Ini Magnet Pariwisata Baru di Teluk Saleh

Ini Magnet Pariwisata Baru di Teluk Saleh

Hiu paus yang telah terpasang tag satelit © Foto: Abraham Sianipar/Conservation International Indonesia/Mongabay Indonesia

  • Ekowisata Hiu Paus menjadi andalan baru untuk pariwisata di Nusa Tenggara Barat. Pengembangan paket wisata tersebut, mulai bergerak masif sejak September 2018 di Desa Labuhan Jambu yang menjadi lokasi perairan Teluk Saleh, Kabupaten Sumbawa
  • Dalam setahun, paket ekowisata Hiu Paus bisa mendatangkan uang hingga mencapai Rp600 juta. Dengan taksiran, Rp550 juta berasal dari penjualan minimal 72 paket wisata dan Rp50 juta berasal dari dana konservasi untuk pengelolaan kawasan perairan
  • Semua potensi dana tersebut bisa didapat utuh, jika masyarakat yang menjadi pengelola utama, bisa melakukan pengelolaan dengan benar. Termasuk, tidak melakukan penggelapan dana, dan atau bentuk penyimpangan pengelolaan lainnya
  • Selain di Teluk Saleh, ekowisata juga sudah ada di Teluk Cendrawasih dan Teluk Triton, Papua. Khusus di Teluk Cendrawasih, ekowisata sudah menjadi primadona pariwisata bagi Kabupaten Nabire dalam beberapa tahun terakhir

Perkembangan ekowisata dalam beberapa dekade terakhir, terus memperlihatkan kemajuan yang signifikan. Di antara yang sedang berkembang, adalah paket ekowisata dengan melibatkan spesies laut seperti Hiu Paus (Rhincodon typus) yang sedang menjadi tren di Teluk Saleh, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Daerah tersebut, mengikuti jejak dua daerah lain yang lebih dulu melakukan hal sama.

Adapun, dua daerah yang lebih dulu menjual paket ekowisata dengan Hiu Paus, adalah Teluk Cendrawasih di Kabupaten Nabire, Provinsi Papua dan Teluk Triton di Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua. Sementara, di Teluk Saleh yang masuk wilayah administrasi Desa Labuhan Jambu, pengembangan ekowisata Hiu Paus mulai dilakukan sejak September 2018.

Conservation International (CI) Indonesia menaksir, ekowisata yang dikembangkan di Teluk Saleh, berpotensi bisa memberi pemasukan untuk kas desa hingga sebesar Rp550 juta per tahun. Potensi itu akan semakin membesar, jika dihitung dengan dana konservasi yang rutin didapatkan desa tersebut setiap tahun sebesar Rp50 juta. Dengan demikian, potensi setiap tahun pemasukan untuk kas desa mencapai Rp600 juta.

Peneliti CI Indonesia Maulita Sari Hani menjelaskan, potensi pendapatan yang muncul dalam pengelolaan ekowisata di Teluk Saleh, didapat dari hasil kajian yang dilakukan selama September 2018 hingga Mei 2019. Pada rentang waktu tersebut, tim CI Indonesia menghitung secara detil semua potensi yang akan masuk dari pengembangan ekowisata Hiu Paus.

Hiu paus yang telah terpasang tag satelit | Foto: Abraham Sianipar/Conservation International Indonesia/Mongabay Indonesia

Tetapi, Maulita mengatakan, semua potensi pendapatan itu bisa saja berkurang, jika masyarakat tidak menerapkan pengelolaan dengan cara yang benar dan transparan. Itu berarti, dalam pengelolaan tidak boleh ada korupsi, pembukuan yang tidak teratur, inkonsistensi peraturan desa, tidak memperhatikan daya dukung pariwisata, perubahan lingkungan, sosial, dan ekonomi.

Hal lain yang dapat mendukung kesuksesan pariwisata ini, menurut Maulita, adalah pelibatan warga dalam perencanaan dan pengelolaan, peningkatan kapasitas untuk penyedia jasa, kerja sama dan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan seperti pemerintah, agen perjalanan, organisasi kemasyarakatan, institusi pendidikan, serta asosiasi.

Warga Desa

Paket ekowisata di Teluk Saleh sendiri, menurut Maulita, sudah mulai dikembangkan sejak 2018, tepatnya saat gelaran Sail Moyo Tambora dilaksanakan pada September 2018. Pada momen langka tersebut, Pemerintah Desa Labuhan Jambu resmi meluncurkan paket wisata Hiu Paus berbasis masyarakat yang pengelolaannya dilakukan secara penuh oleh warga desa.

“Desa Labuhan Jambu menjual pariwisata ini dengan dua paket yaitu wisata dari darat dan wisata dengan kapal rekreasi,” ucapnya dalam keterangan resmi yang dikirim kepada Mongabay, akhir pekan lalu.

Maulita mengungkapkan, dalam penyediaan paket pariwisata, warga Desa memanfaatkan aset yang dimiliki seperti kendaraan roda empat sebagai alat transportasi darat, kamar dalam rumah sebagai tempat menginap wisatawan, perahu motor untuk alat transportasi laut, dan perahu bagan sebagai media interaksi. Kemudian, warga juga memasukkan biaya sebesar Rp100.000 ke dalam paket wisata sebagai dana konservasi.

“Dana tersebut akan digunakan nelayan untuk membetulkan jaring yang rusak akibat hiu paus yang terjerat,” tutur dia.

Salah satu wisatawan yang menikmati pariwisata hiu paus | Foto: Maulita Sari HaniConservation International Indonesia/Mongabay Indonesia

Agar bisa mendapatkan informasi lebih detil tentang potensi pendapatan desa dari ekowisata Hiu Paus, tim CI Indonesia kemudian melakukan kajian estimasi dengan melibatkan wisatawan yang berkunjung. Total, ada 90 wisatawan yang terlibat dalam kajian tersebut dan menghitung semua pengeluaran langsung mereka selama ada di Labuhan Jambu.

Selain wisatawan, CI Indonesia juga melibatkan 50 orang penyedia jasa, dan catatan pembukuan dari Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Labuhan Jambu yang menjadi pengelola ekowisata. Dari data yang masuk, pemasukan dana untuk kas desa dalam setahun diperkirakan bisa mencapai Rp600 juta dan berasal dari paket wisata dan dana konservasi.

“Itu jika dalam setahun bisa menjual minimal 72 paket wisata. Untuk setiap paket yang dibeli warga penyedia jasa mendapat keuntungan sebesar Rp90.000 hingga Rp480.000 sesuai dengan jasa yang disediakan.

Selain dari penjualan paket ekowisata secara langsung, Maulita menambahkan, potensi ekonomi juga akan bertambah lagi jika warga memanfaatkan peluang untuk mengembangkan usaha skala kecil untuk mendukung ekowisata yang sudah ada. Contoh usaha skala kecil, adalah warung makanan ringan, cendera mata, warung makan, penyewaan alat selam dan yang lainnya.

“Juga, wisata ekowisata akan membuka lapangan pekerjaan sebagai pemandu dan interpreter (penerjemah),” tandasnya.

Diketahui, warga Desa Labuhan Jambu telah mengetahui keberadaan Hiu Paus atau biasa dikenal dengan nama Pakek Torok sejak puluhan tahun yang lalu. Tetapi, pemanfaatan ikan terbesar di dunia itu sebelum 2018 tidak ada sama sekali. Baru kemudian, warga tahu bahwa Maladewa mendapatkan banyak sekali uang dari hasil menjual paket ekoturisme Hiu Paus. Dari situ, warda Desa mulai mengembangkan ekowisata di Teluk Saleh.

Wisatawan sedang melihat hiu paus dari bagan | Foto: Maulita Sari HaniConservation International Indonesia/Mongabay Indonesia

Dukungan Penuh

Pengembangan ekowisata, kemudian mendapat dukungan penuh dari pemerintah dari Desa hingga Provinsi. Terbukti, Gubernur NTB kemudian menerbitkan Surat Keputusan tentang Pembangunan Desa Wisata Prioritas Labuhan Jambu. Dukungan seperti itu, diyakini akan mempercepat pengembangan ekowisata dan sekaligus mengelola kawasan perairan dengan tepat.

Seperti disebut di awal tulisan, perairan Teluk Saleh menjadi satu dari beberapa lokasi perairan yang diketahui ditemukan Hiu Paus. Tetapi, dari beberapa lokasi, CI melakukan penelitian di tiga lokasi spesifik, yaitu Teluk Saleh, Teluk Cendrawasih, dan Teluk Triton. Di ketiga lokasi tersebut, karakteristik Hiu Paus ternyata diketahui berbeda antara satu lokasi dengan lokasi lain.

Di Teluk Saleh, Hiu Paus diketahui memiliki pergerakan dengan pola rumahan. Pola tersebut menunjukkan bahwa perairan tersebut menjadi lokasi tempat berkumpulnya Hiu Paus sepanjang tahun. Selain pola musiman, pergerakan Hiu Paus juga terdata menggunakan pola musim dan campuran. Untuk musim, itu ditemukan di Teluk Triton, dan campuran ada di Teluk Cendrawasih.

Elasmobranch Program Manager CI Indonesia Abraham Sianipar menjelaskan, pola musim menjelaskan bahwa Hiu Paus ada di perairan Teluk Triton pada waktu tertentu saja. Sementara, untuk pola campuran, itu adalah gabungan dari pola musim dan rumahan. Dengan demikian, di Teluk Cendrawasih ada Hiu Paus yang menetap dan datang pada waktu tertentu.

“Penemuan yang dilakukan melalui penelitian oleh tim CI Indonesia, berkontribusi banyak untuk menyingkap perilaku Hiu Paus yang sebelumnya masih menjadi misteri. Tiga lokasi yang diteliti, memiliki pola pergerakan yang berbeda-beda,” ucap dia.

Seorang peneliti sedang menyelam bersama hiu paus atau whale sharks di Teluk Cendrawasih, Papua | Foto: Shawn Heinrichs / Conservation International

Menurut Abraham, tiga pola berbeda yang berhasil diketahui, merupakan hasil penelitian yang dilakukan selama beberapa tahun terakhir dan dilakukan dengan melalui pemasangan tag satelit pada 53 Hiu Paus di tiga lokasi tersebut. Dalam penelitian tersebut, tim CI juga mempertimbangkan seluruh Hiu Paus yang diteliti merupakan individu yang belum mencapai kedewasaan.

“Ini mungkin didorong oleh faktor makanan,” tutur dia.

Terungkapnya pola pergerakan yang berbeda, menurut Abraham, bisa muncul karena karakteristik perairan di ketiga lokasi tersebut memang berbeda-beda. Itu terlihat dari perairan Teluk Saleh dan Teluk Cendrawasih yang memperlihatkan pola rumahan dan campuran. Kedua pola tersebut ada, karena bentuk kedua teluk tersebut tertutup dan terisolasi.

“Teluk Saleh ditutup oleh Pulau Moyo sedangkan Teluk Cendrawasih oleh Pulau Yapen dan Biak. Selain itu, kedua teluk ini mendapatkan keuntungan dari ekosistem hutan mangrove yang menyediakan nutrisi dan makanan yang melimpah untuk hiu paus sepanjang tahunnya,” papar dia.

Selain kedua teluk di atas, Abraham menjelaskan, perbedaan pola pergerakan Hiu Paus yang ada di perairan Teluk Triton, bisa terjadi karena bentuk teluk yang relatif terbuka dan kondisi oseanografi yang dipengaruhi oleh perubahan musim angin. Oleh itu, saat temperatur permukaan laut menjadi lebih dingin pada musim angin timur, Hiu Paus akan bergerak ke Laut Arafura untuk mencari makanan.

Seorang peneliti sedang menyelam bersama hiu paus atau whale sharks di Teluk Cendrawasih, Papua | Foto: Shawn Heinrichs / Conservation International


Catatan kaki: Ditulis oleh M Ambari dan diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi100%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Dumbo Sang Penghuni Baru Batu Secret Zoo Sebelummnya

Dumbo Sang Penghuni Baru Batu Secret Zoo

Sang Dadak Merak-pun Pukau Masyarakat Belanda Selanjutnya

Sang Dadak Merak-pun Pukau Masyarakat Belanda

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.