan laut dulu, Indonesia adalah negara penghasil rempah terpenting di dunia. Jadi tak heran kalau rempah-rempah masuk ke dalam makanan sehari-hari warga Indonesia selama berabad-abad.

Reputasi Indonesia menjadi penghasil utama rempah-rempah karena garis pantainya yang panjang yang menghasilkan tanaman asli dari negara di setiap wilayah sepanjang garis tersebut.

Tak aneh juga kalau orang Indonesia berwisata ke luar negeri, saat mencicipi makanan khas lokal negara tersebut selalu merasak, “Kurang asin”, “Kurang berasa”, “Kok hambar?” Itu karena lidah kita sudah terbiasa dengan makanan yang penuh dengan rasa karena kehadiran rempah.

Mengutip data Badan Koordinasi Penanaman Modal, Kementerian Investasi Indonesia, Indonesia termasuk negara terbesar keempat di dunia sebagai eksportir rempah. Nilai ekspornya bisa mencapai $500 juta per tahun atau setara dengan lebih dari Rp7,8 triliun.

Salah satu rempah terbaik yang ekspor Indonesia adalah lada. Diketahui Indonesia adalah eksportir lada terbesar kedua di Indonesia disusul Vietnam. Selain lada, ekspor remah utama Indonesia lainnya adalah pala, cengkeh, lada putih, kayu manis, kapulaga, jahe, kunyit, bunga lawang, merica, pala, ketumbar, kemiri, dan masih banyak lainnya

Negara importirnya mayoritas dari Amerika Serikat, China, India, Vietnam, dan Belanda . Hingga akhir tahun 2020 nilai ekspor rempah-rempah tersebut tercatat mencapai $1,02 miliar atau setara hampir Rp16 triliun. Angka tersebut ditargetkan naik dua kali lipat pada tahun 2024 mendatang.

Sayangnya, dengan jumlah rempah yang sangat melimpah itu, Indonesia ternyata belum termasuk negara dengan konsumsi rempah terbesar di dunia. Meski masih masuk dalam 10 besar negara konsumsi rempah terbesar di dunia, secara jumlah konsumsi Indonesia ternyata masih jauh dibandingkan India. Bahkan angka konsumsinya juga masih di bawah Thailand jika dibandingkan dengan negara Asia Tenggara.

Mengutip survei yang diterbitkan Helgi Library, pada tahun 2019 ada 139 negara di dunia untuk survei konsumen rempah terbanyak di dunia. Dari hasil survei tersebut ternyata India adalah negara dengan konsumsi rempah terbesar di dunia dengan jumlah konsumsi sebanyak 4.065 kiloton (kt). Setelah India, ada Bangladesh dan Ethiopia.

Sedangkan Indonesia berada di posisi ke-6 dengan jumlah konsumsi tidak sampai 500 kt. India, yang menempati posisi pertama tercatat mengkonsumsi 38,5% rempah global dengan catatan bahwa rempah global tersebut juga diimpor dari Indonesia.

India sendiri merupakan negara tujuan utama ketiga ekspor rempah Indonesia. Pada Januari-Agustus 2021, ekspor rempah Indonesia ke India sebesar $74,53 juta dengan produk utama pala, cengkeh, lada, lada hitam, dan kunyit.

Secara nilai ekonomi, ini tentu sangat menguntungkan Indonesia. Pada perhelatan World Expo 2020 di Dubai juga Indonesia menjagokan pameran rempah nusantara dengan program “Spice Up The World”.

Program tersebut dilaksanakan karena minimnya pengakuan terhadap rempah-rempah asli Indonesia dengan potensi pasar yang tinggi. Tampaknya negeri ini akan mengedepankan ekspor terlebih dahulu ya dibandingkan konsumsi dalam negeri.

Sumber: HelgiLibrary.com, Seasia.co, BKPM.go.id, AntaraNews.com, Bisnis.com

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dini Nurhadi Yasyi lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dini Nurhadi Yasyi.

Terima kasih telah membaca sampai di sini