Penghargaan Pushkin Institute Untuk Penyair Indonesia ini

Penghargaan Pushkin Institute Untuk Penyair Indonesia ini
info gambar utama

Penyair Iwan J Kurniawan meraih penghargaan sastra pada Festival Pemuda Internasional 2016 di Pushkin Institut, Moskow, Rusia, pada 18-22 April lalu.

“Saya senang karena ikut berkontribusi bersama tim saya di festival internasional. Festival ini mengusung tradisi dan sastra Rusia. Ada pembacaan puisi, seminar, hingga kompetisi,” ujar Iwan dalam pembicaraan dari Moskwa, Rusia, kemarin.

Iwan mendapatkan undangan untuk menghadiri Kompetisi Sastra dan Tradisi Rusia di festival tersebut bersama peserta lain dari 25 negara. Lewat ajang itu, dia berhasil meraih penghargaan sebagai juara kedua bersama teman-temannya mewakili Kutafin Moscow State Law University. Dia ikut berkontribusi besar pada festival sastra bergengsi di Rusia tersebut.

Juara pertama ditempati peserta (tim) dari Pushkin Institut yang memang jago dalam urusan sastra dan literasi Rusia. Sementara, tempat ketiga disabet tim dari Moscow State University of Design and Technology.

Iwan J Kurniawan | foto Istimewa
info gambar

Pemilik buku kumpulan puisi Rontaan Masehiitu kian memperpanjang deretan penyair Indonesia yang pernah mengikuti festival di Eropa Timur, khususnya Rusia. Sebut saja WS Rendra (alm) dan Utui Tatang Sontani (alm).

Pada Festival Pemuda Internasional tersebut, Iwan berkolaborasi dengan timnya dari berbagai negara. Antara lain, Denalda Daci (Albania), Jittapat Saengvisuth (Thailand), Nasanjargal Ganbaatar (Mongolia), Eduart Voska (Albania), dan Vanessa Dawkins (Jamaika).

Puskin Prize

Iwan menuturkan, Kompetisi Sastra dan Tradisi Rusia cukup menantang. Pasalnya, ada berbagai pertanyaan seputar budaya, sastra, dan geografi. “Pada tema sastra, misalnya, ada ulasan tentang novel-novel karya Leo Tolstoy dan Fyodor Dostoyevsky, serta puisi-puisi karya A S Pushkin,” paparnya.

Tak dinyana, Tolstoy terkenal dan kental dalam mengangkat tema kelas sosial lewat novel-novelnya. Salah satu yang mendunia dan telah difilmkan, yaitu Voyna i Mir (Perang dan Damai. Sementara, Dostoyevsky begitu kental lewat karya-karya tentang hukum. Salah satunya, yaitu Prestupleniye i nakazaniye (Kejahatan dan Hukuman).

Literasi klasik Rusia sangat kental dengan persoalan kemanusiaan. “Ini membuat saya dan teman-teman tertarik untuk mengikuti festival itu setelah diundang pihak Pushkin Institut. Apresiasi masyarakat Rusia terhadap sastra pun sangat tinggi,” tandas Iwan.

Koran Jakarta

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Akhyari Hananto lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Akhyari Hananto.

Terima kasih telah membaca sampai di sini