Sejarah Hari Ini (1 Mei 1856) - Dari Hotel Rotterdam Jadi Hotel des Indes

Sejarah Hari Ini (1 Mei 1856) - Dari Hotel Rotterdam Jadi Hotel des Indes
info gambar utama

Hotel des Indes yang berdiri di Batavia pada masa kolonialisme Belanda pernah mendapatkan predikat sebagai salah satu hotel terbaik di Asia.

Nyaman dan eksotis, seperti itulah testimoni dari mereka yang pernah mengunjungi dan menginap di hotel yang terletak di kawasan Harmoni ini.

Pada 1861, antropolog Inggris, Afred Russel Wallace (namanya kemudian diabadikan dalam istilah kajian Ilmu Geografi, Garis Wallace), pernah menjadi tamu di Hotel des Indes dan merasa senang dengan fasilitas dan pelayanannya.

"Hotel des Indes sangatlah nyaman, setiap tamu disediakan tempat duduk dan kamar tidur menghadap ke beranda, di mana bisa bersantai sambil menikmati kopi pagi dan ngeteh di sore hari," tulis Wallace dalam buku The Annotated Malay Archipelago.

Hotel des Indes memiliki sejarah yang panjang dan sempat berganti-ganti kepemilikian dan nama.

Sebelumnya hotel ini bernama Hotel de Provence (1829) dan Hotel Rotterdam (1851).

Pada 20 April 1852, sang pemilik hotel Etienne Chaulan menjual Hotel Rotterdam pada orang Swiss bernama Francois Auguste Emile Wijss yang menikah dengan keponakan perempuannya.

Atas saran penulis ternama Eduard Douwes Dekker - yang dikenal dengan nama penanya, Multatuli - nama Hotel Rotterdam berubah menjadi Hotel des Indes pada 1 Mei 1856.

Meskipun pernah dilanda kebangkrutan pada 1897, pamor Hotel des Indes tidaklah luntur.

Selain menyajikan kenyamanan dengan pepohonan beringin yang rindang, Hotel des Indes terkenal karena menyajikan rijsttafel (sajian hidangan bagi tamu secara beruntun) dan mudah disambangi karena terintegrasi dengan transportasi trem.

Berbagai peristiwa bersejarah pernah terjadi di hotel ini.

Hotel des Indes pernah menjadi tempat digelarnya Perjanjian Roem-Royen dan tempat menginap anggota Konferensi Asia-Afrika (KAA).

Pertokoan Duta Merlin di Harmoni, Jakarta.
info gambar

Beberapa tahun seusai Indonesia meraih kemerdekaaan, namanya diubah menjadi Hotel Duta Indonesia.

Pada tahun 1971, bangunan hotel dibongkar untuk dijadikan pertokoan Duta Merlin yang masih berdiri hingga kini.


Referensi: Engelfriet.net | Alfred Russel Wallace, "The Annotated Malay Archipelago" | Dinas Kebudayaan dan Permuseuman, "Ensiklopedia Jakarta: Culture & Heritage, Volume 1" | Bernard Dorleans, "Orang Indonesia & Orang Prancis: Dari Abad XXVI sampai dengan Abad XX

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini