5 Masjid Tertua di Indonesia yang Masih Kokoh Berdiri

5 Masjid Tertua di Indonesia yang Masih Kokoh Berdiri

5 Masjid Tertua di Indonesia yang Masih Kokoh Berdiri

Masih banyak yang mengira bahwa Masjid Agung Demak (Jawa Tengah) adalah masjid tertua di Indonesia.  Di Indonesia, masjid bersejarah ini memang masuk dalam 5 masjid tertua yang masih berdiri di Indonesia, namun bukanlah yang tertua. Bahkan di tanah Jawa terdapat masjid yang berdiri sebelum kerajaan Majapahit berdiri! Ini juga berarti bahwa masjid ini berdiri sebelum kehadiran Wali Songo untuk menyebarkan Islam di tanah Jawa. Nah, kami merangkum 5 masjid tertua di Indonesia, yang masih berdiri tegak, dan masih dipergunakan untuk aktifitas ibadah sehari-hari. Semoga bermanfaat.
  1. Masjid Agung Sang Ciptarasa, Cirebon, Jawa Barat (1478)
 
Masjid Agung Sang Ciptarasa - Cirebon,
Masjid ini  berada di kawasan Keraton Kesepuhan Cirebon. Dibangun atas usulan dari Dewi Pakungwati, Istri pertama (permaisuri) Sunan Gunung Jati, selaku Sultan pertama Kesultanan Cirebon. Sunan Gunung Jati yang kemudian membangun masjid ini di tahun 1478 atau setahun setelah pembangunan Masjid Agung Demak dengan dukungan dari para wali dan Raden Fatah, Sultan pertama Kesultanan Demak. Kontraktornya adalah Sunan Kalijaga, dan arsiteknya adalah Raden Sepat yang sebelumnya juga merancang Masjid Agung Demak. Banyak yang menyebut masjid Agung Sang Ciptarasa ini sebagai pasangan Masjid Agung Demak. karena memang pada saat pembangunan masjid yang di  Demak sedang berlangsung, Sunan Gunung Jati memohon kepada Raden Fatah untuk membangun pasangan masjid tersebut di Cirebon. Bangunan induk masjid ini berukuran 20x20 meter dengan atap limas berususun tiga mirip seperti Masjid Agung Demak, namun denah atap dan bangunannya tidak bujur sangkar tapi empat persegi panjang, konon bentuk tersebut mewakili sifat feminimnya, untuk membedakan dengan pasangannya di Demak yang berwatak Maskulin.
  1. Masjid Agung Demak, Demak, Jawa Tengah (1477)
 
Masjid Agung Demak, Masjid tertua ke empat
Masjid ini adalah masjid tertua keempat di Indonesia. Terletak di desa Kauman, Demak, Jawa Tengah.  Dipercaya sebagai tempat berkumpulnya Walisongo di masa lalu, untuk membahas berbagai isu, terutama dalam rangka penyebaran agama Islam di Pulau Jawa. Pendiri masjid ini diperkirakan adalah Raden Patah, sultan pertama Kesultanan Demak, pada sekitar abad ke-15 Masehi. Di dalam lokasi kompleks masjid terdapat beberapa makam sultan Kesultanan Demak dan para pembantunya. Kisah tutur yang paling terkenal terkait pembangunannya adalah pembuatan salah satu sokogurunya yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga dengan menggunakan tatal (serpihan kayu) jati yang kemudian dirangkainya menjadi satu menjadi sebatang sokoguru yang solid sama dengan sokoguru sokoguru lainnya yang disiapan oleh para sunan yang lain. Masjid ini menjadi cikal bakal bangunan masjid di Nusantara yang menggunakan atap limas bersusun. Arsitektur ini kemudian banyak ditiru dan menyebar ke seluruh Nusantara, tidak saja di Indonesia tapi juga hingga ke Malaysia, Thailand hingga Brunei Darussalam. Bebeberapa masjid megah yang baru dibangun di berbagai daerah Indonesia turut mengadopsi Arsitektural masjid ini. Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila telah menjadikah bentuk masjid ini sebagai model bagi seribu lebih bangunan masjid yang dibangunnya diseluruh wilayah Nusantara.
  1. Masjid Sunan Ampel, Surabaya, Jawa Timur (1421)
 
Masjid Sunan Ampel, masjid tertua ke tiga di Indonesia
Banyak orang Surabaya yang tak menyadari bahwa masjid ini masuk dalam daftar masjid tertua di Indonesia. Bahkan ada di urutan ke-3. Masjid ini didirikan oleh Raden Achmad Rachmatullah pada tahun 1421, di dalam wilayah kerajaan Majapahit, dibangun dengan arsitektur Jawa kuno, dengan nuansa Arab yang kental. Raden Achmad Rachmatullah yang lebih dikenal dengan Sunan Ampel wafat pada tahun 1481. Makamnya terletak di sebelah barat masjid. Di komplek pemakaman masjid Sunan Ampel juga terdapat makam Mbah Sonhaji atau Mbah Bolong dan juga makam Mbah Soleh, pembantu Sunan Ampel yang bertugas membersihkan masjid.  Di kompleks tersebut terdapat juga makam seorang pahlawan nasional, KH. Mas Mansyur, kondisinya sangat bersahaja, setara dengan makam-makam keluarganya yang hanya ditandai sebuah batu nisan di atas tanah yang datar. Sepi dari peziarah. Di dekat makam Mbah Bolong (Mbah Sonhaji) terdapat 182 makam syuhada haji yang meninggal dalam musibah jemaah haji Indonesia di Maskalea-Colombo, Sri Lanka pada 4 Desember 1974.
  1. Masjid Wapauwe, Maluku Tengah, Maluku (1414)
 
Masjid Wapauwe, Masjid tertua ke-dua di Indonesia
Masjid ini berada di Desa Kaitetu, Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku, dibangun tahun 1414 Masehi. Hingga kini masih berdiri kokoh dan menjadi bukti sejarah Islam masa lampau di kepulauan Maluku. Untuk mencapai desa Kaitetu dari pusat Kota Ambon kita bisa menggunakan transportasi darat dengan menempuh waktu satu jam perjalanan. Bertolak dari Kota Ambon ke arah timur menuju Desa Passo. Di simpang tiga Passo membelok ke arah kiri melintasi jembatan, menuju arah utara dan melewati pegunungan hijau dengan jalan berbelok serta menanjak. Masjid Wapauwe masih dipertahankan arsitektur aslinya, berdiri di atas sebidang tanah yang oleh warga setempat diberi nama Teon Samaiha. Konstruksinya berdinding gaba-gaba (pelepah sagu yang kering) dan beratapkan daun rumbia. Bangunan induk masjid hanya berukuran 10 x 10 meter, sedangkan bangunan tambahan yang merupakan serambi berukuran 6,35 x 4,75 meter. Bangunannya berbentuk empat bujur sangkar. Bangunan asli pada saat pendiriannya tidak mempunyai serambi. Meskipun kecil dan sederhana, masjid ini mempunyai beberapa keunikan yang jarang dimiliki masjid lainnya, yaitu konstruksi bangunan induk dirancang tanpa memakai paku atau pasak kayu pada setiap sambungan kayu. Di masjid ini tersimpan dengan baik Mushaf Alquran yang konon termasuk tertua di Indonesia. Yang tertua adalah Mushaf Imam Muhammad Arikulapessy (imam pertama majid Wapauwe) yang selesai ditulis (tangan) pada tahun 1550 dan tanpa iluminasi (hiasan pinggir). Sedangkan Mushaf lainnya adalah Mushaf Nur Cahya yang selesai ditulis pada tahun 1590, dan juga tanpa iluminasi serta ditulis tangan pada kertas produk Eropa.
  1. Masjid Saka Tunggal Banyumas (1228M)
 
Masjid Tertua di Indonesia Versi Bujangmasjid
Masjid Saka Tunggal Baitussalam berada di Desa Cikakak, Kecamatan Wangon Banyumas, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah. Tepatnya berada di titik koordinat geografi 7°28'26.05"S 109° 3'20.32"E. disebut Saka Tunggal karena masjid ini hanya memiliki satu tiang penyangga tunggal. Saka tunggal yang berada di tengah bangunan utama masjid, saka dengan empat sayap ditengahnya yang akan nampak seperti sebuah totem, bagian bawah dari saka itu dilindungi dengan kaca guna melindungi bagian yang terdapat tulisan tahun pendirian masjid tersebut. Masjid ini menjadi satu satunya masjid di pulau Jawa yang dibangun jauh sebelum era Wali Sembilan (Wali Songo) yang hidup sekitar abad 15-16M. Sedangkan masjid ini didirikan tahun 1288 Masehi sebagaimana tertulis di prasasti yang terpahat di saka masjid itu. lebih tua dari kerajaan majapahit yang berdiri tahun 1294 Masehi. Diperkirakan masjid ini berdiri ketika masa kerajaan Singasari, 2 abad sebelum Wali Songo. Sekaligus menjadikannya sebagai Masjid Tertua di Indonesia. Sejarah masjid ini terkait dengan tokoh penyebar Islam di Cikakak, bernama Mbah Mustolih yang hidup dalam Kesultanan Mataram Kuno. Itu sebabnya, tidak heran bila unsur Kejawen masih cukup melekat. Dalam syiar Islam yang dilakukan, Mbah Mustolih memang menjadikan Cikakak sebagai pusatnya, dengan ditandai pembangunan masjid dengan tiang tunggal tersebut.  Beliau dimakamkan tak jauh dari masjid Saka Tunggal. (Dikumpulkan dari berbagai sumber)

Pilih BanggaBangga55%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang6%
Pilih Tak PeduliTak Peduli3%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi10%
Pilih TerpukauTerpukau26%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Antara Rupiah dan Java Jazz Sebelummnya

Antara Rupiah dan Java Jazz

Peringati Hari Gunung Sedunia, Mapala UMN Terapkan Konsep Less Waste Pada Pendakian Perdananya Selanjutnya

Peringati Hari Gunung Sedunia, Mapala UMN Terapkan Konsep Less Waste Pada Pendakian Perdananya

Akhyari Hananto
@akhyari

Akhyari Hananto

http://www.goodnewsfromindonesia.org

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to understand it. My banking career continued in Yogyakarta when I joined in a program funded by the Asian Development Bank (ADB),as the coordinator for a program aimed to help improve the quality of learning and teaching process in private universities in Yogyakarta. When the earthquake stroke Yogyakarta, I chose to join an international NGO working in the area of ?disaster response and management, which allows me to help rebuild the city, as well as other disaster-stricken area in Indonesia. I went on to become the coordinator for emergency response in the Asia Pacific region. Then I was assigned for 1 year in Cambodia, as a country coordinator mostly to deliver developmental programs (water and sanitation, education, livelihood). In 2009, he continued his career as a protocol and HR officer at the U.S. Consulate General in Surabaya, and two years later I joined the Political and Economic Section until now, where i have to deal with extensive range of people and government officials, as well as private and government institution troughout eastern Indonesia. I am the founder and Editor-in-Chief in Good News From Indonesia (GNFI), a growing and influential social media movement, and was selected as one of The Most Influential Netizen 2011 by The Marketeers magazine. I also wrote a book on "Fundamentals of Disaster Management in 2007"?, "Good News From Indonesia : Beragam Prestasi Anak Bangsa di dunia"? which was luanched in August 2013, and "Indonesia Bersyukur"? which is launched in Sept 2013. In 2014, 3 books were released in which i was one of the writer; "Indonesia Pelangi Dunia"?, "Indonesia The Untold Stories"? and "Growing! Meretas Jalan Kejayaan" I give lectures to students in lectures nationwide, sharing on full range of issues, from economy, to diplomacy

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.