Lupa Sandi?

Di Tuban, Tanah Liat Bisa Jadi Camilan Juga

Mutia Silviani Aflakhah
Mutia Silviani Aflakhah
0 Komentar
Di Tuban, Tanah Liat Bisa Jadi Camilan Juga

Bagi sebagian besar orang, memakan makanan yang telah jatuh ke tanah adalah suatu hal yang diangap kotor. Namun, apa jadinya jika ada sebuah makanan yang terbuat dari tanah? Selain menjadi bahan baku pembuatan batu bata juga kerjainan tangan, ternyata tanah liat juga bisa dijadikan sebagai camilan.

Camilan yang biasanya menjadi teman saat santai ini sudah dinikmati secara turun temurun oleh masyarakat daerah Jawa, khususnya daerah Tuban. Ampo namanya. Tanah liat panggang yang bentuknya tidak berbeda dengan wafer stik cokelat ini bahkan sangat digemari oleh wanita hamil.

Kudapan yang murni terbuat dari tanah liat tanpa campuran ini dipercayai masyarakat dapat menguatkan sistem pencernaan, bahkan mengobati beberapa macam penyakit, serta membuat perut terasa lebih dingin.

Baca Juga
Camilan khas Tuban yang biasanya dinikmati saat santai (www.odditycentral.com)
Tampilan dari Ampo sebelum dipanggang (www.odditycentral.com)

Fakta memakan tanah liat

Kebiasaan memakan tanah liat, atau yang disebut geophagy ini ternyata memiliki efek yang positif bagi pencernaan. Sebuah studi bahkan menyebutkan jika tanah liat atau lempung yang steril memiliki efek melindungi pencernaan dari virus dan bakteri. Tanah liat ini bahkan juga dapat mengikat hal yang berbahaya, seperti mikroba, patogen, dan virus.

"Tanah liat juga bisa mengikat hal yang berbahaya seperti mikroba, patogen dan virus. Sehingga lempung yang dimakan itu bisa menjadi semacam pelindung, semacam masker lumpur untuk usus kita," kata Sera Young dari Cornell University, New York, AS, yang meneliti mengenai geophagy, dilansir dari kompas.com

Cara membuat Ampo

Bahan baku Ampo berasal dari bukan sembarang tanah liat, yaitu tanah liat murni yang terbebas dari kontaminasi kotoran, batu, dan pasir.

Proses pembuatannya pun tidak rumit, juga tidak memerlukan resep khusus. Adonan tanah liat yang sudah dibersihkan kemudian dibentuk dadu sebesar kotak sepatu. Agar menjadi kalis dan tidak lengket, perlu ditambahkan air sedikit demi sedikit, sambil sesekali dipukul-pukul menggunakan alat berbentuk palu yang terbuat dari kayu.

Ampo saat melewati proses pemanggangan (www.griyawisata.com)
Ampo saat melewati proses pemanggangan (www.griyawisata.com)

Setelah adonan kotak siap, proses selanjutnya dalah mengikis atau menyerut tanah liat tersebut menggunakan bilah pisau bambu, hingga berbentuk seperti wafer stik kurang lebih sepanjang 6 sentimeter. Kemudian dipanggang di atas tungku dan kayu bakar selama kurang lebih satu jam.

Menikmati Ampo yang memiliki rasa khas ini biasanya ditemani dengan segelas teh manis hangat atau kopi. Walaupun sudah jarang ditemui, namun Ampo biasanya dijual bebas di pasar. Peminatnya pun tidak sedikit, karena camilan unik ini sering dijadikan buah tangan khas Tuban.


Sumber : diolah dari berbagai sumber

Pilih BanggaBangga23%
Pilih SedihSedih2%
Pilih SenangSenang11%
Pilih Tak PeduliTak Peduli1%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi5%
Pilih TerpukauTerpukau57%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG MUTIA SILVIANI AFLAKHAH

Art enthusiast | I'd like to tell you good things, with words I write. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie