Perjalanan Campursari dari R.M. Samsi Sampai "Lord" Didi

Perjalanan Campursari dari R.M. Samsi Sampai "Lord" Didi
info gambar utama

Wafatnya Dionisius Prasetyo alias Didi Kempot pada Selasa (5/5/2020), meninggalkan duka mendalam di hati masyarakat, khususnya para Sobat Ambyar, penggemarnya.

Didi Kempot merupakan seniman campursari yang karyanya sudah dikenal luas masyarakat. Lewat tangan dinginnya, ia berhasil mengangkat pamor campursari yang tadinya identik dengan genre musik lokal, tapi kini kepopulerannya sudah merambah ke kancah internasional.

Campursari ala Didi Kempot juga digandrungi generasi milenial. Lagu-lagunya yang berjudul Cidro, Kalung Emas, Stasiun Balapan hingga Pamer Bojo banyak dinyanyikan anak-anak muda. Lirik-lirinya yang bernuansa patah hati, menjadi daya tarik tersendiri bagi kalangan milenial. Saking gandrungya generasi milenial oleh karya-karyanya, hingga ia dijuluki The God Father of Broken Heart.

Ada juga slogan yang menggambarkan karya-karya Didi Kempot, yaitu “patah hati bukan untuk ditangisi tapi dijogeti.”

Namun, di tengah semakin terangkatnya pamor campursari melalui karya Didi Kempot. Tahukah Kawan GNFI, bagaimana perjalanan campursari dari awal hingga populer seperti sekarang?

Menurut Joko Wiyoso, akademisi dari Universitas Negeri Semarang (UNNES), dalam jurnalnya yang berjudul Jejak Campursari (The History of Campursari). Ia mengatakan, campursari pertama kali diperkenalkan pada tahun 1953 oleh R.M. Samsi yang tergabung dalam kelompok Campursari RRI Semarang.

Awalnya mereka hanya secara rutin mengisi siaran RRI Semarang setiap Rabu malam. Saat itu, popularitas mereka pun masih bersifat lokal. ''Artinya hanya berada di wilayah yang terjangkau oleh frekuensi radio. Sebab pada masa itu, tidak setiap rumah memiliki radio,'' dikutip dari Etnis.id.

Masa Awal Campursari

Awal tahun 1978, kelompok campursari yang dipimpin oleh R.M. Samsi berhasil menembus perusahaan rekaman swasta yang bernama Ira Record di Semarang. Dalam kurun waktu dua tahun (1978-1980), kelompok campursari tersebut mampu menghasilkan sembilan album rekaman.

Namun, walau sudah mampu menciptakan sembilan album, hal itu tidak membuat kelompok campursari RRI bisa tetap eksis. Bahkan keterkenalannya masih belum mampu menjangkau masyarakat secara lebih luas.

Pasalnya, lagu-lagu campursari yang mereka bawakan di Jawa Tengah, pada era yang sama, masih kalah populer dengan irama gending hasil kreasi Ki Nartosabdo—pencipta tembang Prau Layar. Pada saat itu, masyarakat masih lebih familier dengan lagu-lagu Jawa ciptaan Ki Nartosabdo.

Tren tersebut bertahan hingga pada era 90-an muncul seorang musisi Jawa bernama Anto Sugiartono atau yang lebih dikenal dengan nama Manthous.

Manthous membawa perubahan dalam musik campursari. Musisi kelahiran Playen, Gunung Kidul, Yogyakarta tersebut, mencoba menggemakan kembali alunan campursari yang belum mampu bicara banyak dalam blantika musik Indonesia.

Ia membuat komposisi musik campursari dengan format yang berbeda. Dari segi penggarapan musiknya pun, Manthous mencoba lebih baik dari musik campursari yang pernah ada sebelumnya.

Ia menggunakan instrumen musik barat seperti keyboard, gitar dan bas elektrik yang sebelumnya tidak ada dalam musik campursari di era RM Samsi.

Dalam format baru itu, Manthous sukses mengorbitkan lagu-lagu pop Jawa. Beberapa karyanya yang sukses kala itu antara lain; Gethuk yang dinyanyikan oleh Nur Afni Octavia dan Evie Tamala yang juga sukses membawakan lagu pop Jawa berjudul Kangen pada tahun 1992.

Mulai Dikenal Luas Masyarakat

Pada tahun 1993 Manthous membentuk grup musik campursari yang diberi nama Campursari Gunung Kidul atau CSGK. Ia nekat memboyong grup musik bentukkannya itu ke Jakarta untuk rekaman, membuat mastercassete. Semua biaya berasal dari kantung pribadinya.

Kemudian Manthous berspekulasi menawarkan album berjudul Kanca Tani kepada temannya di Semarang. Kebetulan temannya itu mempunyai saudara yang mengelola studio rekaman Pusaka Record. Meski tadinya hanya berspekulasi, ternyata album Kanca Tani diterima untuk diproduksi dan dijual kepasaran.

Tak disangka, ternyata pasar menyambut positif karya mereka. Album tersebut terjual hingga ribuan kaset. Seiring berjalannya waktu, nama Manthous pun semakin dikenal masyarakat. Tambah lagi setelah ia berhasil menelurkan album keduanya.

Dari album keduanya, masyarakat mengenal tembang Nyidam Sari, Lamis, Kempling yang kerap diputar di acara-acara pernikahan berbudaya Jawa. Genre campursari pun mulai diakui eksistensinya, ia disejajarkan dengan genre musik yang lebih dulu eksis seperti pop, dangdut, rock, keroncong, serta genre lainnya.

Era "Lord" Didi Kempot

Usai era R.M. Samsi dan Manthous barulah muncul seniman lain yang menjadi pembaharu di jagad campursari, yaitu Didi Kempot. Didi Kempot mengusung warna campursari yang berbeda dari para pendahulunya.

Ia tidak menggunakan musik yang berasal dari gamelan Jawa seperti halnya campursari ala R.M. Samsi dan Manthous.

Dikutip dariintisari.grid.id, hal itu dikemukakan oleh Wadiyo dalam artikel "Campursari Musik Etnis Jawa Populer antara karya Manthous dan Didi Kempot" pada September 2002 lalu. Dari jurnal tersebut, Wadiyo mengambil contoh lagu campursari Sewu Kuto milik Didi Kempot untuk memberi gambaran perbedaan campursari versi Manthous dengan versi Didi Kempot.

Didi Kempot memulai karirnya di dunia musik sebagai musisi jalanan pada tahun 1984. Kemudian, ia meluncurkan album pertamanya pada 1989. Dalam album pertamanya itu, salah satu tembang andalannya adalah Cidro yang masih populer hingga kini.

Karena kepopulerannya, Cidro banyak dinyanyikan oleh generasi milenial saat ini. Karya lainnya yang cukup fenomenal dari Didi Kempot adalah lagu Stasiun Balapan yang ia ciptakan pada tahun 1999. Bersama Stasiun Balapan, namanya semakin melambung di dunia musik nasional bahkan internasional.

Dalam perjalanan karirnya, ia mengaku sudah menciptakan 700-800 lagu. Terkadang ada lagu-lagu yang bahkan ia sendiri lupa pernah membuatnya. Didi Kempot terkenal dengan lagu-lagunya yang bernuansa patah hati. Karena lagu-lagunya itu, oleh generasi milenial, ia diberi julukan Bapak Patah Hati Nasional atau julukan lainnya adalah The Godfather of Broken Heart.

Saat ini, sepeninggalnya Didi Kempot, campursari semakin dikenal oleh berbagai kalangan. Dulu campursari identik dengan genre musik lokal yang hanya dinikmati oleh orang tua. Kini, anak-anak muda perkotaan pun sudah tidak gengsi lagi menyanyikannya, bahkan orang-orang dari luar negeri pun ada yang menggemarinya. Semoga kita selalu dapat menjaganya sebagai salah satu kekayaan budaya kita.

Sumber: Jurnal Harmonia Jejak Campursari (The History of Campursari) | Perspektif Campursari dan Campursari Ala Manthou's | Intisari.grid.id | Etnis.id

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini