Songkabala, Ritual Penangkal Bala dan Penyakit dari Sulawesi

Songkabala, Ritual Penangkal Bala dan Penyakit dari Sulawesi
info gambar utama

Indonesia memang negeri yang amat kaya dengan budaya dan tradisi. Dari ujung barat hingga ujung timur, setiap daerah memiliki keunikan budayanya masing-masing. Apalagi, jika dikaitkan dengan cara masyarakat menanggapi wabah penyakit, seperti pandemi Covid-19 yang sedang merebak sekarang ini. Setiap masyarakat dari latar budaya yang berbeda-beda, memiliki tradisinya sendiri-sendiri.

Di Jawa, misalnya, dalam kondisi yang disebut pageblug atau saat terjadinya wabah penyakit, ada masyarakat yang secara kompak memasak sayur lodeh tujuh warna. Mereka meyakini, bahwa dengan mengonsumsi sayur lodeh tujuh warna, pageblug akan segera hilang dari lingkungan mereka.

Sementara masyarakat dengan latar budaya Jawa memiliki tradisi memasak sayur lodeh untuk menangkal pageblug. Orang-orang Bugis dan Makassar juga memiliki tradisi sendiri dalam menanggapi keadaan babbara. Babbara dalam bahasa Makassar artinya bencana, wabah, atau penyakit.

Dikutip dari Etnis.id, tradisi itu bernama songkabala, sebuah ritual yang dalam bahasa Makassar artinya tolak bala. Atau bila dimaknai secara bebas berarti meminta/memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Kabarnya, tradisi tersebut telah ada sejak ratusan tahun lalu. Dalam sejarah kehidupan masyarakat Bugis dan Makassar, pernah terjadi suatu musibah yang mengancam kesehatan dan keselamatan hidup. Musibah itulah yang akhirnya memicu masyarakat untuk membuat sebuah ritual memohon perlindungan kepada Tuhan dari segala macam bencana.

Songkabala dilakukan dengan membakar daun lawarni (leko' lanra, Makassar-lawarani, Bugis), masyarakat di daerah lain, ada yang mengenalnya dengan sebutan daun legundi.

Ritual songkabala biasanya dilaksanakan pada sore hari menjelang magrib. Caranya dengan membakar sabut kelapa di dalam sebuah mangkok. Setelah sabut kelapa terbakar, masukkan daun lawarni. Jika sudah berasap, simpan mangkok di belakang atau depan pintu rumah.

Asap yang dihasilkan itu, diyakini mampu menghalau penyakit atau bala agar tidak masuk ke dalam rumah, sehingga orang yang tinggal di dalamnya, terhindar dari wabah. Kemudian, saat asap membubung, doa-doa mulai dibacakan kepada Tuhan.

Menurut penulis buku-buku spiritual, Achmad Chodjim, doa memang memiliki khasiat bagi diri orang yang membacanya. “Doa yang diucapkan dengan kesungguhan hati dan penuh keyakinan akan memunculkan energi bagi orang yang membacanya,” tulis Chodjim dalam bukunya Sunan Kalijaga: Mistik dan Makrifat.

Sejalan dengan itu, masyarakat yang melakukan ritual songkabala meyakini bahwa doa merupakan penghantar energi, bentuk komunikasi dari hamba kepada Tuhannya. Doa juga merupakan bentuk permohonan agar semua harapan, tujuan dan cita-cita dapat tercapai.

Daun Lawarni Penuh Khasiat dan Banyak Nama

Lawarani menurut orang Bugis berarti berani, mungkin karena khasiatnya yang konon mampu membunuh kuman di udara yang bisa menimbulkan penyakit menular. Dikutip dari Greeners.co, daun lawarni memiliki nama berbeda di beberapa daerah di Indonesia. Misalnya di Minang, daun yang berbau aromatik itu bernama lagundi atau lilegundi, di Sunda dikenal dengan langgundi, di Sumbadisebut galumni, dan di Bima dikenal dengan sagari.

Lawarni tersebut termasuk tanaman perdu. Pada umumnya tanaman ini tumbuh liar pada daerah hutan jati, hutan sekunder, di tepi jalan, pematang sawah. Usai diteliti, kandungan senyawa aktif dalam daun ini nyatanya memang berkhasiat bagi kesehatan.

Tumbuhan yang berbau wangi itu kerap digunakan sebagai obat tradisional oleh masyarakat di Sumatera, Jawa, dan Sulawesi. “Daunnya kerap digunakan untuk obat analgesik, antipiretik, obat luka, obat cacing, obat tipus, peluruh kencing dan kentut, pereda kejang, menormalkan siklus haid, dan pembunuh kuman,” dikutip dari Greeners.co. Selain itu, di Bali, tumbuhan ini terkenal sebagai bahan baku pembuatan obat nyamuk.

Daun Lawarni atau daun Legundi yang biasa digunakan untuk ritual songkabal |Greeners.co
info gambar

Dilakukan Menjelang Magrib

Sejak dulu, oleh orang-orang Bugis dan Makassar, songkabala diyakini sebagai penangkal untuk berbagai wabah penyakit. Keyakinan itu juga berlanjut saat wabah malaria melanda Sulawesi Selatan. Karena kelengkapan fasilitas kesehatan waktu itu belum memadai, masyarakat menjadikan tradisi bakar lawarani (songkabala) sebagai kegiatan rutin menjelang waktu salat magrib.

Mengapa dilakukan menjelang waktu salat Magrib?

Karena, saat itu kondisi bumi sedang berpindah dari siang ke malam. Hal itu juga berkaitan dengan mitos larangan keluar saat Magrib. Menurut kepercayaan orang Bugis dan Makassar, pada waktu magrib, banyak setan atau jin yang bergentayangan di luar rumah, sehingga rumah harus dijaga agar tidak kemasukan roh jahat dengan melaksanakan songkabala.

Selain membakar daun lawarni, buah pisang biasanya digunakan dan diletakkan di atas wadah. Pisang lebih dulu dipotong ujungnya (nissunaki) sembari dicuci. Nisunnaki dianggap membuang kotoran pada pisang. Setelah prosesi ini, pisang bisa diolah untuk dimakan bersama.

Bila diteliti lebih dalam, pisang memang kaya dengan kandungan vitamin. Mengonsumsinya akan meningkatakan vitalitas tubuh. Selain itu, pisang juga berfungsi sebagai antidetoks yang bisa meningkatkan daya tahan tubuh sehingga terhindar dari penyakit.

Google Image
info gambar

Bisa Dilakukan Secara Kolektif

Selain bisa dilakukan secara mandiri di masing-masing rumah. Songkabala juga bisa dilakukan secara kolektif, seperti sesama warga desa. Jika dilaksanakan secara kolektif, umumnya dilakukan dengan berbagai macam ritual khusus, disertai sajian sepertika’do massingkulu’ (kue dari beras yang dibungkus bambu), lappa-lappa, dan hidangan lainnya.

Sajian diletakkan di wadah besar yang berbentuk bulat. Wadah tersebut terbuat dari bahan besi (kappara) yang ditutup menggunakan daun lontar yang sudah dibentuk bulat. Berbagai hidangan ditata rapi lalu ditutupi kain putih. Maknannya adalah agar jiwa-jiwa manusia yang berbuat salah dan dosa kembali suci.

Makanan yang sudah ditata kemudian dibawa ke masjid sebelum Magrib. Di sana, hidangan dikumpulkan. Usai salat Magrib, doa-doa dipanjatkan oleh tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk memohon keselamatan dari segala bala yang mengancam.

Tata cara tradisi songkabala di setiap daerah bisa saja berbeda-beda.Tempat pelaksanaannya pun juga bisa berbeda-beda. Ada yang melaksanakannya di masjid, rumah adat, atau rumah yang dianggap sepuh. Namun, makna yang terkandung di dalamnya tetap sama, yaitu menolak segala macam penyakit atau bala.

Kini, di tengah ancaman pandemi Covid-19, mungkin songkabala bisa menjadi salah satu cara untuk memohon keselematan dari Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu, juga sebagai bentuk pelestarian kearifan lokal yang mencerminkan identitas bangsa.

Sumber: Etnis.id | Kemdikbud.go.id |Greeners.co | 'Sunan Kalijaga: Mistik dan Makrifat (Achmad Chodjim)

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini