Lupa Sandi?

Secuil Kisah Ramadhan dan Idul Fitri di Negeri Formosa

Rahmandhika Firdauzha Hary Hernandha
Rahmandhika Firdauzha Hary Hernandha
0 Komentar
Secuil Kisah Ramadhan dan Idul Fitri di Negeri Formosa

"Allahuakbar, Allahuakbar, Laila haillallahu Allahu akbar, Allahuakbar walillahilham..."

Kumandang takbir dan tahlil tanda hari kemenangan Idul Fitri 1438 Hijriyah telah kita dengarkan sejak dua malam lalu. Tepat setelah sidang isbat dari pemerintah Indonesia, serentak umat Islam Indonesia mengumandangkan takbir bersama-sama. Indah ya? Sangat meriah dengan gegap gempita perayaan dan kehangatan naungan sanak saudara, baik kandung maupun yang seiman. Dan hal itu hampir saja tidak kami rasakan jika saja kami tak berusaha berkumpul dengan saudara-saudara sebangsa dan setanah air yang senasib, merayakan hari raya di negeri orang.

Kami? Ya, kami para perantau yang menuntut ilmu di negeri yang jauh dari Indonesia, tepatnya di kampus National Central University (NCU), Taiwan. Yang bahkan sejak dimulainya bulan Ramadhan 1438 H pun telah merancang bagaimana membuat sebuah replika suasana Ramadhan yang tak jauh berbeda dari apa yang biasa dirasakan di Indonesia.

Jumlah tambahan mahasiswa angkatanku (fall semester 2016) terbilang lebih banyak dibandingkan dengan angkatan semester-semester sebelumnya. Dan kebetulan di semester saat aku masuk terjadi banyak sekali keberkahan yang diberikan oleh Allah SWT pada kami. Salah satunya adalah perealisasian proposal pengajuan tempat ibadah terpusat yang telah diajukan kepada NCU Office of International Affairs (OIA) dan Dormitory Office beberapa tahun ke belakang oleh punggawa-punggawa NCU Muslim Club. Sungguh, dengan adanya tempat ibadah ini sangat membantu dalam pelaksanaan sholat serta kegiatan keislaman yang telah lama sekali kami rindukan untuk diadakan secara layak dan nyaman. Dan masa percobaan kami dalam menggunakan tempat ibadah ini telah sampai pada bulan ke-9 saat Ramadhan tiba.

Mengapa ada masa percobaan? Karena memang tidak semua proposal akan dengan mudah dipenuhi oleh pihak manajemen NCU, apalagi berkaitan dengan sebuah ruangan. Perjuangan pengadaan tempat ibadah ini telah berlangsung lama dan baru terpenuhi ketika angkatan fall semester 2016 tiba. Setiap bulannya kami, mahasiswa Muslim NCU yang terdiri dari mahasiswa asal Indonesia, Mesir, Gambia, India, Pakistan, Maroko, dan Perancis, yang tergabung dalam NCU Muslim Club harus mengirimkan laporan penggunaan ruangan kepada NCU OIA dan Dormitory Office. Sungguh komitmen yang cukup berat untuk selalu mendokumentasikan kegiatan ibadah yang seharusnya tidak dipublikasikan, menjadi keharusan yang mau tak mau harus kami himpun untuk mendapatkan kepercayaan manajemen kampus kami.

Oke, kembali lagi pada cerita tentang Ramadhan. Tahun ini adalah tahun pertama jamaah NCU Muslim Club menjalani bulan Ramadhan dengan adanya tempat ibadah yang resmi dan terstruktur, sehingga perlu adanya manajemen yang baik dalam mengadakan kegiatan. Oleh karena itu rapat demi rapat dan musyawarah demi musyawarah telah berlangsung beberapa minggu menjelang Ramadhan. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk mengadakan dua kegiatan utama yang akan selalu ada setiap hari: berbuka bersama dan juga shalat tarawih berjamaah. Ingin tahu bagaimana berbuka puasa ala kami? Mari menyimak video berikut ini:

Nah, bagaimana? Cukup meriah bukan? Ya, itu semua berkat dukungan dan juga kontribusi penuh dari para jamaah, yang tak lain dan tak bukan adalah para mahasiswa master dan PhD dari berbagai latar belakang ilmu yang bahu-membahu dalam pelaksanaannya. Itu baru satu kegiatan saja: berbuka puasa bersama. Saat tarawih kami juga tetap khusyuk kok. Nah, di video tersebut terlihat di luar tempat ibadah ditambahkan karpet untuk duduk lesehan bukan? Itulah salah satu usaha kami untuk menambah kuota tempat bagi jamaah yang membludak saat tarawih. Karena pada dasarnya, tempat ibadah kami hanya muat untuk sholat sekitar 40an orang, sehingga satu-satunya cara untuk membuat jamaah NCU Muslim Club yang berjumlah lebih dari 100 orang bisa beribadah di satu tempat, adalah dengan menambahkan karpet pada space kosong di depan ruangan. Tentunya dengan proses perizinan kepada manajemen kampus yang dilakukan sebelumnya.

Terus, apa lagi ya kira-kira kegiatan unik Ramadhan yang kami jalani? Yuk, kita saksikan video yang lain lagi tentang kegiatan menjelang shubuh. Kalau ini salah satu agenda "tak selalu terencana" yang hampir satu bulan penuh selama Ramadhan dilakukan bergantian oleh perkumpulan dormitory dan juga kos-kosan mahasiswa Muslim di seantero NCU: yaitu memasak menu untuk sahur jamaah, yang nantinya dimakan bersama-sama di tempat ibadah terpusat.

Seru juga kan? Itu sih baru ala dormitory cowok, belum lagi yang cewek, pasti lebih seru lagi. Dan jangan salah, bahan makanan dan juga alat-alat yang kami gunakan itu bukan semata-mata milik kami pribadi, karena kami mendapatkan dukungan dana utama dari infaq jamaah. Dan infaq tersebut juga harus dibelanjakan secara benar dan terstruktur, agar tak menjadikan sesuatu yang mubadzir, juga demi menjaga konsistensi kegiatan kami hingga akhir Ramadhan. Lalu bagaimana kegiatan belanjanya? Tenang, di sini aku juga mencoba memberikan gambaran nih bagaimana usaha kami mengumpulkan logistik untuk persediaan Ramadhan. Check this out!!!

Sama aja sih, cuma sensasinya itu lho yang beda. Seni bagaimana mengatur waktu skip dari jam kerja di laboratorium untuk belanja kebutuhan Ramadhan. Yah ada dag dig dug-nya juga pasti pas ditanyain profesor "mau ke mana", hehehe. Dan itulah yang kami lakukan, demi tercapainya tujuan yang telah dirumuskan jauh-jauh hari sebelum Ramadhan tiba.

Dan aktivitas-aktivitas itu berlangsung terus-menerus selama 29 hari penuh, baik buka puasa bersama, shalat tarawih berjamaah, maupun sahur bersama. Sekilas nampak melelahkan, akan tetapi karena kami di sini bekerjasama satu sama lain, pada akhirnya kami semua tak merasakan beban berarti sedikitpun. Bahkan, kami merasa senang dapat menghadirkan replika suasana Ramadhan seperti layaknya berada di tanah air untuk semua mahasiswa Muslim yang tentunya tak hanya dari Indonesia saja.

Sampai pada akhirnya, satu kegiatan besar di penghujung Ramadhan (awal bulan Syawal), yang pada mulanya sempat "dianggap" mustahil untuk dilakukan, pada akhirnya bisa terlaksana. Apakah itu? Yap, sholat Idul Fitri bersama, inilah kegiatan tak terduga yang pada akhirnya bisa kami agendakan dengan sangat baik di tempat ibadah terpusat kami. Dan jangan salah, jamaah yang mengikuti shalat Idul Fitri ini bukan hanya dari mahasiswa lho, kami juga turut mengundang para Buruh Migran Indonesia (BMI) yang bertempat tinggal dan bekerja di sekitar kampus untuk menghemat waktu dan tenaga mereka. Hal tersebut kami lakukan bukan tanpa alasan, pasalnya dua minggu sebelum pelaksanaan sholat Idul Fitri, ada beberapa BMI yang me-request pengadaan sholat Id di NCU. Karena menurut mereka menempuh perjalanan ke masjid terdekat pastinya akan memakan waktu kerja mereka. Sebagai tambahan informasi, masjid Longgang dan At-Taqwa hanya dapat ditempuh sekitar 1 jam perjalanan menggunakan bus, itupun jika alur perjalanan bus sedang normal tanpa mengalami kendala macet seperti saat peak hour. Dan untuk gambaran bagaimana tentang masjid At Taqwa, pernah juga dimuat di sini kok.

Jadi kira-kira bagaimana pengalaman Ramadhan dan Idul Fitri ala kami? Yuk kita simak baik-baik dari beberapa testimoni berikut:

Wow, ceritanya pada bikin baper (bawa perasaan) nih! Tapi, setidaknya baper kami adalah baper yang berkualitas dan menginspirasi dong ya. Bagaimana tidak? Buktinya ke-baper-an kami menjadi pemantik untuk menciptakan kegiatan-kegiatan positif demi membuat replika suasana Ramadhan seperti di tanah air, yang tentunya meski tak otentik, at least bisa membuat senang semua orang. Inilah yang dinamakan karya anak bangsa, yang tak hanya berguna untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk lingkungan sekitarnya. Yuk, jadi orang Indonesia yang tak pernah berhenti menginspirasi...

Selamat Idul Fitri 1438 H, kawan GNFI!!!

#KotakAjaib

Sumber:

  1. Serial Kisah Ramadhan di Negeri Orang <https://tanpa-inspirasi.blogspot.tw/search/label/Kardio>
  2. Beberapa video dari #KotakAjaib Channel <https://intip.in/KotakAjaibChannel>
Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang50%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi50%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG RAHMANDHIKA FIRDAUZHA HARY HERNANDHA

Mahasiswa di National Central University, Taiwan. Mengambil bidang study Material (ilmu bahan) dan fokus pada Magnesium sebagai obyek riset sejak S1. Selain kuliah, hobi sampingan saya adalah membaca ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie