Mengenal Ikan Terbesar di Dunia, Sang Hantu Penghuni Perairan Indonesia

Mengenal Ikan Terbesar di Dunia, Sang Hantu Penghuni Perairan Indonesia

Hiu Paus di TNTC © Shawn Heinrichs / Conservation International

Bangsa Indonesia telah lama dikenal sebagai bangsa nelayan yang ulung. Namun meski kerap hidup dekat dengan laut, tidak banyak yang mengetahui bahwa ternyata Indonesia merupakan habitat bagi ikan terbesar di dunia, Hiu Paus. Hal itu terjadi karena ternyata ikan tersebut dikenal dengan berbagai sebutan dan diselimuti mitos. Bahkan di perairan Papua, atau di habitat utamanya di Indonesia, Teluk Cendrawasih, Hiu Paus disebut sebagai hantu laut.

Hiu paus yang memiliki nama ilmiah Rhincodon Typus itu merupakan ikan raksasa yang mengkonsumsi hewan-hewan renik di lautan atau plankton dan ikan-ikan kecil. Hiu ini juga dikenal memiliki daya jelajah yang sangat luas yang dapat mencakup separuh wilayah Indonesia, hingga ke pasifik.

Meski ukurannya bisa menyamai ukuran bus berukuran besar, hiu paus dikenal sebagai ikan yang jinak. Hanya saja kesan jinak tersebut baru terungkap saat berbagai penelitian sains dilakukan pada hiu paus. Sebab sebelum diteliti, hiu paus dikenal dengan berbagai sebutan di Indonesia dan bahkan dibeberapa tempat ditakuti.

Sebut saja di Papua, hiu paus dikenal sebagai hantu laut. Masyarakat lokal, mengenal hewan ini sebagai hewan yang membawa pertanda bahwa akan ada kedukaan (orang meninggal). Sehingga nelayan akan mematikan mesin kapal dan tinggal diam di dalam perahu sampai hiu paus menghilang. Namun sejak beroperasinya kapal Gurano Bintang milik WWF (World Wildlife Fund) di Taman Nasional Teluk Cendrawasih (TNTC), persepsi tentang hiu paus berangsur-angsur berubah. Sebagaimana makna Gurano Bintang yang berarti Cahaya Harapan, hiu paus kini diharapkan menjadi harapan baru bagi masyarakat lokal dengan potensinya untuk menarik wisatawan.

Mitos tentang hiu paus juga disematkan oleh masyarakat Bali. Masyarakat lokal menganggap menangkap hiu paus akan mendatangkan petaka, sehingga ikan terbesar di dunia tersebut harus dihormati. Seperti saat kasus terdamparnya hiu paus di Randu Putih, Nusa Penida Bali yang dimakamkan dengan ritual khusus.

Sementara di wilayah Lamalera, Nusa Tenggara Timur, masyarakat nelayan Bajo menyebut hiu paus sebagai Kareo Dede. Hewan laut yang dijaga oleh dewa dan dapat melindungi dan membantu nelayan saat melaut. Sehingga hiu paus tidak pernah diburut oleh masyarakat yang hidup dan mati terikat dengan laut itu. Kalaupun tertangkap hiu paus harus segera dilepaskan kembali.

Kesan yang sama pada hiu paus juga terjadi di Probolinggo, Jawa Timur. Masyarakat nelayan lokal mengeramatkan hiu paus dengan sebutan Kikaki yang dipercaya sebagai penunggu pantai utara. Mereka percaya bahwa hiu paus merupakan kendaraan nenek moyang masyarakat Probolinggo saat pergi ke pulau madura.

Kemudian suku bugis dan buton, di Makassar yang juga percaya bahwa hiu paus dapat mendatangkan keberuntungan dan pertanda baik. Sebab disekitar hiu paus biasanya terdapat banyak ikan-ikan kecil yang sering menjadi tangkapan nelayan.

Di Indonesia hiu paus sejatinya tidak hanya ditemukan di daerah-daerah yang telah disebutkan di atas. Namun juga tersebar dibanyak tempat. Seperti Maluku, Sulawesi Utara, Flores, Alor, Nusa Tenggara, Berau, Kalimantan Barat dan bahkan Sabang. Namun perairan Kwatisore, TNSC, merupakan lokasi favorit yang pasti dapat bertemu dengan hiu paus sepanjang tahun.

Hiu paus yang kini telah menjadi bagian dari destinasi pariwisata dianggap mampu untuk mengubah perilaku nelayan lokal yang mengeksploitasi laut berlebihan. Namun seiring meningkatnya popularitas hiu paus, para peneliti konservasi dan pemerhati lingkungan mulai khawatir dengan keselamatan hiu paus jika jumlah wisatawan terlalu besar. Itu sebabnya berbagai penelitian dilakukan untuk mengetahui kesehatan populasi dan ekosistem hiu paus.

Dalam rangka Hari Hiu Paus Sedunia yang jatuh pada 30 Agustus, WWF pun mendukung upaya penyelamatan hiu paus dengan melansir video tentang panduan khusus untuk berinteraksi dengan hiu paus. Beberapa panduannya meliputi sikap-sikap saat berenang bersama hiu paus, ataupun etika yang harus dijaga saat mengabadikan momoen bersama hiu paus. Tujuan dari panduan ini adalah agar wisatawan dan juga hiu paus sama-sama aman dan tidak saling membahayakan.

Sang ikan terbesar di dunia kini telah mendapatkan perhatian khusus. Tidak hanya dikalangan peneliti dan pemerhati lingkungan tetapi juga pemerintah, operator wisata dan bahkan masyarakat lokal. Kini hiu paus tidak lagi menjadi ikan yang meneror masyarakat tetapi telah menjadi kawan di laut. Ayo kita jaga bersama-sama kelestarian hiu paus ini di Indonesia.

Pilih BanggaBangga68%
Pilih SedihSedih1%
Pilih SenangSenang13%
Pilih Tak PeduliTak Peduli1%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi9%
Pilih TerpukauTerpukau8%
Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Konferensi Film Indonesia, Mengkaji Film dengan Ilmu Sebelummnya

Konferensi Film Indonesia, Mengkaji Film dengan Ilmu

Tak Lekang Oleh Waktu, Inilah Dongeng Populer di Indonesia (Bagian II) Selanjutnya

Tak Lekang Oleh Waktu, Inilah Dongeng Populer di Indonesia (Bagian II)

Bagus Ramadhan
@bagusdr

Bagus Ramadhan

http://kulawarga.id

Seorang copywriter dan penulis konten yang berusaha menebar inspirasi dan semangat lewat konten-konten berkualitas untuk kehidupan yang lebih baik.

2 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.