Lupa Sandi?

Melihat Afrika Selatan Lebih Dekat Sebagai Saudara Tak Serumpun Indonesia

Abd Hamid Zainal
Abd Hamid Zainal
0 Komentar
Melihat Afrika Selatan Lebih Dekat Sebagai Saudara Tak Serumpun Indonesia

Bisa berkunjung ke luar negeri adalah impian untuk semua orang. Berlibur dan menghabiskan waktu sambil menikmati keindahan kota-kota di luar negeri memang sangat menggiurkan apalagi kota yang kita kunjungi tersebut adalah kota-kota besar nan indah seperti Paris, New York, Tokyo, Sidney dan lain-lainnya yang sudah terkenal seantero negeri. Namun apa jadinya jika kita mengunjungi negeri yang sangat jauh dari tujuan destinasi orang pada umumnya ? Afrika! Ya, salah satu benua terbesar ini memang tidak sepopuler 4 benua lainnya sebagai tempat destinasi. Mendengar kata Afrika, pandangan umum bagi sebagian orang ialah negara tersebut dihuni oleh sebagian besar orang kulit hitam, tempat populasi terbesar hewan buas, negaranya kumuh dan jauh dari kesan metropolitan dan lain sebagainya. Namun ternyata benua yang berbatasan langsung dengan Eropa dan Asia ini banyak menyimpan keindahan alam. Capetown, menjadi salah satu tempat yang sangat indah dan populer karena disinilah bapak revolusioner anti-apertheid Nelson Mandela ditahan selama kurang lebih 20 tahun. Selain itu, antara Indonesia dan Afrika Selatan ternyata memiliki banyak ikatan yang sangat erat. Hubungan bilateral keduanya dibangun sejak tahun 1994. Namun jauh sebelumnya, antara Indonesia dan Afrika Selatan ternyata telah memiliki hubungan sejarah yang sangat kental. Syekh Yusuf menjadi sosok yang sangat berpengaruh di kedua Negara ini beratus-ratus tahun yang lalu. Berkesemptan mengunjungi Capetown adalah kebanggan tersediri untuk saya. Ditambah kedatangan kami kesana bukanlah sekedar liburan, melainkan dengan tujuan menapaktilasi pahlawan 2 negara (Indonesia-Afrika Selatan) yang berasal dari Gowa, yakni Tuanta Salamaka Syeikh Yusuf Al-Maqassarri (klik disini)

Makam Syekh Yusuf di Macassar Village
Makam Syekh Yusuf di Macassar Village

Menempuh kurang lebih 17 jam perjalanan (2 jam Makassar-Jakarta, 2 jam Jakarta-Singapur, 12 jam Singapur-Johanesburg dan 1,5 jam Johanesburg-Capetown), akhirnya kami tiba di Capetown dengan disambut udara pagi yang sejuk. Dari bandara, kami langsung bertolak ke Macassar Village dimana Syekh Yusuf dimakamkan. Macassar Village merupakan daerah muslim di Capetown yang letaknya sekitar 45 menit dari pusat kota. Disini, kami disambut dengan hangat oleh penduduk setempat yang menamai dirinya sebagai Cape-Malay, atau orang Capetown keturunan Malay atau Indonesia. Sejarah Cape Malay sendiri ialah orang-orang keturunan Indonesia yang dibuang ke Capetown dalam hal ini Syekh Yusuf yang diasingkan ke Capetown bersama 49 pengikutnya pada masa era colonial Belanda. Oleh karena itu mereka merasa sangat bahagia jika ada orang Indonesia, orang Gowa pada khususnya mengunjungi mereka karena dianggap sebagai keturunan dari Tuanta Salamaka Syekh Yusuf Al-Maqassari. Kunjungan kami ke makam Syekh Yusuf makin berkesan karena bertepatan dengan adanya kegiatan zikir bersama dan debus di kompleks makam Syekh Yusuf. Di tempat ini kami bertemu dengan Imam Adam yang merupakan salah satu Imam besar di Capetown dan juga Eibrahim Rhoda, salah satu sejarawan. Beliau menceritakan bagaimana sosok Syekh Yusuf dimata para keturunannya di Afrika Selatan, khususnya di Macassar Village. Syekh Yusuf merupakan sosok yang sangat berpengaruh di Afrika Selatan, karena beliaulah yang pertama kali menyebarkan agama Islam di Afrika Selatan, khususnya di Capetown. Dari makam Syekh Yusuf, kami berkunjung kerumah Imam Adam yang letaknya tak jauh dari makam Syek Yusuf.

Keesokan harinya, kami berkunjung ke kantor parlement dan kantor walikota Capetown. Karena Capetown merupakan ibu kota legislatif dari Afrika Selatan, maka disinilah dilaksanakan pertemuan dari 9 provinsi di Afrika Selatan untuk mendiskusikan dan mengesahkan perundang-undangan demi menampung aspirasi dan kebijakan nasional dari tiap-tiap provinsi. Di parlement ini juga Nelson Mandela dilantik sebagai presiden Afrika Selatan pertama yang dipilih secara demokrasi di Afrika Selatan ditahun 1994, tepatnya di ruangan National Assembly Chamber.  

Dari kantor parlement, kami bertolak ke kantor walikota dan bertemu dengan bapak walikota  walikota Capetown, Ia Douglas Nelson. Wakil walikota menyebutkan bahwa antara Capetown dan Indonesia, khususnya Gowa memiliki kesamaan sejarah dan budaya. Hal ini bisa dilihat dari sosok Syekh Yusuf yang lahir di Gowa dan wafat di Capetown. Selain itu banyaknya persamaan kosa kata antara Capetown dan Indonesia juga merupakan salah satu bukti eratnya hubungan antara kedua tempat ini, misalnya kata pisang, jenazah, terimakasih, dan lain sebaginya yang juga dipakai dalam bahasa Afrika. Dalam kesempatan inidelegasi juga menyampaikan keinginannya untuk menjadikan Capetown dan Gowa sebagai Sister City dengan pertama-tama membangun sebuah tugu dalam hal ini Balla Lompoa di Capetown. Hal ini ditangapi positif oleh wakil walikota dan akan membicarakanya lebih lanjut dengan wali kota Capetown. Mengakhiri perjalanan hari ini, kami mengunjungi Table Mountain National Park yang merupakan salah satu destinasi paling populer di Afrika Selatan. Disebut sebagai Table Mountain karena bentuknya yang menyerupai sebuah meja. Untuk naik di gunung, kami menaiki alat trasportasi yang disebut Cablecars. Dari puncak Table Mountain, kami bisa melihat keindahan kota Capetown dan laut biru yang begitu indah. 

Baca Juga
Pemandangan kota Capetown dari Puncak Table Mountain
Pemandangan kota Capetown dari Puncak Table Mountain

Dihari ketiga, kami berkunjung kerumah sendiri (read: Konsulat Jenderal Republik Indonesia) dengan perjalanan kurang lebih 40 menit dari hotel. Di KJRI kami disambut hangat oleh Bapak Riyadi selaku Acting Consulat dan para staf. Suasana Indonesia semakin terasa karena pada saat itu, hampir semuanya memakai batik, baik rombongan maupun pihak KJRI. Dari kantor KJRI kami melanjutkan obrolan hangat bersama sambil menikmati makan siang disalah satu restoran muslim yang letaknya tak jauh dari kantor KJRI. Rasanya sangat bahagia bertemu dengan saudara setanah air di tanah orang. Terlebih lagi kami sebagai mahasiswa merasa sangat beruntung bisa bertemu dengan orang-orang hebat Indonesia yang bekerja untuk Negara meski harus jauh dari sanak family

Berasa dirumah sendiri :)
Berasa dirumah sendiri :)

 Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

Setelah pertemuan dengan KJRI, kami bertolak ke Robben IslandRobben Island merupakan sebuah pulau dimana Nelson Mandela ditahan karena perlawannya terhadap apertheid. Dari sini kami belajar bagimana Nelson Mandela bertahan hidup selama kurang lebih 20 tahun dipenjara. Ditahannya beliau tidak membuatnya takut, beliau justru semakin menyuarakan perlawannya terhadap apartheid dengan menulis buku. Nelson Mandela juga pernah mengaku bahwa kepemimpinannya sedkit banyak dipengaruhi oleh sosok Syekh Yusuf yang sangat patriotic. Kecintaan Nelson Mandela juga bisa dilihat dengan seringnya ia mengenakan batik ketika mengikuti pertemuan-pertemuan Negara. Selain Nelson Madela, beberapa orang yang berpengaruh di Afrika Selatan juga pernah ditahan disini seperti Kgaleme Motlanthe yang juga pernah menjadi presiden Afrika Selatan dan Jacob Zuma yang kini menjabat presiden Afrika Selatan. Masih di RobbenIsland kami berkesempatan untuk mengunjungi dan melihat habitat penguin secara dekat. 

Kawanan penguin lagi berjemur
Kawanan penguin lagi berjemur

Untuk menambah informasi terkait Syekh Yusuf, dihari keempat kami berkunjung ke Simons Town dimana terdapat sebuah museum yang menyimpan beberapa sejarah tertulis tentang Syekh Yusuf yang disebut Simons Town Heritage Museum. Museum ini sangat unik, karena merupakan sebuah rumah milik pasangan suami istri Sedick Davidson dan Zainab Davidson atau yang akrab disapa aunty Paty yang disulap menjadi sebuah museum yang didalamnya berisi barang-barang antic dan potongan-potongan koran yang disulap menjadi wallpaper yang semakin membuat museum ini kental akan nuansa sejarahnya. Museum ini juga menjadi salah satu bukti kentalnya hubungan antara Indonesia dan Afrika Selatan karena dimuseum ini terdapat barang-barang Indonesia seperti mata uang rupiah, blangkon, angklung dan juga paper yang memuat rangkuman kata-kata yang sama antara Bahasa Indonesia dan Bahasa local.  

Barang0barang Indonesia di Simons Heritage Museum
Suasana Simons Heritage Museum
Barang-barang Indonesia di Simons Heritage Museum
Barang-barang Indonesia di Simons Heritage Museum
Barang-barang Indonesia di Simons Heritage Museum
Barang-barang Indonesia di Simons Heritage Museum
contoh kata-kata Indonesia dan Afsel yang sama
contoh kata-kata Indonesia dan Afsel yang sama

Dihari terakhir, kami berkunjung ke salah satu college di Capetown yaitu IPSA (Internasional Peace of South Africa) College. IPSA merupakan salah satu college di Capetown yang berbasis Islam yang berdiri sejak tahun 2005. Kedatangan rombongan disambut langsung oleh CEO of IPSA Syeigh Ikhsan Talieb, bersama dengan petinggi-petinggi dari kampus IPSA. Disini kami juga  mendapatkan banyak informai terkait Syekh Yusuf. Yang menarik dalam kunjungan kami ke IPSA adalah, adanya bendera Indonesia dan Afrika Selatan yang berdampingan. Di IPSA juga kami bertemu dengan Arham, salah satu mahasiswa IPSA yang berasal lahir dari Malaysia namun besar di Indonesia.

Kampus IPSA dengan latar bendera Indonesia dan Afsl
Kampus IPSA dengan latar bendera Indonesia dan Afsl

Setelah dari IPSA kami berkunjung ke Moeslem Council of South Africa dan bertemu dengan Burth Hanif Nurdin. Beliau menceritakan bahwa meskipun Syekh Yusuf tinggal di Capeton hanya 6 tahun, namun pengaruhnyamasih bisa dirsakan hingga 300 tahun bahkan kebesaran Syekh Yusuf juga mempengaruhi kepemimpinan Nelson Mandela. Mengakhiri perjalanan, kami berkunjung ke National Library of South Africa dan Social History Centre untuk melihat manuscript-manuscript tua, termasuk manuscript jawi. Menjelang senja, kami bertolak ke hotel.

Malam harinya kami berkunjung kerumah Maryam (salah satu delegasi Afrika Selatan yang pernah berkunjung ke makam Syekh Yusuf di Gowa) untuk farewell party. Suasana kehangatan bercampur sedih terasa. Setelah hampir 2 jam, kami akhirnya kembali ke hotel dan mengemas barang-barang untuk bersiap kembali ke Indonesia keesokan harinya.

Kurang dari seminggu berada di Capetown, ada banyak cerita yang membekas. Tak perduli seberapa sulit tubuh beradaptasi dengan lingkungan, namun hal tersebut dikalahkan dengan rasa haru bisa berkunjung ke tempat dimana nama seorang Syekh Yusuf sang putra Gowa sangat besar dan dihargai. Selalu ada rasa bangga ketika nama Syekh Yusuf disebut oleh orang Afrika Selatan. Semoga perjuangan beliau akan selalu menjadi pengaruh yang positif dalam diri. Sampai jumpa Capetown dilain waktu.

Pilih BanggaBangga70%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi10%
Pilih TerpukauTerpukau20%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ABD HAMID ZAINAL

Selalu ada kabar baik dari Indonesia setiap harinya :) ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Evan Dimas

Semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan dan orang tua.

— Evan Dimas