Saksi Mata 1965 : Persaingan Drum Band dan Pengemis Misterius

Saksi Mata 1965 : Persaingan Drum Band dan Pengemis Misterius
info gambar utama

*Penulis senior GNFI

Menjelang pemberontakan Partai Komunis Indonesia atau PKI tahun 1965, suasana di kota Surabaya tegang. Saya sering melihat pawai misalnya dalam memperingati 17 Agustus di jalan-jalan di kota, para anggota PKI yang berbaris itu selalu berteriak “Hancurkan Kapitalis Birokrasi” atau “Darah-Darah Rakyat!!!”, saya ingat mereka berbaris dengan seragam hitam-hitam dan berasal dari berbagai organ organisasi PKI misalnya Pemuda Rakyat dari kalangan pemuda, Gerwani dari kalangan wanita dan BTI dari kalangan petani PKI serta LEKRA dari kalangan budayawan.

Saya tidak ingat pada bulan apa dan tahun berapa ada acara yang melibatkan ribuan anggota PKI di kota Surabaya; yang jelas pada bulan-bulan menjelang pemberontakan G30S PKI itu. Even ini terdiri pawai (show of force) PKI dan melibatkan drum band yang mereka miliki. Yang menarik – seingat saya dalam pawai mereka itu disamping banyak yang bepakaian hitam-hitam dengan teriakan-teriakan slogan anti kapitalis, ada banyak juga yang tidak memakai sepatu alias “nyeker”; kalau mengingat peristiwa itu saya ingat kejadian dimana ribuan pemberontak komunis Kamboja – Khmer Rough dengan pakaian serba hitam sambil menenteng senjata memasuki ibukota Kamboja; dan setelah itu terjadilan pembantaian terhadap lebih dari 2 juta orang yang dianggap musuh komunis. Peristiwa ini di buat film nya oleh Hollywood dengan judul “The Killing Field”.

Tulisan terkait : Saksi Mata : Mengenang Gentingnya September 1965

Masa itu yang mampu menandingi show of force nya PKI ya NU dengan pemuda Ansor nya karena memiliki jumlah pengikut yang banyak. Ada juga masa dari Muhammadiyah dengan organisasi pemuda nya KOKAM – tapi jumlahnya tidak sebanyak masa NU. Setelah show of force PKI itu giliran NU mengerahkan ribuan anggotanya utuk turun kejalan-jalan di kota Surabaya dan juga menampilkan drum band mereka. Kampung saya Kapasari gang V menampung banyak anggota NU dari luar kota yang akan ikut acara show of force ini, kebetulan shohibul bait – atau tuan rumah nya adalah kakak sepupu saya - putranya bibi saya- Almarhum Cak Abas yang menjabat sebagai ketua Ansor ranting Kapasari.

Sekitar satu – dua tahun setelah peristiwa pemberontakan PKI tahun 1965 itu di kota Surabaya terjadi hal-hal yang misterius yaitu terdengar suara drum band biasanya waktu sore, ada yang menduga itu suara drum band nya Akademi Angkatan Laut di Bumi Morokrembangan, tapi ketika orang mengecek ke kawasan itu tidak ada kegiatan drum band. Ada juga yang menduga itu drum band milik PKI yang anggotanya sudah dibunuh. Saya sendiri pernah mendengarkan suara drum band tersebut tapi tidak pernah ikut mengecek lokasi sumber suaranya. Hanya saja banyak yang cerita kalau tidak satupun orang bisa mengecek asal sumber. Misalkan, suara drum band itu terdengar didaerah Pasar Besar, begitu banyak orang mengecek ke Pasar Basar – tidak ada aktivitas drum band.

Peristiwa adanya suara drum band “hantu” itu bersamaan dengan rumor yang beredar di masyarakat ada pengemis yang meminta-minta uang “Sak Ripis Setali” atau Satu Rupiah 25 cen dan dikenal dengan pengemis “PisLi”, tapi wajah dan tubuh pengemis itu tidak tampak, yang nampak hanyalah tangannya ketika minta uang itu. Kami anak-anak kecil di kasih cerita oleh orang-orang tua bahwa target pengemis PisLi itu adalah anak-anak yang akan diculik dan akan diambil matanya untuk dipakai sebagai campuran minuman dawet (cendol).

Kalau hal itu saya ceritakan pada anak modern sekarang mungkin saja diketawai karena ceritanya yang konyol dan tidak masuk akal sama sekali. Namun waktu itu perrcaya atau tidak kondisi kampung menjelang waktu sholat maghrib anak-anak banyak yang tidak berani keluar rumah.

Saya tidak tahu siapa yang menyebarkan rumor semacam itu, apakah ada pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, atau memang disebarkan oleh para orang tua untuk menakut-nakuti anak kecil agar tidak keluar rumah menjelang Maghrib. Wallahu Alam.

Yang jelas munculnya suara drum band hantu dan cerita pengemis PisLi itu sempat membuat situasi di kota Surabaya kembali menegangkan.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini