Melokal Banget! Menteri Malaysia Pidato Pakai Bahasa Jawa di Parlemen

Melokal Banget! Menteri Malaysia Pidato Pakai Bahasa Jawa di Parlemen
info gambar utama

“Kerajaan negeri telah dan akan terus secara konsisten membantu bangsa Johor, tanpa memandang etnis, agama, derajat, maupun keturunan,” begitulah ungkap Menteri Besar Johor, Datuk Onn Hafiz Ghazi di hadapan parlemen negara bagian itu.

“We are truly a colour blind state then it comes to helping the people of bangsa Johor,” tambahnya lagi dengan bahasa Inggris.

“Atau dalam bahasa lain, dengan izin Yang Mulia Datuk Ketua, kito ikhi buto warno. Kabeh podo wae,” lanjutnya kemudian mencampur dengan bahasa Jawa.

Sontak pernyataan pendek berbahasa Jawa itu menimbulkan reaksi di ruangan parlemen. Terlihat dari video yang diunggah oleh akun Instagram @viralpressid, peserta yang hadir di sana melengkungkan senyum.

Terlebih setelah ketua sidang bertanya kepada Ghazi untuk mengkonfirmasi.

“Cakap Jawa ke tu Yang Berhormat?” Ini kemudian kembali dijawab Ghazi, “Saya coba.”

Mengutip hasil penelusuran CNBC Indonesia dari akun Twitter pribadi @onnhafiz, Ghazi ternyata tak hanya berbicara dalam bahasa Jawa saja, ia juga mencoba berbicara dalam bahasa China dan Tamil. Ini seolah selaras dengan pernyataan pidato yang disampaikannya yang mengkampanyekan keberagaman.

Pidato parlemen itu diketahui dilakukan Ghazi di hadapan parlemen pada 11 Desember 2022 lalu. Ini tersampaikan dari cuitan dalam akun pribadinya itu yang mengatakan, “Saya baru sahaja menyampaikan ucapan penggulungan (terakhir) di sidang Dewan Negeri Johor yang Ke-15. Benjawan Johor 2023 yang bertemakan ‘Maju Johor: Makmur Bersama Rakyat’ juga telah diluluskan dengan sokongan majoriti (mayoritas) Ahli-Ahli Dewan Undangan Negeri (ADUN) Johor.”

Etnis Jawa Ternyata Banyak Tinggal di Negara Bagian Johor

Sejarah panjang migrasi orang Indonesia ke Malaysia sejak masa kolonial Eropa ternyata membuat etnis Jawa di Malaysia termasuk yang paling banyak. Mayoritas warga keturunan Jawa di Malaysia berada di Selangor, Perak, dan Johor, tempat Ghazi memimpin sekarang.

Awal mula proses migrasi orang Jawa ke Malaysia tercatat pada tahun 1500 untuk kepentingan pengiriman tenaga kerja perkebunan kelapa sawit atau karet di Semenanjung Malaya.

Seiring berjalannya waktu, perusahaan perkebunan terus mengalami perkembangan sehingga Inggris terus membuka perekrutan untuk orang Jawa yang ingin bekerja di sana. Kala itu orang Jawa memang jadi salah satu sasaran utama pemerintah kolonial karena terkenal akan kuantitas jumlah penduduknya yang banyak dan secara kualitas dianggap mampu melakukan pekerjaan kasar.

Migrasi tenaga kerja tercatat terus berlangsung hingga abad ke-20 dah salah satu wilayah yang banyak mengirimkan penduduknya adalah Klaten, Jawa Tengah.

Hingga kini, belum diketahui secara pasti berapa jumlah orang Jawa dan keturunannya karena sensus penduduk di Malaysia tak memasukkan Jawa sebagai salah satu kategori.

Untuk diketahui, Konstitusi Negara Malaysia menganggap orang sebagai Melayu adalah sebagai berikut:

“Orang Melayu berarti seseorang yang menganut agama Islam, lazim bercakap bahasa Melayu, menurut adat Melayu, dan lahir sebelum hari merdeka di Persekutuan atau Singapura atau yang lahir sebelum hari merdeka dan ibu atau bapaknya telah lahir di Persekutuan atau Singapura, atau yang pada hari merdeka berdomisili di Persekutuan atau Singapura, atau ialah zuriat (dari perkawinan) seseorang yang sedemikian.”

Namun, ketika berkunjung ke Negara Bagian Selangor, Perak, dan Jahar, jangan heran kalau bahasa Jawa ternyata dijadikan sebagai bahasa sehari-hari di sana.

Sumber: CNBC Indonesia, CNN Indonesia, Kompas.com, Lombok Post

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dini Nurhadi Yasyi lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dini Nurhadi Yasyi.

Terima kasih telah membaca sampai di sini