Tradisi Sayur Lodeh Penangkal ‘Pageblug’ dan Terminologi ‘Terserah Lo deh’

Tradisi Sayur Lodeh Penangkal ‘Pageblug’ dan Terminologi ‘Terserah Lo deh’
info gambar utama

Beberapa waktu lalu, beredar pesan di whatsapp group (WAG) masyarakat Yogyakarta yang isinya imbauan dari Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X, untuk memasak sayur lodeh tujuh warna. Tujuannya untuk menangkal penularan virus Corona yang saat ini tengah menjadi pandemi dunia.

Pesan berantai itu mengingatkan kita saat terjadi bencana gempa di Yogyakarta 2006 lalu. Kala itu warga Yogyakarta ramai-ramai memasak sayur lodeh yang terdiri dari tujuh bahan dasar, yaitu kluwih (nangka muda), cang gleyor (kacang panjang), terung, waluh (labu), godong so (daun melinjo), melinjo, dan tempe. Konon masing-masing bahan memiliki makna dan harapan yang terkandung di dalamnya.

“Dulu pas gempa 2006 juga kami bikin sayur lodeh dengan bahan-bahan seperti perintah Sultan, dan terbukti bencana gempa cepat berlalu,” tutur Parni (57), seorang ibu dari Kampung Kepuhan, Sleman, Yogyakarta, dikutip dari Suara.com.

Namun, imbauan tersebut telah dinyatakan hoaks oleh Humas Pemda DIY. Kendati demikian, sebagian masyarakat Yogya, masih tetap memasak jangan lodeh (jangan = sayur (Jw). Masyarakat percaya, pada kondisi pageblug atau merebaknya wabah penyakit seperti Covid-19 sekarang ini. Menyajikan sayur lodeh manjur untuk menolak bala.

Dilansir dari Gatra.com (3/4/2020), kata budayawan Irfan Afifi, tindakan masyarakat tersebut merupakan tradisi untuk menyikapi bencana. “Kalau pengetahuan seperti ini adalah pengetahuan tradisi. Ia tidak harus menunggu konfirmasi sains,” ujar Irfan.

Irfan menambahkan, bahwa memasak sayur lodeh tujuh warna secara spontan hanya berdasarkan keyakinan. Jadi tidak perlu diperdebatkan apakah itu benar berkhasiat atau tidak. “Itu cukup diyakini atau tidak, tinggal dipilih” tambahnya.

Bahan-bahan untuk membuat sayur lodeh, terdiri dari tujuh jenis bahan yang berbeda | Google Image/Trendsmap
info gambar

Otak-Atik Gathuk,Cocok-Cocokan Ala Budaya Jawa

Peneliti sejarah Jawa, Yoseph Kelik mengatakan, bahwa pemaknaan dari sayur lodeh tujuh warna itu, merupakan hasil dari kebiasaan orang-orang Jawa melakukan otak-atik gathuk atau mencocok-cocokkan segala sesuatu.

Senada dengan Kelik, sejarawan kuliner, Fadly Rahman, juga menganggap itu hanya kebiasaan menghubungkan segala halkhas orang Jawa. Fadly dan Kelik berpendapat sama, bahwa belum ada rujukan yang pasti berkaitan dengan tradisi sayur lodeh tujuh warna dan relevansinya dengan kondisi pageblug.

Fadly menambahkan, peran sayur lodeh sebagai penolak bala atau wabah penyakit itu tidak sepenuhnya benar. Hal itu, bisa jadi hanya sekedar daya pikat tambahan saja untuk hidangan tersebut.

Dia mencontohkan dengan hidangan lain seperti nasi tumpeng. Dalam budaya Jawa, nasi tumpeng juga memiliki nilai sakralnya tersendiri. Nasi tumpeng biasa dihidangkan saat ada upacara ritual tertentu di Nusantara.

“Dalam tradisi masyarakat Jawa, sejak masa pra Islam, tradisi pageblug ini sudah ada di lingkungan masyarakat agraris sebagai penolak bala termasuk wabah yang biasa terjadi di kala panen atau saat masa kelaparan. Kemudian, hadirlah makanan sebagai sesaji kala melakukan ritual tersebut. Makanan hadir sebagai simbol rasa syukur, atau termasuk harapan menolak bala,” terang Fadly,seperti dikutip dari Kumparan.com.

‘Terserah lo deh’

Menurut orang Jawa, dari ketujuh bahan dasar sayur lodeh masing-masing memiliki makna dan harapannya tersendiri.

Misalnya kluwih yang dalam bahasa Jawa bermakna ‘kluwargo luwihono anggone gulowentah gatekne’. Dalam bahasa Indonesia berarti keluarga menjadi yang utama dan harus diperhatikan.

Berkaitan dengan itu, Fadly juga menganggap hanya berasal dari cocok-cocokan ala orang Jawa saja. Akan lebih masuk nalar, menurutnya, kalau kita kaitkan kehadiran sayur lodeh dengan ketersediaan pangan khas Nusantara.

Secara historis sayur lodeh muncul sejak abad ke 16-17. Kala itu di Indonesia mulai dibudidayakan varian pangan lokal seperti jagung atau kacang panjang. Bibitnya dibawa oleh bangsa Spanyol dan Portugis. Lantas bahan-bahan tersebut dikonsumsi oleh masyarakat lokal, menjadi makanan sehari-hari.

Seiring berjalannya waktu, muncul kreativitas dari masyarakat dengan berinsiatif membuat panganan khas Nusantara, salah satunya adalah sayur lodeh. Bahannya dari kombinasi berbagai hasil pertanian yang tumbuh di Indonesia. Santan dalam sayur lodeh, termasuk bentuk kreativitas masyarakat di Jawa saat itu.

Lukisan yang menggambarkan perang antara Kerajaan Mataram yang dipimpin Sultan Agung dengan VOC yang dipimpin Gubernur Jenderal JP. Coen | Google Image/Wikipedia
info gambar

Beberapa sumber menyatakan, sayur lodeh juga merupakan bukti kreativitas masyarakat Nusantara di tengah perang. Waktu itu, Kerajaan Mataram yang dipimpin Sultan Agung sedang berperang melawan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) di Batavia.

Salah satu strategi VOC adalah dengan menghancurkan lumbung-lumbung makanan milik Kerajaan Mataram. Alhasil, prajurit Mataram kelaparan karena kehabisan bahan makanan. Keadaan diperparah dengan ancaman dari VOC bagi para juru masak yang membantu prajurit Mataram. Hal itu membuat prajurit Mataram memutar otak dan membuat masakan dari bahan apa saja yang masih tersisa.

Setelah masakan itu jadi, ternyata rasanya enak dan menjadi penolong para prajurit yang kelaparan tersebut. Dikisahkan, yang memasak makanan itu adalah salah satu prajurit Sultan Agung yang berasal dari Tanah Betawi. Ketika ditanya oleh teman-temannya apa nama makanan itu. Karena tidak tahu mau menjawab apa, lantas si parjurit Betawi pun menjawab, “terserah lo deh.”

Konon karena ketidaksengajaan itu, prajurit Mataram yang berasal dari berbagai daerah lain di Pulau Jawa, mengira nama makanan itu: sayur lodeh. Padahal maksud dari si prajurit Betawi tersebut adalah ‘sesukanya kamu saja mau dinamakan apa’.

Berkaitan dengan kisah tentang penamaan sayur lodeh. Menurut Fadly, hal itu masih harus dikonfirmasi kepada ahli linguistik, sebab resep sayur lodeh juga pernah masuk dalam buku resep Belanda abad ke-19.

Makanan yangdalam bahasa Jawa disebut jangan lodeh ini kemudian juga menghiasi buku sejarah lainnya karena identik dengan hidangan di masa kolonial. “Baik masyarakat pribumi maupun orang Belanda saat itu sangat menggemari sayur lodeh,” kata penulis buku Rijsttafel: Budaya Kuliner di Indonesia Masa Kolonial (1870-1942).

Walaupun masih belum ada sumber yang pasti tentang asal-usul sayur lodeh dan banyak mitos yang mengaitkannya dengan kondisi pageblug. Namun, sebagai sebuah hidangan, kelengkapan gizi yang ada di dalam sayur lodeh sangat bermanfaat bagi tubuh. Apalagi di tengah pandemi Covid-19 seperti saat ini, penting bagi masyarakat memperhatikan asupan gizinya.

Sumber: Suara.com | Gatra.com | Kumparan.com

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini