Macam-Macam Wayang di Indonesia (Bagian 2)

Macam-Macam Wayang di Indonesia (Bagian 2)

Perwayangan © Wikimedia

Di artikel sebelumnya, Good News from Indonesia (GNFI) telah merangkum berbagai jenis wayang yang ada di Indonesia. Namun karena keterbatasan tempat, artikel kami bagi menjadi dua, dan inilah bagian terakhirnya.

Wayang Menak

Cerita bersumber dari buku serat menak yang berasal dari kitab “Qissai Emr Hamza” sebuah karya sastra Persia pada zaman pemerintahan Sultan Harus Al-Rayid, yang lebih dikenal sebagai “Hikayat Amir Hamzah” di daerah Melayu.

Berdasarkan hikayat tersebut kemudian dipadukan dengan cerita panji dan diubah dalam Bahasa Jawa yang kemudian dikenal dengan Serat Menak.

Wayang Menak | Sumber: hadisukirno.com

Wayang menak terbuat dari kulit yang ditatah dan disungging. Ada juga yang terbuat dari kayu masuk dalam jenis golek disebut sebagai Wayang Tengul.

Menak Jawa Timur | Sumber: Wayangku.id

Pementasan biasanya menggunakan wayang golek menak, sedangkan untuk pementasan wayang kulit menak menggunakan kelir dan blencong. Tokoh-tokoh wayang mengenakan sepatu dan menyandang klewang dan tokoh raja memakai baju dan keris.

Wayang Menak Cirebon | Sumber: Wayangku.id

Wayang Babad

Ceritanya bersumber pada babad atau sejarah setelah masuknya agama Islam di Indonesia. Disajikan kisah-kisah kepahlawanan dalam masa kerajaan Demak dan Pajang.

Disebut juga sebagai wayang sejarah dengan jenis-jenis wayang dupara, dan wayang Jawa.

Wayang dupara diciptakan oleh Sri Susuhunan Pakubuwono X pada tahun 1830-an, yang bercerita mengenai kerajaan Demak sampai era Mataram Islam. Wayang ini terbuat dari kayu dan kulit.

Tokoh di dalamnya ada Sultan Agung Adi Prabu Hanyakrakusuma, Jan Pieterzoon Coen, Evaatau Yefge Ment, dan Kapten Francois Tack.

Tokoh Harya Panansang Wayang Dupara | Sumber: Plengdut.com

Wayang Modern

Terdiri dari wayang wahana, wayang kancil, wayang wahyu, dan wayang dobel.

Wayang wahana memiliki bentuk seperi manusia yang digambar secara dua dimensi dan diberi pegangan seperti wayang kulit. Ceritanya berdasarkan zaman sekarang dan dikatakan sebagai wayang sandiwara.

Wayang modern menjadi wayang perjuangan, dan Kementerian Penerangan RI memanfaatkan sebagai sarana penerangan yang kemudian menjadi wayang Suluh.

Tokoh-tokoh wayang tersebut adalah Bung Karno presiden pertama RI, Dr. Schermerhorn wakil kerajaan Belanda zaman revolusi kemerdekaan RI, dan tokoh-tokoh TNI lainnya.

Wayang kancil memiliki figur binatang. Ki Ledjar merupakan sosok yang melestarikan wayang kancil tersebut. Melalui wayang tersebut binatang kancil yang dianggap licik menjadi tokoh inspiratif melalui media wayang. Wayang kancil menyampaikan pesan-pesan luhur tentang kehidupan.

Wayang kancil | Sumber: Ngalam.co

Kemudian wayang wahyu mengambil cerita dari Alkitab. Mulai populer di lingkungan Gereja Katolik sejak tahun 60-an sebagai upaya mendekatkan isi kitab suci dengan umat.

Wayang wahyu dipentaskan pada 2 Februari 1960 di gedung Sekolah Kejuruan Kepandaian Puteri Purbayan Solo, dengan ,enampilkan serangkaian lakon Malaikat Mbalela, Manusia Pertama jatuh dalam Dosan, dan Kelahiran Tuhan Yesus Kristus.

Mulanya disebut wayang katolik dan kemudian diubah menjadi wayang wahyu.

Wayang wahyu | Sumber: Kompas.com

Wayang dobel terbuat dari kulit kerbau yang ditatah dan disungging. Mengambil kisah dari Surat Ambiya, mengisahkan cerita-cerita islam, kisah Airlangga, cerita Raja Menak, babad Tanah Jawi, dan sebagainya.

Wayang Dobel | Sumber: Wayangku.id

Jenis lain dari wayang modern adalah wayang Pancasila, wayang sejati, wayang Budha, wayang Jemblung, Dalang Jemblung, Dalang Kentrung, dan Wayang Sadat.

Wayang topeng

Masuk dalam wayang wong karena ditampilkan oleh seorang penari yang mengenakan topeng. Beberapa wayang topeng adalah topeng Malang, Topeng Dalang Maura, Wayang Topeng Jawa, Topeng Cirebon, Topeng Losari, Topeng Wayang Betawi, dan Topeng Bali.

Wayang Topeng | Sumber: Wayangku.id

Sumber: wayangku.id | wayangku.id | historia.id | kemdikbud.go.id | wayangku.id | ewayang.wg.ugm.ac.id/ | staff.ui.ac.id

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi100%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Mural di Indonesia: Media Bebas Berekspresi yang Indah Sebelummnya

Mural di Indonesia: Media Bebas Berekspresi yang Indah

Bakohumas BIN Antisipasi Berbagai Kerawanan Kebijakan Penyederhanaan Regulasi Selanjutnya

Bakohumas BIN Antisipasi Berbagai Kerawanan Kebijakan Penyederhanaan Regulasi

Kendita Agustin M.A
@kenditaagustin

Kendita Agustin M.A

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.