Mengenal Tradisi 'Jimpitan' di Tengah Pandemi, Mungkin Bisa Jadi Solusi

Mengenal Tradisi 'Jimpitan' di Tengah Pandemi, Mungkin Bisa Jadi Solusi
info gambar utama

Selain berdampak terhadap kesehatan, pandemi Covid-19 juga mengancam sektor lainnya seperti ekonomi. Pekerja-pekerja yang mengandalkan penghasilan harian serta masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah, sangat rentan terkena dampak pandemi global ini. Mereka kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Di tengah krisis itu, pada 2 April 2020 lalu, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, mengajak masyarakat untuk kembali menghidupkan tradisi Jimpitan. Sebuah tradisi asli Indonesia yang sudah ada sejak lama, tapi tidak populer sekarang.

Apa itu jimpitan?

Orang-orang yang tinggal di perkotaan--Jakarta misalnya--pada umumnya tidak mengenal istilah jimpitan. Istilah itu lebih dikenal di kalangan masyarakat pedesaan, khususnya pedesaan di Jawa Tengah dan Timur. Jimpitan berasal dari kata ‘jumputan’ atau ‘menjumput’ yang berarti mengambil sedikit.

Sementara dalam artikel di GNFI yang berjudul Mengulik Makna Tradisi Jimpitan karya Ahmad Cholis, jimpitan diartikan menjadi, ‘jimpit’ dalam bahasa Jawa berarti ‘wilonganing barang lembut nganggo pucukin driji’. Atau dalam bahasa Indonesia berarti mengambil barang lembut/kecil dengan menggunakan ujung jari.

Cholis menambahkan, untuk arti yang lebih konkretnya ialah, “beras kang diklumpukake saka warga kanggo ragad pakumpulan desa--atau beras yang dikumpulkan warga demi kepentingan perkumpulan desa.”

Ilustrasi 'jimpitan' menggunakan wadah gelas plastik bekas air mineral | Kompasiana.com
info gambar

Pada praktiknya, jimpitan adalah sebuah tradisi menabung kolektif ala masyarakat desa di Jawa. Caranya dengan mengumpulkan iuran berupa beras yang diambil dari tiap rumah di desa.

Secara sukarela warga desa menaruh sedikit beras menggunakan wadah kecil yang digantung di depan rumahnya. Lalu, setiap malam, petugas ronda yang menjaga keamanan kampung akan mengumpulkannya.

Beras-beras yang terkumpul itu, menjadi semacam tabungan desa untuk membantu warga yang sedang membutuhkan. Selain itu juga bisa dimasak saat ada acara desa, seperti peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus dan kegiatan-kegiatan desa lainnya.

Seiring berjalannya waktu, objek yang dikumpulkan tidak harus beras. Sesuai kesepakatan bersama, ada juga desa yang mengubahnya menjadi uang. Praktiknya tetap sama, tiap warga desa menaruh wadah di depan atau di samping rumah mereka.

Wadah bisa berupa gelas plastik bekas kemasan air mineral, kaleng kecil, atau apapun saja, yang penting bisa dijadikan wadah. Di dalam wadah tersebut, diisi uang untuk dikumpulkan menjadi tabungan desa. Mekanisme penyimpanan dan penyalurannya, akan dimusyarawahkan bersama-sama.

Solusi Di Tengah Corona

Menurut Ganjar, tradisi ini bisa menjadi solusi pemenuhan kebutuhan ekonomi masyarakat secara mandiri. Di tengah merebaknya virus corona, desa-desa yang masih melestarikan tradisi jimpitan, bisa memenuhi kebutuhan warganya yang kurang mampu melalui tabungan rutin ala desa ini.

“Mulai hidupkan lagi jimpitan, yang muslim zakat infak dan sedekahnya bisa dioptimalkan. Tanami lahan-lahan kosong dengan tanaman kebutuhan pokok sehari-hari. Kalau itu bisa dilakukan, maka daya tahan kita akan kuatkan lewat desa,” kata dia, di Semarang (2/4/2020), dikutip dari Kompas.com.

Selain itu, jimpitan juga dapat berfungsi membantu masyarakat yang membutuhkan. Misalnya, bagi mereka yang terinfeksi virus corona atau mereka yang dirumahkan dari perusahaan akibat pandemi Covid-19 ini. Melalui jimpitan dan mekanisme yang disepakati antarwarga, kebutuhan sehari-hari mereka bisa dijamin oleh desa.

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo | Kompas.com/Pemprov Jateng
info gambar

“Minimal, dengan kekuatan itu, desa bisa menolong. Maka [jika] ini kompak, bantuan dari pemerintah pusat ada, kekuatan dari bawah juga ada. Mari kita kembalikan kekuatan gotong royong dengan kultur desa ini, agar kita semua bisa melewati masa-masa sulit seperti saat ini,” ujar Ganjar.

Ganjar meyakini bahwa kearifan lokal adalah kekuatan terpendam yang dimiliki warga desa untuk melawan pageblug ini. Desa, kata dia, justru bisa bertahan karena kultur masyarakatnya yang masih komunal dan mau berbagi.

Selain gotong royong dalam pemenuhan kebutuhan pangan, desa juga bisa melakukan pembatasan sosial secara mandiri dan lebih ketat. Caranya bisa dengan kembali menggalakan ronda atau siskamling secara bergantian.

“Kalau sebelumnya ronda hanya malam, sekarang siang juga. Jaga perbatasan desa, data setiap pendatang dan arahkan karantina mandiri agar aman dari penyebaran virus,” katanya. Melalui cara itu, Ganjar berharap, dapat meminimalisir penyebaran virus corona yang tengah menjadi pandemi saat ini.

Gotong Royong Menghapus Kesenjangan Sosial

Indonesia memang terkenal dengan sikap gotong royong, saling membantu dalam kesulitan. Kearifan lokal seperti jimpitan juga merupakan bentuk gotong royong di masyarakat. Secara sadar dan sukarela, masyarakat menghimpun bahan pangan atau uang untuk disalurkan kepada tetangga-tetangga mereka yang membutuhkan.

Meski terkesan sederhana, tradisi ini sudah teruji mampu mengatasi permasalahan sosial di sektor ekonomi sejak dulu. Dikutip dari laman Indonesia.go.id, menurut ahli budaya Jawa, Prapto Yuwono, tradisi ini lahir sejak warga desa di Jawa memiliki kesadaran untuk tinggal berkelompok dengan warga lain. Mereka sama-sama memiliki kesulitan ekonomi pada masa penjajahan Belanda.

Dengan kata lain, ini juga merupakan simbol solidaritas dan ketangguhan menghadapi kesulitan ekonomi dari masyarakat pedesaan sejak zaman penjajahan dulu.

Ilustrasi Jimpitan
info gambar

Kita pasti memahami bahwa tidak setiap orang memiliki kemampuan ekonomi yang sama. Karena itu, lewat tradisi jimpitan, masyarakat diajak saling peduli dan bahu-membahu untuk mengatasinya. Apalagi ditengah situasi pandemik seperti saat ini. Masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada pekerjaan harian, banyak yang mengalami kesulitan memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

Seandainya tradisi jimpitan ini secara merata dilakukan di seluruh wilayah Indonesia--baik pedesaan maupun perkotaan. Mungkin pemberlakuan karantina wilayah untuk mencegah semakin menyebarluasnya virus corona, tidak perlu ragu-ragu dilakukan.

Sebab, masyarakat sudah memiliki mekanisme sendiri untuk saling membantu memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Tanpa harus berpangku tangan kepada pemerintah, jimpitan mungkin bisa menjadi solusi

Sumber: GNFI | Kompas.com | Indonesia.go.id | MediaIndonesia.com | Kompasiana.com

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini