Bilik Antiseptik dan Teknologi Superbodi, Sumbangsih Unsoed di Tengah Pandemi

Bilik Antiseptik dan Teknologi Superbodi, Sumbangsih Unsoed di Tengah Pandemi
info gambar utama

Pandemi virus corona atau COVID-19 di Indonesia belumlah usai. Meskipun masa pandemi ini begitu buruk, masih banyak orang berusaha menumbuhkan harapan dan berjuang dengan saling membantu.

Salah satu yang paling giat melakukan uluran tangan ialah para akademisi. Sejumlah akademisi dari kalangan mahasiswa di perguruan tinggi di seluruh Indonesia berusaha memberikan bantuan dari hal terkecil hingga terbesar untuk terdampak virus corona.

Mahasiswa Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat misalnya. Sejak bulan Maret 2020 lalu, beberapa mahasiswa UI sudah memberikan sumbangsihnya untuk pencegahan dan penanganan virus corona lewat beragam inovasi.

Tak hanya UI, karena hampir seluruh mahasiswa perguruan tinggi di Indonesia juga bergerak untuk membantu. Contoh lainnya ialah Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto, Jawa Tengah.

Bilik Antiseptik untuk Puskesmas

Pada akhir bulan April 2020, Unsoed turut bergerak melakukan pencegahan virus corona di lingkup masyarakat. Lewat Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Teknik Unsoed menyumbangkan sebuah bilik antiseptik kepada Puskesmas 1 Purwokerto Timur, Selasa (28/4). Bantuan diserahkan oleh Perwakilan BEM FT yaitu Febriansyah Dwi Putra (Staf Ristek), Danang Tri Wibowo (Staf Pengabdian Masyarakat), dan Fadhila Rifda Azka Syailendri (Menteri Pengmas).

Febriansyah mengatakan bahwa sumbangan bilik tersebut merupakan bentuk kepedulian dalam membantu pemerintah, tenaga medis dan masyarakat sebagai upaya mencegah penyebaran virus COVID-19. “Bilik tersebut dibuat oleh BEM FT Unsoed dengan biaya yang dikumpulkan melalui donasi yang dikumpulkan sejak 7 April hingga 25 April 2020 dengan masa percobaan dan pembuatan sekitar 3 minggu,” terang Febriansyah dikutip dari laman resmi Unsoed.

Bilik antiseptik dari FT Unsoed.
info gambar

Menurutnya bilik ini bekerja dengan cara menyemprotkan antiseptik yang aman ke tubuh seseorang yang masuk ke dalam bilik. “Ketika sensor di dalam bilik mendeteksi suhu tubuh manusia, maka cairan antiseptik akan disemprotkan secara otomatis ke tubuh seseorang yang berada di dalam bilik,” sambungnya lagi.

Sementara itu Bapak Erwin, selaku perwakilan dari Puskesmas Purwokerto Timur 1, berterima kasih atas sumbangan bilik antiseptik tersebut. “Dengan sumbangan bilik antiseptik tersebut, pihaknya tidak perlu membeli alat serupa yang sebelumnya direncanakan untuk dibeli,” kata Erwin.

Teknologi Superbodi untuk Ketahanan Pangan

Tenaga medis menjadi garda terdepan di tengah pandemi virus corona saat ini. Namun, jangan lupakan sektor pertanian yang berdampak pada kebutuhan pangan.

Di tengah pandemi ini ketika aktivitas di luar rumah dibatasi, para petani dan hasil panennya pasti terkena dampaknya. Bertolak dari kondisi tersebut, Fakultas Pertanian (Faperta) Unsoed berkomitmen memberikan dukungan bagi berbagai pihak dalam meningkatkan produksi pangan, guna mendukung ketahanan pangan pada masa pandemi ini.

Faperta Unsoed mengenalkan teknologi Superbodi untuk mendukung ketahanan pangan pada masa pandemi. Istilah Superbodi sendiri merupakan akronim dari masukkan benih di pertengahan bonggol/bedogol padi. Teknologi Superbodi dikenalkan oleh Prof. Ir. Totok Agung Dwi Haryanto, M.P., Ph.D dan tim desa binaan Faperta Unsoed yang diketuai oleh Dr. Ir. Agus Sutanto, M.P. bersama anggota yang hadir yaitu Dyah Susanti, S.P., M.P. dan Dina Istiqomah, S.P. M.Sc kepada para petani desa Wlahar Wetan.

Teknologi Superbodi dipraktikkan secara langsung di lapangan dengan pembatasan jumlah peserta. Para peserta yang hadir diwajibkan menggunakan masker dan menerapkan physical dan social distancing yang kemudian ditindaklanjuti dengan alih teknologi melalui video Teknologi Tepat Guna sebagai upaya mengurangi risiko penularan virus COVID-19 selama masa pandemi.

Beberapa petani melaporkan selama ini peluang panen pada musim tanam kedua hanya sekitar 50 persen pada lahan-lahan yang terlambat memanen padi yang ditanam pada musim tanam sebelumnya. Artinya, sebagian petani akan mengalami gagal panen akibat kekeringan.

“Pelaksanaan alih teknologi di lapang juga dipilih sebagai upaya meminimalkan penularan virus COVID-19 dibandingkan jika dilaksanakan di ruang tertutup. Sinar matahari pagi selama beraktivitas di lahan juga diharapkan menjadi salah satu upaya mengikuti anjuran berjemur untuk menjaga para pengabdi dan peserta alih teknologi semakin sehat,” ucap Prof. Totok Agung.

Unsoed.
info gambar

Prof. Ir. Totok Agung Dwi Haryanto, M.P., Ph.D mengatakan bahwa teknologi Superbodi menjawab kekhawatiran para petani yang terlambat panen padi yang ditanam pada musim tanam pertama. Mereka mengeluhkan ketakutan tidak akan bisa panen pada musim tanam kedua jika menanam padi lagi, karena diprediksi akan kekurangan air pada pertengahan fase pertumbuhan tanaman.

Alih teknologi Superbodi kedelai yang dilaksanakan pada hari Selasa, 28 April 2020 di lahan petani Wlahar Wetan merupakan bagian dari program pendampingan Desa Binaan Faperta Unsoed tahun 2020. Alih teknologi ini mengawali penanaman demonstrasi plot (demplot) Superbodi diharapkan menjadi sekolah lapang bagi para petani setempat.

Lebih lanjut menurut Totok, penanaman benih kedelai, kacang hijau ataupun biji palawija lain dengan teknik ini akan mendukung pertumbuhan tanaman. Hal ini bisa menjadi demikian karena terjaganya perakaran tanaman yang biasanya terganggu oleh merekahnya tanah akibat kekurangan air pada musim tanam kedua. Serasah bonggol padi dapat mempertahankan kelembaban tanah di bagian perakaran kedelai dan menjadi cadangan bahan organik sehingga pertumbuhannya menjadi tetap optimal.

Biasanya petani menanam kedelai di sela-sela bonggol tanaman padi musim tanam sebelumnya, sehingga tanaman mengalami kekeringan dan tidak dapat bertahan hingga panen. “Teknologi ini digali dari kearifan lokal petani di beberapa daerah, yang disempurnakan dengan pengaturan jarak tanam sejak pertanaman padi sebelumnya, penggunaan varietas unggul dan penggunaan biofertilizer,” jelasnya.

Pendampingan teknologi dari Faperta Unsoed kepada para petani di desa Wlahar Wetan pada masa pandemi ini diharapkan mampu membangkitkan semangat petani menjaga kesehatan selama menjalankan perannya sebagai penopang ketersediaan pangan. Bantuan dari Unsoed ini juga sekaligus sebagai bentuk sumbangsih lembaga dalam mendukung ketahanan pangan nasional di masa pandemi.

Selain bilik antiseptik dan teknologi penanaman untuk kebutuhan pangan, Unsoed juga memberikan bantuan terdampak virus corona dengan cara lain. Bantuan berupa sembako dan alat pelindung diri (APD) diberikan Unsoed untuk para mahasiswa dan bidan-bidan di desa binaan.


Referensi: Unsoed.ac.id

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini