Indonesian Tempe Movement: Kita Adalah Bangsa Tempe, dan Kita Bangga.

Indonesian Tempe Movement: Kita Adalah Bangsa Tempe, dan Kita Bangga.

Foto: © naver.com

Siapa yang tak makan tempe? Pertanyaan ini sulit untuk dijawab. Apalagi di Indonesia. Makanan ini ada di mana-mana, tersedia dari pasar tradisional, pedagang keliling, hingga supermarket. Nyaris, tak ada orang Indonesia tidak pernah mengunyah tempe. Sebagian mungkin karena saking hobinya, memakan tempe hampir setiap hari.

Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik menyebutkan, pengeluaran per kapita dalam setahun untuk konsumsi tempe terus meningkat, menjadi Rp 61.632,86 pada 2016, dengan konsumsi tempe per orang dalam setahun sebanyak 7,35 kg.

Apakah tempe hanya dimakan dan cocok dengan lidah orang Indonesia saja? Nyatanya tidak. Makanan ini semakin populer di berbagai belahan dunia.

Terkait denga hal itu, perkenalkan, Amadeus Dirando Ahnan, salah satu dari mereka yang dengan gigih mempromosikan tempe ke berbagai penjuru dunia. Bukan hanya doyan tempe, dan sangat bersemangat bicara soal tempe, ia bahkan hingga menempuh pendidikan doktoral gara-gara tempe. Kini, ia sedang berada di Amerika Serikat, untuk merampungkan studinya di Food Science Department, University of Massachusetts. Tak cukup di situ, ia pun mendirikan Indonesian Tempe Movement (ITM). Tempe, baginya terlihat lebih dari sekadar sajian sehari-hari di meja makan.

“Indonesia akan dengan bangga mengumandangkan ‘KITA BANGSA TEMPE!’ dan bersatu, seperti biji-biji kedelai yang dieratkan menjadi tempe,” demikian pemuda kelahiran Bogor 25 tahun lalu itu mengatakan visi terangnya tentang tempe kepada GNFI, melalui sebuah wawancara jarak jauh akhir November lalu.

Ando, demikian ia meminta untuk dipanggil, begitu terkagum-kagum dengan kreativitas leluhur kita yang dengan sangat kreatifnya menemukan dan menjadikan tempe sebagai makanan pada abad ke-16.

“Tempe merupakan hasil percobaan yang mungkin tidak sengaja, dari biji-biji kedelai yang ditumbuhi oleh jamur kapang yang ditemukan di balik daun waru. Bisa dibayangkan tingginya kreativitas dan keberanian nenek moyang kita mencicipi makanan ini, dan bahkan mewariskannya secara turun-temurun,” katanya.

Teknologi mengubah kacang kedelai menjadi tempe inilah yang ternyata meningkatkan kandungan protein, menghilangkan zat anti-nutrisi, dan memberikan kandungan vitamin B12 yang tidak ada dalam produk nabati lainnya (tempe satu-satunya).

Selanjutnya, kalimat demi kalimat seperti meluncur deras dari Ando. Tempe benar-benar sepenuhnya menginspirasi pencinta musik, olah raga, dan memasak ini. Yuk, simak wawancara selengkapnya, boleh juga sambil makan tempe.

Kapan Anda mulai “tergila-gila” dengan tempe?

Pada tahun 2014 saya sangat terobsesi dengan bodybuilding. Dari situ saya mengatur pola makan saya sehingga tinggi protein, tinggi serat, rendah lemak, kaya vitamin dan mineral.

Tetapi apabila saya mencari di Google, pilihan makanan yang seperti itu umumnya makanan Barat seperti salad, susu tinggi protein, hidangan daging-dagingan, dan lain-lain. Dengan kondisi saya yang sensitif terhadap susu, telur, makanan-makanan tersebut tidak cocok bagi saya. Ditambah dengan kapasitas finansial sebagai mahasiswa saat itu, pola makan tadi menjadi sangat tidak realistis.

Akhirnya, dengan menggunakan ilmu bioteknologi, saya mempelajari hasil-hasil penelitian untuk mencari makanan alternatif. Ternyata, tempe tinggi protein, rendah lemak, rendah karbohidrat, kaya vitamin dan mineral (satu-satunya makanan nabati yang mengandung Vitamin B12, penting untuk tubuh). Sejak saat itu tempe adalah sumber protein utama saya karena mudah didapat, murah, dan hampir setiap hari merupakan hidangan di meja makan.

Berawal makanan untuk mendukung bodybuilding, ketemulah tempe I Foto: Amadeus Driando Ahnan
Berawal pencarian makanan untuk mendukung bodybuilding, ketemulah tempe I Foto: Amadeus Driando Ahnan

Jadi, ITM datang idenya gara-gara Anda menemukan fakta bahwa tempe sangat ampuh untuk menunjang program bodybuilding?

Ahaha … tidak secara langsung.

Ide untuk menyeriusi perhatian terhadap tempe datang pada satu sore secara tidak sengaja. Saat itu Ibu saya Wida Winarno, dan kakek saya Prof. F. G. Winarno, aktif dalam lingkungan kampus yang sama. Ibu saya sedang menempuh pendidikan Master di bidang bioteknolgi (kami kuliah, stres, dan senang bersama), dan kakek saya memang mengajar di Fakultas Teknobiologi, Unika Atma Jaya Jakarta.

Sore itu sepulang dari kegiatan masing-masing kami bicara santai di meja makan seperti biasa. Ibu baru saja pulang dari sebuah kelas yang membahas beragam khasiat tempe untuk kesehatan, dan kakek saya baru saja pulang dari orasi ilmiah seorang kolega, Prof. Antonius Suwanto, yang membahas tentang manfaat tempe dalam meningkatkan kesehatan usus besar.

Dalam pembicaraan tersebut, kami bertiga menyadari bahwa tempe adalah makanan yang sangat spesial atau "superfood". Tempe murah, mudah didapat, asli Indonesia, enak, tinggi protein, nabati - ramah lingkungan, tetapi belum banyak orang yang mengetahui kualitas tempe yang sebenarnya ini. Akhirnya, kami memutuskan untuk menyelenggarakan International Conference on Tempe dan International Youth Conference on Tempe 2015 di Yogyakarta.

Konferensi itu bertujuan untuk menyajikan diskusi ilmiah dari beragam bidang keilmuan mengenai tempe. Kami juga bertujuan untuk mempertemukan anak-anak muda dari seluruh penjuru dunia untuk mengetahui kapasitas tempe yang sebenarnya, serta membentuk imej tempe masa depan melalui ide-ide kreatif.

Konferensi berjalan luar biasa sukses dengan dihadiri oleh perwakilan dari 7 negara, termasuk Bapak Rustono "Tempe" dari Jepang. Melalui kegiatan tersebut, kami sadar akan luar biasa besarnya semangat dalam mengangkat tempe sebagai super food dari Indonesia - tidak hanya dari sektor ilmiah, tetapi sektor industri kreatif, seni, pemerintah, bisnis, kuliner, lingkungan, kesehatan, tokoh masyarakat, dan lain-lain.

International Conference on Tempe 2015 I Foto: Amadeus Driando Ahnan
International Conference on Tempe 2015 I Foto: Amadeus Driando Ahnan

Lalu terbentuknya ITM?

Nah, Pada suatu pagi, saya dan Ibu berjalan pagi mengitari komplek perumahaan seperti biasanya. Kami berdua menyayangkan apabila keseruan ini berhenti hanya sampai konferensi. Kami sepakat bahwa aspek-aspek ilmiah mengenai tempe seharusnya dapat dibungkus melalui hal-hal seru lainnya melalui berbagai bidang dan bentuk. Pada waktu itu kami membayangkan bahwa restoran-restoran akan menyajikan hidangan tempe yang unik dan berkelas, pengrajin batik akan memproduksi batik tempe, pengrajin tempe berkreasi dengan jenis kacang-kacang lain, anak-anak muda menggunakan tempe untuk bodybuilding yang murah, para pebisnis mengembangkan bisnis tempe sebagai super food, pemerintah mengumandangkan tempe sebagai super food dari Indonesia, dan lain-lain.

Melihat bahwa kegiatan-kegiatan seru ini hanya dapat menjadi kenyataan melalui kolaborasi, kami sepakat bahwa gerakan/movement adalah bentuk yang tepat, yang memungkinkan lebih banyak orang dapat berkreasi dengan panggilan atau passion masing-masing untuk melakukan sesuatu dengan tujuan yang sama: memperkenalkan tempe ke banyak orang. Dengan memperkenalkan tempe ke banyak orang, kita melakukan sesuatu yang mulia karena memberikan akses kepada makanan sehat dan ramah lingkungan yang terjangkau. Orang-orang tidak perlu gengsi untuk makan tempe dibandingkan daging, malah seharusnya bangga karena ini adalah makanan bersejarah dari Indonesia yang sangat sehat. Apabila orang-orang lebih memilih tempe, maka emisi lingkungan dan energi yang dibutuhkan untuk memproduksi daging dapat dikurangi.

Apabila permintaan tempe internasional meningkatkan, Indonesia dapat menjadi produsen tempe bernilai tinggi tanpa perlu menunggu produksi kedelai lokal yang mandiri - seperti negara Swiss memproduksi cokelat. Dari sinilah akhirnya kami sepakat membentuk ITM.

Setelah itu, apa yang pertama kali dilakukan?

Tanpa modal, kami memulai gerakan ini dengan membuat akun-akun sosial media dan website. Paman saya Toto Widjajanto membantu membuat desain logo. Beberapa kegiatan pertama kami adalah #tempechallenge, yaitu dokumentasi eksperimen terhadap diri saya sendiri untuk bodybuilding menggunakan tempe sebagai sumber protein, berlanjut ke infografik dan kartun rangkuman khasiat tempe untuk kesehatan, kolaborasi dengan restoran-restoran untuk mendesain hidangan tempe yang unik, Green Tempe Workshop ciptaan Ibu yang mengajarkan cara membuat tempe ramah lingkungan, dan lain-lain hingga bergulir sampai sekarang.

Kok serius amat sampai menyebutnya movement? Benarkah seserius itu? Atau hanya agar keren saja menyebutnya sbg movement?

Secara personal, movement ini sangat seru dan menyenangkan karena selalu mempertemukan dengan orang-orang luar biasa yang memiliki nilai-nilai hidup yang serupa: sehat, peduli lingkungan, bangga akan Indonesia, dan niat baik. Indonesian Tempe Movement adalah jaringan orang-orang hebat yang tulus tersebut.

Untuk saya pribadi, Indonesian Tempe Movement adalah panggilan hidup. Kegiatan ini menjawab pertanyaan saya sewaktu kuliah S1, "Apa yang harus saya lakukan agar berkontribusi untuk kebaikan banyak orang di dunia, selagi saya hidup?"

Dengan tujuan baik — memberikan akses kepada makanan sehat dan ramah lingkungan yang terjangkau, melalui ITM kami melakukan sesuatu yang kami sukai dan menyalurkan anugerah bakat-bakat saya (pangan, sains, sosial, seni, organisasi, Indonesia), serta menjawab kebutuhan dunia (makanan sehat, terjangkau, dan ramah lingkungan, pemahaman kultur lain, perdamaian).

Seperti Steve Jobs dengan Apple-nya atau Elon Musk dengan Space X-nya, ITM adalah manifestasi nilai-nilai kehidupan saya dan hasil hubungan penuh cinta kasih dengan Ibu dan kakek saya. Di dalam ITM, terdapat kepercayaan untuk membuat dunia dan Indonesia lebih baik.

Jadi, sama sekali bukan hanya keren-kerenan.

Sampai sekarang, apa saja kegiatan yang dilakukan oleh ITM, dan di mana saja?

Beberapa kegiatan antara lain, kami melakukukan pembinaan bisnis sosial produksi kedelai, tempe, dan produk turunannya di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cipinang dan Pusat Rehabilitasi Narkoba Jawa Barat.

Pembinaan anak putus sekolah dari Ciawi, untuk membuat bisnis keripik tempe. Saat ini sedang memenuhi pesanan dari Afrika Selatan dan bekerja sama dengan Javara Indonesia.

Selain itu, kami melakukan berbagai seminar tentang mengapa tempe penting beserta workshop cara membuat tempe di berbagai tempat, antara lain Oxford University, Harvard University (bersama KBRI Washington DC), Wageningen University dan Markthal Rotterdam di Belanda, Sekolah Dasar St. Joseph di Bremen - Jerman, La Trobe University di Melbourne, Kegiatan pengembangan komunitas di Portland, Oregon, AS, Ubud Food Festival di Bali, hingga Washington DC VegFest 2017.

Mengenalkan tempe ke Miss Universe 2014, Paulina Vega I Foto: Amadeus Driando Ahnan
Mengenalkan tempe kepada Miss Universe 2014, Paulina Vega I Foto: Amadeus Driando Ahnan

Berbagai publikasi juga kami luncurkan, selain melalui media sosial juga melalui buku “The Book of Tempe” (2016) dan “Tempe: Kumpulan Fakta Menarik Berdasarkan Penelitian” (2017).

Kami juga turut mendukung upaya Pergizi Pangan, sebuah organisasi para pakar gizi dan pangan Indonesia, agar tempe diakui oleh UNESCO sebagai Intangible Heritage.

Sekarang Anda berkuliah dengan jurusan food science, apakah gara-gara tempe Anda mengambil konsentrasi ini?

Gara-gara tempe juga saya memutuskan mengambil S3 di bidang pangan. Karena tempe memiliki aspek kultural, kesehatan, sejarah, dan kearifan lokal suatu kelompok manusia. Beruntungnya, ternyata penelitian saya mengenai senyawa "bioaktif" dalam makanan untuk kanker dapat diterapkan pada tempe, jadi sekarang saya melakukan penelitian disertasi mengenai aspek anti-kanker tempe.

Workshop pembuatan tempe di Universitas Oxford I Foto: Amadeus Driando Ahnan
Workshop pembuatan tempe di Universitas Oxford I Foto: Amadeus Driando Ahnan

Bagaimana Anda melihat tempe di luar Indonesia?

Dari tempenya sendiri berbeda-beda. Di Amerika, tempe dibuat lebih "ringan" rasanya, terbuat dari beragam macam kacang, dan umumnya dimasak dengan cara Amerika (tempe barbecue, pengganti daging di burger, dan lain-lain).

Produsen tempe di luar negeri juga beragam, ada yang orang Indonesia yang menetap maupun orang lokal negara tersebut.

Setiap mengenalkan tempe ke orang di luar negeri, bagaimana Anda melihat reaksi mereka?

Di kalangan vegetarian dan vegan tempe sudah populer, tetapi belum di masyarakat umum. Di luar negeri pada umumnya tempe merupakan makanan yang baru sehingga memiliki peluang untuk memperkenalkan luar biasanya tempe, bukan sebagai makanan pengganti daging atau makanan untuk orang susah, tetapi makanan pilihan karena menyehatkan dan ramah lingkungan.

Bagaimana Anda melihat tempe sebagai industri di dalam dan luar negeri?

Industri tempe di dalam negeri memiliki kelebihan dalam hal volume (Indonesia merupakan penghasil terbesar tempe di dunia), kekayaan budaya kuliner (ragam tempe, dari bermacam-macam kacang, daun, dan resep bersejarah lainnya; eksotisme misalnya dengan daun pisang, penyajian tradisional, dan lain-lain) yang dapat memajukan wisata kuliner, biaya produksi yang rendah (salah satunya karena negara tropis), dan jenis tempe yang umumnya mengandung Vitamin B12.

Sementara industri tempe di luar negeri pada umumnya lebih maju dari segi standar manufaktur (peralatan yang digunakan, sistem inspeksi, pengemasan modern, dan sebagainya), dan strategi pemasaran (makanan sehat, untuk vegan, vegetarian, dan lain-lain).

Bagaimana Anda melihat masa depan tempe?

Di Indonesia, tempe akan menjadi makanan yang dibanggakan.

Orang-orang tidak lagi menempatkan tempe sebagai makanan untuk "orang kecil". Akan ada semakin banyak orang yang bergerak dalam bisnis atau pengembangan tempe. Produk-produk pangan modern akan bermunculan dalam bentuk yang tidak pernah terpikirkan (sereal tempe, roti tempe misalnya), produk-produk pangan tempe tradisional akan semakin dilestarikan, dihargai, dan ditingkatkan kualitasnya — lebih aman, tahan lama, dan dapat diekspor. Usaha-usaha tempe mikro, kecil, menengah, hingga besar akan menigkat sesuai dengan permintaan industri tempe, "perekonomian tempe" akan bertumbuh.

Indonesia akan dapat mengekspor tempe kualitas khusus tanpa perlu menunggu swasembada kedelai lokal — seperti negara Swiss menghasilkan cokelat. Permintaan tempe yang meningkat akan meningkatkan nilai kedelai dan para petani akan tertarik untuk menanam kedelai kembali, produksi kedelai lokal akan meningkat. Aspek sejarah tempe akan semakin dipelajari dan dilestarikan. Aspek pariwisata tempe dapat bertumbuh, misalnya wisata kuliner dan sejarah tempe di pulau Jawa. Turis mancanegara akan berdatangan untuk mencicipi tempe kualitas terbaik.

Daerah-daerah di Indonesia dapat mengembangkan jenis-jenis tempe baru menggunakan kacang-kacang lokal yang belum pernah dicoba sebelumnya. Teknologi tempe dapat menjadi solusi untuk mengentaskan malnutrisi di daerah-daerah miskin.

Tempe akan didaftarkan pihak-pihak ahli dan pemerintah secara internasional, misalnya UNESCO Intangible Heritage ("warisan non-benda") dan standar imiah pangan oleh CODEX Alimentarius Commission di bawah FAO/WHO PBB. Penelitian ilmiah mengenai tempe akan semakin banyak, menemukan berbagai inovasi untuk kesehatan manusia. Inovasi-inovasi tempe akan terus bermunculan, seperti Mycotech — batu bata bangunan ramah lingkungan yang terbuat dari fermentasi tempe, atau membentuk karya seni rupa dengan menggunakan fermentasi tempe. Atlet-atlet Indonesia akan menggunakan tempe untuk sumber proteinnya. Restoran-restoran top dalam negeri akan menyajikan tempe sebagai hidangan eksotis. Akan ada film mengenai tempe, entah seperti Filosofi Kopi (Filosofi Tempe?) atau dokumentasi Chef's Table.

Saya rasa Indonesia akan dengan bangga mengumandangkan "KITA BANGSA TEMPE!" dan bersatu, seperti biji-biji kedelai yang dieratkan menjadi tempe.

Di dunia, tempe akan semakin dikenal sebagai makanan sehat, ramah lingkungan, dan terjangkau yang bisa dinikmati semua golongan (kebutuhan diet khusus seperti vegan, vegetarian, atau orang dengan pantangan lainnya). Tempe akan direkomendasikan ahli-ahli nutrisi dan pangan untuk diet sehat. Produksi dan industri tempe di negara-negara lain akan meningkat sesuai dengan permintaan produk pangan sehat. Teknologi tempe akan memunculkan jenis-jenis tempe baru yang terbuat dari kacang-kacang lokal beragam daerah di dunia.

Khasanah kuliner tempe dunia akan berkembang seiring dengan inkorporasi budaya dan seni setiap daerah, seperti roti-lapis / sandwich, pizza, burger atau sushi yang tersebar di seluruh penjuru dunia dan berevolusi. Lapangan pekerjaan baru akan tercipta dari usaha yang menghasilkan sesuatu yang sehat dan ramah lingkungan.

Penelitian-penelitian tempe akan terus bertambah. Inovasi-inovasi non-makanan lainnya juga akan bermunculan dari bidang bioteknologi maupun nanoteknologi, membawa manfaat tempe yang tidak dapat dibayangkan — misalnya untuk bangunan, medis, dan lainnya. Indonesia akan menjadi daya pikat negara-negara lain dengan menjadi asal mulanya makanan yang penting untuk kesehatan, lingkungan, dan ekonomi ini.

Wah, ternyata bicara tempe saja tidak ada habisnya ya. Jadi setelah menjadi doktor di bidang food science, apa yang akan Anda lakukan untuk Indonesia? Untuk tempe?

Pertama, cita-cita saya adalah memajukan teknologi pangan tradisional Indonesia — menjembatani kearifan lokal dan teknologi mutakhir. Melalui peluang karir saya saat ini di bidang akademik, swasta, dan organisasi internasional, saya bertekad menghubungkan ketiga sektor tersebut untuk memajukan teknologi berbasis kearifan lokal, mulai dari Indonesia. Dengan mengambil tempe sebagai contoh, apabila kedua hal tersebut terjembatani, masyarakat dunia akan memiliki pilihan makanan yang sehat, ramah lingkungan, dan terjangkau.

Kedua, saya tidak dapat melihat masa depan, tetapi saya akan sangat senang apabila dapat menyelesaikan standardisasi tempe internasional melalui CODEX Alimentarius Commission, yaitu badan regulasi pangan dunia di bawah WHO dan FAO Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Saya juga akan terus berjuang agar Indonesian Tempe Movement dapat menjadi gerakan internasional yang dapat memberdayakan masyarakat sebagai bisnis sosial.

Ketiga, menurut saya perjuangan menjadikan Indonesia, tempe, maupun dunia lebih baik tidak mungkin dilakukan oleh satu generasi saja. Di manapun nanti saya berkarya, menginspirasi generasi berikutnya merupakan hal yang wajib — tempe, Indonesia, itu keren karena menyehatkan, ramah lingkungan, dan berdampak baik bagi masyarakat. Itu baru yang namanya keren.

Ando, bersama Ibu dan Kakeknya. Sekeluarga
Ando, bersama Ibu dan Kakeknya. Sekeluarga "tergila-gila" pada tempe I Foto: Amadeus Driando Ahnan

Sumber Foto Sampul: blog.naver.com

Pilih BanggaBangga76%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang6%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi15%
Pilih TerpukauTerpukau3%

Artikel ini dibuat oleh Tim Redaksi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

E-commerce Dorong Anak Muda Jadi Pengusaha Sebelummnya

E-commerce Dorong Anak Muda Jadi Pengusaha

Dulunya Penuh Sampah, Kini Jadi Primadona Wisata di Bekasi Selanjutnya

Dulunya Penuh Sampah, Kini Jadi Primadona Wisata di Bekasi

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.