Dolly, kawasan prostitusi terbesar se-Asia Tenggara menjadi perjalanan sejarah perubahan yang inspiratif dan menarik bagi Jarwo Susanto dan eks PSK Dolly bernama munasifah. Jarwo Susanto hidup di dolly sejak lahir tahun 1980. Sejak kecil jarwo mengetahui kondisi dolly yang saat itu aktif prostitusi bersama ribuan PSK, ratusan mucikari dan ribuan pengunjung pencari pemuas nafsu. Sedangkan munasifah sempat berprofesi sebagai PSK di dolly.

Jarwo Susanto berjualan kopi dengan warung nya sendiri sejak tahun 1999, berusia 19 tahun hingga 34 tahun yakni pada saat penutupan lokalisasi dolly tanggal 18 juni 2014. Penghasilannya sehari-hari bisa mencapai Rp 400.000,- per hari dari total 14 jam jualannya mulai jam 14.00-04.00. Penjaga warung kopi pun dibuat 2 shift karena memang begitu ramanya pengunjung dolly saat masih aktif.

Munasifah datang ke surabaya pada tahun 2012 untuk mencari pekerjaan. Ia berharap dengan kehadirannya di Surabaya bisa mendapatkan pekerjaan yang layak dan bisa melunasi hutang di kampung sebesar 12 juta. Ia menghubungi temannya di surabaya dan ditawari pekerjaan oleh temannya. Munasifah mengiyakan penawaran pekerjaan dari temannya. Sesampainya di lokasi, munasifah merasa terjebak untuk menjadi tunasusila dan tidak bisa keluar dari lingkaran prostitusi dolly. Sehingga dengan terpaksa, eva, sapaan akrabnya berprofesi menjadi PSK di Dolly yang berlangsung selama 8 bulan.

Jarwo dan munasifah berada dalam satu kawasan yang sama bernama gang dolly. Jarwo berjualan di pinggir jalan kawasan gang dolly sedangkan Munasifah menjadi penghuni salah satu wisma di deretan jalan besar di gang dolly. Berdua sering bertemu di warung kopi dan munasifah menjadi pelanggan setia warung kopi Jarwo.

Pelanggan kopi jarwo beragam, mulai dari warga dolly, lelaki hidung belang, mucikari hingga PSK. Salah satu pelanggan warung kopi jarwo berprofesi sebagai PSK adalah eva. Kedekatan itu pun berlanjut hingga keseriusan jarwo berani untuk menikahi eva. Jarwo mengetahui profesi eva sebagai PSK namun jarwo dan keluarga tidak mempermasalahkan status tersebut. Ketika jarwo menikahi eva, profesi sebagai PSK pun dihentikan. Mereka menikah pada desember 2012 dan melanjutkan pekerjaan sebagai penjual kopi di kawasan gang dolly.

Pada tanggal 18 juni 2014, penutupan eks lokalisasi dolly terjadi di Islamic Center dan hal ini berdampak pada penutupan warung kopi jarwo yang mengakibatkan jarwo harus memutar otak untuk mendapatkan penghasilan. Jarwo merupakan salah satu aktivis kontra penutupan eks lokalisasi dolly, melawan kebijakan pemerintah untuk menutup dolly. 

Jarwo dan munasifah pasrah terhadap keadaan yang tidak memungkinkan dolly aktif kembali dan harus beralih profesi dari penjual kopi menjadi usaha yang lain. Sepasang suami istri ini sepakat untuk membuat usaha tempe guna membutuhi kebutuhan hidup sehari-harinya.

Usaha tempe tersebut bernama tempe bang jarwo yang dijalankan bulan desember 2014 hingga saat ini. Tempe bang jarwo menargetkan tahun 2016 ini mencapai 250 juta. Perubahan bang jarwo dan eva tidaklah begitu mulus, ada saja tawaran dari orang-orang untuk kembali pada masa lalu namun dapat ditolak oleh keduanya karena merasa rugi untuk kembali kepada masa lalu.


Sumber : wawancara langsung
Sumber Gambar Sampul : realita.co

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu