Riset Membuktikan: Tubuh dan Otak Kita Memang Butuh Liburan

Riset Membuktikan: Tubuh dan Otak Kita Memang Butuh Liburan
info gambar utama

Kawan GNFI, apa kabar? Sudah berapa lama kita di rumah saja? Beberapa di antara kita mungkin sudah menjalankan aktivitasnya seperti biasa dengan menghabiskan waktu mulai pukul sembilan hingga lima sore di kantor. Namun, beberapa di antara kita rupanya sudah terbiasa hidup bekerja dari rumah.

Sudah lebih dari satu semester kondisi negeri kita, juga dunia, seolah berubah dengan cepat. Pola kehidupan kita dipaksa berubah drastis akibat makhluk kecil tak kasat mata yang kita sebut virus corona. Covid-19 menjadi gelombang pandemi yang telah mengkungkung negeri kita selama hampir sepanjang tahun 2020. Imbasnya, kita pun terkungkung di rumah selama berbulan-bulan.

Setelah bosan di dalam rumah dan didukung oleh regulasi pemerintah yang melonggarkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), setidaknya beberapa di antara Kawan GNFI ada yang sudah bisa bernapas lega menjalani kegiatan produktifnya di kantor. Tapi terlalu lama bekerja, tentu Kawan rindu untuk liburan dan melepas penat sejenak.

Tapi…

Tidak seperti biasanya. Rencana liburan kali ini tidak akan semulus perencanaan sebelumnya. Sejak pandemi masuk ke Indonesia pada Maret lalu, rasanya keinginan untuk bebas sejenak dari kungkungan pekerjaan semakin ke sini semakin menggebu-gebu, ya?

Liburan Memang Kebutuhan Tubuh dan Otak Kita

Tubuh dan Otak Butuh Liburan
info gambar

Sebelumnya, GNFI pernah memaparkan soal beberapa riset yang membuktikan bahwa piknik membuat orang lebih kreatif dan cerdas. Ternyata manfaat liburan tidak sesederhana hanya untuk melepas penat sejenak dari beban pekerjaan. Liburan justru menjadi salah satu cara manusia memperbaiki sistem kekebalan tubuh dan membantu melawan infeksi.

Hal itu diungkapkan oleh para ilmuwan dari Queen Mary University of London yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Immunology. Mereka mengungkapkan setidaknya pelesiran selama dua pekan tubuh kita akan mampu meningkatkan kinerja sistem kekebalan tubuh dan melawan infeksi.

Pada saat liburan, kita akan dihadapkan dengan lingkungan yang baru. Perubahan lingkungan itu terbukti akan memengaruhi fungsi sel-T, yang merupakan satu jenis sel darah putih yang sangat penting bagi kekebalan tubuh. Peningkatan fungsi sel-T terbukti bisa memperkuat orang yang terjangkit virus HIV (AIDS), radang sendi, dan penyakit kronis lainnya.

Penelitian lain tentang manfaat liburan bagi tubuh juga pernah dijelaskan para ilmuwan dari Stanford University dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Science. Penelitian itu membuktikan bahwa piknik yang dilakukan dengan cara hanya berjalan-jalan di alam bebas merupakan cara ampuh untuk mengurangi pikiran negatif.

Kesimpulan itu pun sebenarnya sudah melewati masa percobaan terhadap 28 orang yang berjalan kaki selama 90 menit di alam bebas. Mereka dibagi ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama akan berjalan-jalan di sekitar Stanford, sebuah tempat yang ditumbuhi rerumputan, pepohonan, dan semak-semak. Sementara kelompok lainnya berjalan di salah satu ruas jalan tersibuk di sekitar Palo Alto, California, Amerika Serikat.

Hasilnya, melalui kuesioner yang diberikan kepada para partisipan, kelompok orang yang berjalan di sekitar Stanford cenderung memperlihatkan penurunan aktivitas otak yang berhubungan dengan penyakit mental. Sebaliknya, pikiran-pikiran negatif justru kerap muncul di kepala para partisipan yang berjalan di ruas jalan Palo Alto.

Meski begitu, ada fenomena yang lebih menarik terkait dengan kebutuhan liburan pada kesehatan tubuh dan kesehatan mental kita. Ternyata sebagian dari kita, terkungkung di rumah bisa dengan jelas membawa dampak yang sangat buruk. Terutama bagi mereka yang kecanduan melancong atau bagi mereka yang pekerjaannya justru bepergian dari satu tempat ke tempat yang lain, alias para pelancong atau traveller.

Fenomena Dromomania
info gambar

Kondisi itu disebut dengan dromomania, sebuah diagnosis dan statistik gangguan mental yang dikaitkan dengan masalah kejiwaan dan gangguan kontrol impulsif seseorang. Kondisi ini memang digambarkan sebagai kecenderungan yang masuk dalam kategori maniak khusus bagi seseorang yang tidak bisa mengontrol dirinya sendiri ketika ingin pergi jalan-jalan atau travelling.

Psikolog Ikhsan Bella Persada dalam laman Klikdokter.com juga menjelaskan bahwa pada titik atau kondisi tertentu dengan tingkat keparahan yang maksimal, orang yang masuk dalam kategori dromomania sebenarnya tidak memiliki tujuan tertentu ketika memutuskan untuk liburan.

"Tidak ada tujuan atau ambisi tertentu. Dia tidak bisa mengontrol dirinya untuk tidak pergi travelling. Dia pun bisa melakukan apa pun agar bisa pergi jalan-jalan dan memenuhi hasratnya tersebut," ungkap Ikhsan.

Ikhsan pun memaparkan bahwa belum diketahui pasti penyebab seseorang bisa dikategorikan sebagai pengidap dromomania. Namun, hal ini bisa diketahui dari tiga ciri-ciri yang dimunculkan oleh dirinya. Pertama, yaitu sulit menolak keinginan impulsif untuk jalan-jalan ke luar rumah, sehingga harus mengikuti semua kemauannya itu.

Kedua, pengidap dromomania juga kerap melakukan aksi secara spontan tanpa ada perencanaan sebelumnya. Jadi ketika ingin pergi ke suatu tempat, dia tidak segan-segan untuk langsung membeli tiket pesawat atau alat transportasi lainnya untuk sampai ke tujuan.

Ketiga, ini adalah ciri-ciri yang banyak terlihat muncul, yaitu memiliki kecemasan yang tinggi sehingga memilih jalan-jalan atau pergi travelling untuk mengatasi masalah kecemasan tersebut. Sayangnya, mereka yang diindikasikan mengidap dromomania kerap melakukan ini tanpa perencanaan yang matang.

Penyebarannya pun sebenarnya sangat cepat, terutama pada generasi milenial ditambah dengan kondisi pandemi yang membuat mereka terkungkung di rumah yang menambah hasrat impulsif itu lebih besar. Ditambah lagi dengan adanya cerita-cerita menarik akan suatu lokasi yang tersebar di media sosial.

Jika Kawan GNFI merasakan hal yang seperti dromomania di atas, para psikolog menganggap hal itu masih dalam batas wajar selama kawan masih bisa menahan diri akan hasrat impulsif itu. Apalagi dampak di rumah saja selama pandemi memang memicu timbulnya dorongan itu.

Kampanye #DiIndonesiaAja, Kekuatan Sosial Media, dan Implikasi Berita Baik

Liburan di Indonesia Saja
info gambar

Dengan pelonggaran PSBB di beberapa daerah sebenarnya kita bisa segera merencanakan liburan. Bedanya dengan tahun lalu, protokol kesehatan harus masuk dalam daftar persiapan kita: rapid atau PCR swab test sesuai persyaratan, masker dan pembersih tangan, serta suplemen penambah kebugaran tubuh.

Berwisata di dalam negeri menjadi pilihan. Selain akibat kesulitan berperjalanan ke luar negeri, Kawan GNFI tentu sudah tahu bahwa banyak atraksi wisata yang tak kalah menarik di seantoero Nusantara.

"Berwisata di negeri sendiri itu menyenangkan karena pilihan Indonesia itu palugada, 'apa lo mau, gue ada.' Mau pilihan nature, culture, sampai tempat wisata buatan manusia, itu semua ada pilihannya. Indonesia memberikan banyak pilihan aktivitas," kata Diah Paham, Direktur Komunikasi Pemasaran, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI (Kemenparekraf) pada acara webinar Kemenparekraf x GNFI bertajuk Good News is Good News pada Rabu (7/10).

Rasanya memang betul. Konon, untuk bisa mengelilingi Indonesia dari pulau satu ke pulau lainnya membutuhkan waktu hingga 37 tahun. Itupun kita hanya punya waktu satu hari untuk menikmati satu pulau. Padahal, satu pulau di Indonesia menyimpan ratusan atau bahkan ribuan keindahan dan kekayaan, baik dari keindahan alam, juga ragam budayanya.

"Di Sumatera itu ada 54 bahasa. Analoginya, kalau kita jalan dua jam naik mobil, kita sudah ketemu etnis dengan bahasa yang beda. Jalan dua jam lagi, kita bertemu dengan bahasa yang beda lagi," papar Akhyari Hananti, founder GNFI dalam forum yang sama.

"Saya tinggal di Surabaya, jalan ke arah timur 35 menit, nyebrang Madura, ketemu Bangkalan. Apa bedanya antara Surabaya dan Bangkalan? Banyak! Beda Banget! Bahasanya beda, kostumnya beda, sambelnya beda, dawetnya beda, kuahnya beda, tarian-tariannya beda, gamelan-gemalannya beda. Ini nggak ada di tempat lain selain di Indonesia," analogi lain disampaikan Akhyari.

Jadi, rasanya satu hari saja tidak cukup jika kita memang ditugaskan untuk mengenal seluk beluk dan rahasia keindahan dari setiap pulau, atau bahkan setiap distrik yang ada di Indonesia.

Maka dari itu, pemerintah melalui Kemenparekraf kini tengah menggaungkan kampanye #DiIndonesiaAja. Gerakan ini digulirkan dengan mengingat potensi wisata Indonesia yang rasanya tidak akan ada habisnya.

Kita tahu, tak sedikit dari warga masyarakat yang ingin memenuhi hasrat liburannya justru dengan memilih tempat wisata di luar negeri. Pertanyaannya, kenapa tidak di Indonesia saja? Toh, kesempatan untuk berlibur di Indonesia saja lebih terbuka lebar jika dibandingkan dengan berlibur di luar negeri di tengah kondisi batas antar negara kini masih tinggi dan tebal karena kekhawatiran penyebarang virus.

"Pariwisata itu bisnis persepsi," ungkap Nia Niscaya, Deputi Menteri Bidang Pemasaran Dalam Negeri, Domestik, dan Mancanegara, Kemenparekraf pada webinar yang sama.

"Ketika orang yakin akan sesuatu, dia mau pakai. Tourism juga begitu. Ini soal cerita, karena kita lihat secara digital, perjalanan seseorang untuk sampai bereksperimen itu panjang," lanjutnya.

Pada era digital seperti ini, membangun persepsi baik maupun persepsi buruk memang lekat kaitannya dengan segala hal yang kita bagikan kepada masyarakat melalui media sosial. Media yang seolah dapat menghubungkan dan menyebarkan sesuatu dengan cepat. Indonesia merupakan salah satu negara yang dengan efektif memanfaatkan itu.

"Kita sedang mengalami booming social media," ungkap Akhyari, "Bagusnya di Indonesia menurut saya, ini pola yang sudah terbentuk di Indonesia adalah social pressure. Ketika sesuatu terjadi di Gunung Kidul contohnya, ketika bunga amarilis diinjak-injak, betapa netizen marah besar dan itu membuat pressure, membuat daya getaran."

"Setelah netizen Indonesia marah-marah, membentuk satu persepsi bahwa kalau suatu saat nanti saya buang sampah sembarangan, kalau tempat ini kotor, maka saya akan dihajar, di-bully habis-habisan oleh netizen Indonesia. Dan itu sudah terbentuk di kita," jelas Akhyari.

Protokoler Kesehatan Saat Berwisata
info gambar

Selaras dengan Akhyari, Diah pun mengakui bahwa kekuatan storytelling menjadi salah satu kekuatan promosi, apalagi jika hal ini datang dari teman-teman daerah sebagai local champion yang bisa menceritakan tentang potensi wisata di daerahnya. Apalagi jika hal ini dibarengi dengan kekuatan konten yang bagus yang disebarkan di media sosial.

GNFI pernah melakukan survei Indeks Optimisme Generasi Muda Indonesia 2020 bekerja sama dengan Datamixr dan Fieldwork Indonesia yang dirilis pada 26 Agustus 2020. Dari hasil survei tersebut, sektor Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan merupakan sektor yang dinilai paling positif dan optimis di Indonesia.

Aspek yang menyumbang angka paling tinggi adalah terkait dengan perkembangan pariwisata dan kemajuan ilmu pengetahuan teknologi di Indonesia. Kedua aspek ini mendapat perolehan angka indeks optimisme masing-masing sebesar 78 persen dan 76 persen.

Dari aspek perkembangan pariwisata, generasi muda Indonesia melihat bahwa Indonesia memiliki banyak referensi pariwisata yang dapat menjadi destinasi tujuan yang menarik untuk dikunjungi. Referensi ini mereka dapatkan dari kemudahan akses informasi yang tersebar melalui jaringan internet, sehingga ketebukaan akan informasi tersebut yang menjadi faktor bahwa generasi muda melihat secara positif dan optimis akan perkembangan pariwisata di Indonesia.

Sejalan dengan hasil survei tersebut, Nia pun menganalisis bahwa dari sebuah kisah jalan-jalan yang dibagikan seseorang di sosial media, ini akan mempersuasi orang lain dalam menentukan tindakan sesuatu.

"Jadi orang itu dari dreaming dulu (untuk berwisata). Dreaming itu dibangun oleh apa? Ya berita-berita, cerita-cerita. Dari situ, mulai dia searching tentang destinasi. Begitu dia searching, dia bikin planning. Ketika sudah punya planning, dia booking [tiket dan akomodasi], bayar segala hal."

"Saat traveling, dia punya eksperimen, punya experience. Nyobain rujak cingur di Surabaya, Bakso Malang, tengkleng di Solo. Terus dia sharing. Nah, sharing-nya dia ini akan jadi dreaming buat orang lain. Artinya apa? Sebelum orang itu hadir, betapa persepsi itu harus dibangun,’’ jelas Nia.

Menanggapi penjelasan Nia, Akhyari juga mengungkapkan bahwa, "Menurut data yang pernah saya baca, 76-83 persen orang yang datang ke tempat wisata itu memulai interest-nya melalui sosial media. Dan ini menjadi sebuah senjata yang penting untuk membangun interest."

--

Kondisi kali ini memang belum 100 persen memungkinkan kita untuk liburan dan berwisata, namun kesempatan itu ternyata telah terbuka. Bagi Kawan GNFI yang punya kesempatan untuk berlibur, tetap menjadi pelancong yang bijaksana. Patuhi protokoler kesehatan, hormati para wisatawan lainnya, serta tetap lindungi kebersihan dan kenyamanan lingkungan tempat wisata yang Kawan GNFI datangi.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini