Masyarakat Jawa dalam Memaknai Kematian (Bagian 2)

Masyarakat Jawa dalam Memaknai Kematian (Bagian 2)

Ngasa, Tradisi Kabupaten Brebes © Kejawen

"... Dalam budaya Jawa, Tuhan bebas bergerak di dalam hati setiap orang. Ketika mengatakan agama seakan-akan urusan pribadi, justru orang itu sendiri yang harus bisa merasakan di mana dan ke mana Tuhan memanggilnya,"

Kalimat ini menggambarkan bahwa orang-orang Jawa membenci adanya dogmatisme, mengotak-kotakkan individu, dan perasaan sombong.

Hal ini mengingatkan saya dengan salah satu ajaran budaya Jawa yaitu nrimo ing pandum. Jika diartikan per kata, nrimo artinya menerima, ing artinya dalam, dan pandum artinya pemberian.

Jika diartikan keseluruhan, adalah menerima segala yang telah diberikan olehNya, atau yang kita kenal saat ini sebagai perasaan ikhlas.

Jika kita lihat kembali artikel sebelumnya, masyarakat Jawa memandang kematian lebih dari sekedar tidak hidup atau sebuah akhir.

Wayang | Sumber: Wikimedia

Kematian dan rasa ikhlas

Banyak kesalahpahaman terhadap arti kata nrimo. Dianggap bahwa sikap ini menujukkan rasa mudah puas, merasa cukup-cukup saja, dan tidak memiliki keinginan lebih untuk maju.

Padahal nrimo ini berarti perasaan syukur atas apapun yang didapat maupun tidak didapat, karena menurut masyarakat Jawa, semua pemberian dalam kehidupan ini diberikan oleh Tuhan.

Selain itu perasaan nrimo ini juga diartikan sebagai sikap yang terbuka, siap dengan segala konsekuensi dan menjalani risiko yang diterima.

Maka dalam perasaan nrimo ing pandum ini harus dapat dimiliki oleh masyarakat Jawa ketika ada kerabat yang meninggal dunia.

Tiga derajat kematian

Menurut pemahaman masyarakat Jawa, terdapat perbedaan derajat orang mati yang akan membedakan bagaimana jasad tersebut dikebumikan.

Pertama, mati utomo atau kematian orang yang dihormati, seperti bangsawan dan priyayi.

Kedua, mati lumrah atau kematian yang disebabkan oleh usia yang sudah tua atau sakit.

Ketiga, mati nista atau kematian yang disebabkan oleh bunuh diri dan atau kecelakaan.

Sakit dalam pandangan masyarakat Jawa merupakan hilangnya rasa nyaman dalam tubuh, sehingga dalam hal ini sering ditekankan bahwa perlu adanya harmonisasi untuk menjaga keseimbangan antara tubuh, agar tetap waras secara fisik dan batin. Tubuh, pikiran, dan jiwa atau sukma adalah kesatuan yang saling berpengaruh.

Tradisi menghidupkan yang mati

Ketika terdapat kerabat yang meninggal, maka masyarakat Jawa akan merayakan penghormatan dan penghargaan untuk sang jasad.

Kegiatan salah satunya yaitu tahlilan, ritual yang dilakukan keurmunan masyarakat melakukan zikir dan disertai doa-doa tertentu kepada si mayat.

Tahlilan diadakan untuk mendoakan roh agar tidak tersesat saat kembali ke akhirat. Doa yang dipanjatkan yaitu kalimat tayibah dan tamu-tamu yang datang diberi nasi bancakan.

Kata bancakan berasal dari tempat tumpeng pungkur, dibuat dari anyaman bambu yang disebut dengan ancak. Kata ini kemudian berkembang dan menjadi bancak.

Sebutan lain dari makanan yang diberikan ini adalah nasi berkat yang artinya barakah dalam bahasa Arab.

Catatan kaki: Sumekar Tanjung/Konsepsi Kematian a la Jawa | Ngeteh

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang100%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Isitilah 'Munggah Kaji' Awalnya dari Mana? Sebelummnya

Isitilah 'Munggah Kaji' Awalnya dari Mana?

Sepak Terjang Perjalanan Cukur Rambut Asgar Selanjutnya

Sepak Terjang Perjalanan Cukur Rambut Asgar

Nabila Ghaisani
@bellaghaisani

Nabila Ghaisani

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.