Mika Muka, APD Buatan Rumahan untuk Puskesmas dan Klinik Kecil

Mika Muka, APD Buatan Rumahan untuk Puskesmas dan Klinik Kecil
info gambar utama

Kawan GNFI, pemerintah mengimbau masyarakat Indonesia untuk selalu menggunakan masker ketika keluar rumah atau menumpang ke kendaraan umum. Hal itu disampaikan Direktur Jenderal (Dirjen) Perhubungan Darat, Kementerian Perhubungan RI, Budi Setiyadi.

"Saya mengimbau masyarakat sekarang di tempat-tempat umum, terutama transportasi umum, sekarang kita gunakan masker saja," katanya awal bulan lalu (2/3).

Masalah kemudian timbul ketika masyarakat umum hingga sedikit kesulitan mendapatkan masker. Melihat kondisi darurat tersebut, masyarakat lainnya bergotong royong menyumbangkan masker yang dibeli dari hasil donasi yang mereka lakukan.

Bahkan, ada kalangan masyarakat yang sebelumnya aktif pada industri garmen, konveksi, maupun usaha mandiri seperti tukang jahit, berupaya membuat masker berbahan dasar kain.

Belakangan, juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19, Achmad Yurianto, mengatakan bahwa saat ini pemerintah tengah menjalankan program "Masker untuk Semua" mulai 5 April sesuai anjuran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

"Semua harus menggunakan masker. Masker bedah dan masker N95 hanya untuk petugas kesehatan. Gunakan masker kain. Ini penting karena kita tidak pernah tahu orang tanpa gejala didapatkan di luar," ujar Yuri, Minggu (5/4).

Lebih jauh ia menganjurkan bahwa masyarakat harus terus menjaga diri, yakni memakai masker kain jika keluar rumah, dan saat masuk rumah mencuci tangan dengan sabun.

Upaya jaga diri ini nampaknya terus dilakukan anak-anak negeri melihat situasi yang sama sekali belum kondusif, karena masih banyak sekali terlihat masyarakat yang wara-wiri di jalan raya tanpa mengenakan masker atau alat pelindung wajah.

Kami angkat jempol untuk upaya yang dilakukan oleh beragam organisasi atau perkumpulan masyarakat tadi, seperti yang saat ini juga dilakukan oleh perkumpulan masyarakat yang aktif berkarya di rumah.

Adalah Yani Sujaya dan beberapa rekannya, yang merupakan anggota relawan Masyarakat Anti Fitnah dan Hoaks Indonesia (Mafindo) menginisiasi untuk membuat pelindung wajah—masuk dalam kategori alat pelindung diri (APD), yang mereka beri nama Mika Muka. Namanya sederhana dan mudah diingat. Begitu kira-kira yang ada di benak Yani cs.

Secara fisik, Mika Muka tak jauh beda dengan face shield maskbuatan ITS. "Masker" ini terbuat dari bahan mika yang lebarnya dilengkungkan pada seputar telinga kiri hingga telinga kanan, dan tingginya dari jidat hingga batasan dagu. Sebagai pengaitnya, ada kombinasi dari bahan PVC dan karet.

Jika ITS memproduksi dalam skala besar dan diperuntukkan untuk pekerja medis rumah sakit, maka Yani dan teman-temannya membuat Mika Muka melalui produksi rumahan yang nantinya bakal diperuntukkan untuk pekerja jasa layanan—semisal petugas pom bensin, puskesmas, dan klinik kecil.

“Tujuannya memang untuk masyarakat pekerja informal, puskesmas, maupun klinik, yang kesulitan mendapatkan APD jenis ini” jelas Yani pada GNFI (6/4).

Kampanye donasi Mika Muka | Dok. Yani Sujaya
info gambar

Alur Kerja dan Distribusi

Meski dilakukan secara kelompok mandiri dalam skala kecil, namun Yani dan temen-teman memiliki skema produksi dan pendistribusian yang jelas. Lantas, dari mana uangnya? Ya tentunya dari ragam donasi yang mereka kumpulkan.

Saat ini kemampuan Yani dan temen-teman memproduksi Mika Muka hanya pada angka 100-160 unit sehari, dengan target mampu mendistribusikan hingga satu juta Mika Muka.

Untuk pengerjaannya, mereka dibantu secara teknis pada Sxala Modeler, sebuah produsen miniatur 3D yang akrab dengan olahan berbahan PVC. Namun, keterbatasan alat masih menjadi salah satu kendala untuk menggenjot jumlah produksi dalam sekala besar.

Sejatinya, sejak Jumat (3/4), Yani dan teman-teman telah mendistribusikan APD ini ke target distribusi, dan minggu ini rencananya APD juga akan mulai didistribusikan di luar Jakarta dengan memanfaatkan jejaring di media sosial.

“Doakan, semoga upaya kami lancar,” pungkas Yani.

---

Sumber: Liputan6.com | CNBC Indonesia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Mustafa Iman lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Mustafa Iman.

Terima kasih telah membaca sampai di sini