Bendung Katulampa, Beton Belanda Pengendali Banjir Jakarta

Bendung Katulampa, Beton Belanda Pengendali Banjir Jakarta

Bendung Katulampa di Bogor, saat musim hujan © Yulius Satria Wijaya/ANTARAFOTO

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

  • Mengenal sejarah Bendung Katulampa.
  • Bangunan pengendali banjir ini adalah peninggalan Belanda.
  • Bendung Katulampa dibangun tahun 1889, dan mulai beroperasi tahun 1911.

Nama Bendung Katulampa selalu mencuat ketika musim hujan tiba. Sebab, beton-beton pengendali air yang berlokasi di Kelurahan Katulampa, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, ini bisa jadi penentu apakah Jakarta akan banjir atau tidak.

Dari tahun ke tahun, keberadaan Bendung Katulampa masih sangat krusial. Padahal, usia bendungan ini sudah sangat tua. Ia didirikan Belanda tahun 1889, dan mulai beroperasi tahun 1911.

Banjir besar Jakarta di tahun 1872 menjadi alasan di balik pembuatan bendung sepanjang 74 meter ini. Saking parahnya, kawasan elite Harmoni sampai terendam banjir saat itu, akibat luapan Sungai Ciliwung.

Insinyur Hendrik van Breen kemudian ditugaskan untuk merancang bangunan yang bisa mengendalikan air dari hulu ke hilir. Hendrik van Breen sendiri adalah insinyur sipil yang ahli dalam bidang pengairan dan kesehatan lingkungan.

Waktu itu ia juga bergelar Guru Besar Teknik Sipil Bidang Bangunan Air Technische Hoogeschool te Bandoeng. Universitas tersebut sekarang kita kenal dengan nama Institut Teknologi Bandung atau ITB.

BACA JUGA: Reini D. Wirahadikusumah, Rektor Perempuan Pertama di ITB

Setelah debutnya pada 1911, proyek senilai 80 ribu gulden ini diresmikan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Alexander Willem Frederik Idenburg. Peresmian juga dimeriahkan tarian-tarian yang diiringi gamelan, serta upacara selamatan dengan kepala kerbau.

Bendung Katulampa memiliki delapan pintu air, dengan lebar masing-masing empat meter. Lima pintu air digunakan untuk mengalirkan arus ke kawasan di bawahnya, dan tiga pintu lainnya untuk menahan air, jika volume air berlebihan dan bisa menimbulkan luapan besar di kawasan bawah.

Puluhan tahun beroperasi, Bendung Katulampa akhirnya mendapat renovasi di tahun 2004. Dana sebesar Rp300 juta dipakai untuk renovasi ini, yang disedot dari Anggaran Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Barat.

Meski usianya sudah mencapai satu abad, tapi Bendung Katulampa sampai sekarang masih berfungsi normal. Perubahan hanya terjadi di kegunaannya saja. Kalau dulu juga dipakai untuk irigasi, sekarang tidak lagi, karena areal persawahan di Jakarta sudah habis dan tidak tersisa banyak di Bogor.

BACA JUGA: Jawa Barat Sang Juragan Stadion

Alhasil, fungsi Bendung Katulampa sekarang lebih untuk memantau ketinggian air. Petugas di Bendung Katulampa akan memberi laporan ketinggian air, dan diperkirakan air akan sampai 3-4 jam kemudian di Depok. Dari Depok, pemantauan dilakukan lagi, dan hasilnya dilaporkan ke Jakarta.

Dari situ, dapat diprediksi kapan Jakarta akan mengalami banjir dari luapan Sungai Ciliwung. Terutama jika terjadi curah hujan tinggi dalam waktu yang lama, seperti di malam tahun baru 2020 kemarin.

Referensi: TEMPO.co | okezone.com

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau100%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Velodrome yang Serba Guna dan Serba Ada Sebelummnya

Velodrome yang Serba Guna dan Serba Ada

Melihat Sudut Pandang Desa di Indonesia Lewat Kongres Kebudayaan Desa Selanjutnya

Melihat Sudut Pandang Desa di Indonesia Lewat Kongres Kebudayaan Desa

Aditya Jaya Iswara
@adityajoyo

Aditya Jaya Iswara

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.