Sejarah SMK 2 Yogyakarta dan Cikal Bakal Keterlibatan Perempuan Dalam Dunia Teknik

Sejarah SMK 2 Yogyakarta dan Cikal Bakal Keterlibatan Perempuan Dalam Dunia Teknik
info gambar utama

Kawan GNFI yang berada di Yogyakarta mungkin sudah mengetahui salah satu sekolah kejuruan favorit bagi warga Yogyakarta ini. Sekolah yang beralamat di Jalan A.M. Sangaji 47 Yogyakarta ini dulunya dikenal dengan nama STM Jetis atau STM 1 Yogyakarta.

Selain menjadi sekolah favorit, SMK 2 Negeri Yogyakarta ini rupanya sangat ikonik. Gedung sekolahnya sudah menjadi cagar budaya peninggalan sejarah yang diresmikan oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia yang tercantum pada Peraturan Menteri No. PM25/PW. 007/MKP/2007.

Itu karena gedung sekolah masih tetap dilestarikan dan dipertahankan sejak pertama kali dibangun pada tahun 1919, pada masa penjajahan kolonial Belanda.

Ternyata SMK Negeri 2 Yogyakarta juga menjadi salah satu bukti cikal bakal keikutsertaan perempuan di bidang teknik di Indonesia. Di tengah nilai masyarakat yang merasa bahwa pendidikan teknik dikenal sebagai jurusan tidak ramah perempuan.

Asalnya Bernama Prinses Juliana School

Prinses Juliana School
info gambar

SMK Negeri 2 Yogyakarta merupakan salah satu sekolah menengah teknik tertua di Indonesia dan pertama di Yogyakarta. Pada tahun 1919—pada masa penjajahan Belanda--sekolah ini diberi nama Prinses Juliana School (PJS) yang diambil dari nama perempuan keturunan bangsawan Belanda yaitu Princess Juliana.

Pada masa itu kaum perempuan dan laki-laki rupanya sudah mendapatkan pendidikan yang sama rata. Meskipun belum seutuhnya bagi warga pribumi. Meski begitu, ditemukan satu ijazah murid pribumi perempuan yang dikeluarkan pada 1922 dengan Jurusan Ahli Bangunan Air yang ditulis dalam bahasa Belanda.

Menariknya, ada seorang lulusan sekolah teknik ini yang menunjukkan ijazah berbahasa Jepang. Artinya, sekolah teknik ini kemungkinan sempat diambil alih oleh Jepang kala itu.

SMK Negeri 2 Yogyakarta
info gambar

Sejak pertama kali didirikan, PJS memiliki beberapa jurusan yaitu Teknik Lokomotif dan Teknik Bangunan Air. Namun setelah masa kemerdekaan, tepatnya tahun 1949, Belanda menyerahkan PJS ke tangan pemerintah Yogyakarta dan dikenal sebagai STM Jetis 1 Yogyakarta.

Baru pada tahun 1951 sekolah mengeluarkan ijazah Indonesia pertama dan menambah kurikulum kompetensi keahlian seperti Teknik Sipil, Teknik Listrik, dan Teknik Mesin. Sampai pada akhirnya sekolah ini ditetapkan menjadi SMK Negeri 2 Yogyakarta pada 7 Maret 1997 dengan berbagai program keahlian tambahan.

Fakta menarik lainnya, Sri Sultan Hamengku Buwono X rupanya salah satu alumni SMK Negeri 2 Yogyakarta, lho.

Kenyataan Dunia STEM Untuk Perempuan Indonesia

UNESCO dan Korean Women’s Development Institute pada 2015 pernah merilis laporan yang berjudul A Complex Formula: Girls and Women in Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) in Asia, yang menyebutkan, sebenarnya jumlah mahasiswa perempuan di bidang STEM cukup banyak dan mendominasi.

Jumlah perempuan di bidang farmasi diketahui mencapai 88 persen, biologi 80 persen, kedokteran 73 persen, kimia 66 persen, matematika 57 persen, dan fisika 38 persen.

Meski partisipasi perempuan dalam bidang STEM cukup tinggi namun mereka banyak yang memutuskan untuk tidak berlanjut ke jenjang karir dan pekerjaan. Salah satu alasannya adalah kurangnya rasa percaya diri untuk berkompetisi dengan kandidat pria.

Kabar baiknya, UNESCO pada 2015 pernah menempatkan Indonesia sebagai negara dengan persentase pekerja perempuan di industri STEM tertinggi di antara negara-negara Asia Tenggara lainnya, yaitu sebesar 23 persen.

Seiring berjalannya waktu, Indonesia mampu menjadi negara yang banyak melibatkan perempuan baik dari sisi industri maupun pendidikan STEM. Salah satunya dalam dunia pendidikan, untuk pertama kalinya rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) dipegang oleh perempuan, yaitu oleh Prof. Reini Wirdahadikusumah.

Hani Yulindrasari, dosen Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, yang sudah mendalami studi gender hingga tingkat doktoral di University of Melbourne, Australia, pernah mengatakan kepada GNFI sebenarnya pencapaian itu sangat luar biasa.

Ia membandingkan ini dengan negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Australia, dan Inggris.

‘’Kalau di Amerika Serikat, Inggris, Australia, sangat sulit, lho, perempuan jadi rektor universitas. Kamu boleh search di Google. Sangat-sangat jarang,’’ ungkapnya kepada GNFI (15/04/2020).

‘’Bisa bayangkan yang namanya bidang engineering atau teknik itu bidang yang sangat maskulin, banyaknya laki-laki,’’ lanjutnya.

Tidak berhenti sampai disitu, prestasi membanggakan di dunia STEM juga pernah diraih oleh perempuan Indonesia, Arvilla Delitriana. Sosok di balik jembatan lengkung LRT Jabodetabek yang diklaim menjadi jembatan lengkung terpanjang di dunia.

Bukan tanpa perjuangan, kemampuan Arvilla pernah diremehkan oleh Jepang, Korea Selatan, dan Perancis.

‘’Mereka tidak percaya insinyur Indonesia bisa dan tidak percaya kontraktornya bisa,” kata Arvilla.

Kenyataannya keraguan itu tidak terbukti dan jembatan lengkung itu kini sudah siap beroperasi.

Beberapa prestasi tersebut menjadi andil salah satu upaya penyempitan kesetaraan gender di Indonesia. Sehingga dalam laporan Global Gender Gap Index 2020 yang dirilis Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) yang diselenggarakan di Kota Davos, Swiss, 21-24 Januari 2020, Indonesia ada pada peringkat 85 dari 153 negara dengan skor 0,70.

Posisi Indonesia tersebut mampu mengalahkan China, Korea Selatan, dan Jepang yang berada di level 100an.

Membanggakan banget, ya!

--

Sumber: Bisnis Indonesia | Katadata | Website SMK Negeri 2 Yogyakarta | Kedaulatan Rakyat Yogyakarta

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini