Kisah Dibalik Tarian Kinyah Mandau Kalimantan Tengah

Kisah Dibalik Tarian Kinyah Mandau Kalimantan Tengah

© Kamerabudaya.com

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠. Rekomendasi lain dari WHO

Suku Dayak pada jaman dahulu terkenal sebagai suku yang kejam. Pada masa itu hukum
rimba berlaku bagi tiap anggota suku. Pada masa itu terdapat tiga istilah yang ditakuti.
Ketiganya adalah Hapini, Hakayau, Hajipen.
Dari ketiga tradisi inilah asal mula Tarian Kinyah Mandau berawal. Masyarakat pada jaman
dahulu harus membunuh dan membawa pulang kepala musuhnya. Setiap anak laki – laki
yang berhasil melakukannya akan mendapat penghargaan berupa tato di bagian betisnya.
Coretan pada betis itu menunjukkan bahwa anak yang bersangkutan telah dewasa.
Terdapat alasan selain sebagai bentuk penghargaan. Membawa pulang kepala manusia
menurut sub suku lain yakni sebagai pelengkap ritual. Upacara Tiwah, upacara ini merupakan
ritual membersihkan tulang – tulang para leluhur untuk dibawa ke surga.
Beruntungnya sekarang ini tiap sub suku Dayak telah berdamai. Perjanjian damai Tumbang
Anoi. Perdamaian itu disepakati oleh tiap – tiap sub suku Dayak. Setelah perdamaian
dilakukan setiap sub suku Dayak menampilakn tarian Kinyahnya.
Dengan dipertontonkan tarian Kinya dari tiap sub suku sekat diantara mereka telah hilang.
Karena dalam tarian Kinyah tiap sub suku akan menunjukkan gerakan atau jurus rahasia
masing – masing. Jurus rahasia sangat dilarang untuk diajarkan ke sub suku lain. Jika
ketahuan maka akan dihukum mati.
Dalam Tari Kinyah Mandau tidak hanya dilakukan laki – laki. Tetapi perempuan juga
mendapat kesempatan. Perlengkapan dalam perangnya berupa Mandau dan Talawang.
Mandau merupakan senjata tajam dan Talawang berupa perisai. Namun ada juga yang
menggunakan sumpit sebagai senjata.
Pakaian yang digunakan berupa pakaian khas suku Dayak dan ikat kepala dengan hiasan
bulu burung Enggang. Tubuh para penarinya juga dihiasi tato khas suku Dayak yang sangat
filosofis.
Tarian yang berasal dari ritual sebelum perang ini telah menjadi tarian adat suku Dayak.
Tarian Kinyah Mandau juga telah dimodifikasi dengan ditambahi variasi gerakan agar
semakin indah. Dan juga dibumbui aksi treatikal penarinya yang membuat tarian ini semakin
mengagumkan.
Tarian ini sering ditemui di acara – acara kebudayaan di Kalimantan Tengah. Dalam acara
penyambutan tamu besar juga sering ditampilkan.

Sumber: kamerabudaya.com

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Hindari menyentuh wajah
  6. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga25%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau75%
Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Menuju Asian Games 2018, Siswa SD Tulis Surat Untuk Atlet Tanah Air Sebelummnya

Menuju Asian Games 2018, Siswa SD Tulis Surat Untuk Atlet Tanah Air

Menyaksikan Cara Seniman Memberi HIburan Saat Sedang #dirumahaja Selanjutnya

Menyaksikan Cara Seniman Memberi HIburan Saat Sedang #dirumahaja

Luthfi Rahman
@luthfi24

Luthfi Rahman

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.