Indonesia Jadi Negara dengan IPO Terbanyak di Asean Selama Pandemi

Indonesia Jadi Negara dengan IPO Terbanyak di Asean Selama Pandemi
info gambar utama

Kinerja bursa saham Indonesia sempat terpuruk akibat pandemi Covid-19. Kondisi itu sebenarnya tidak hanya memukul pasar modal Indonesia, melainkan memberi dampak secara global. Tak hanya sentimen negatif dari krisis kesehatan, sentimen negatif yang menjadi penggerak pasar masih berlanjut kala hubungan dua negara ekonomi terbesar dunia—yaitu Amerika Serikat dan China—saling tuding menyoal siapa ‘’penyebar’’ virus pertama.

Mulai dari tuduhan Amerika Serikat terhadap China karena tidak mampu menghalau penyebaran Covid-19, masalah undang-undang keamanan nasional Hong Kong, sampai dengan pengusiran konsulat China di AS.

Sekelumit sentimen negatif itu, terutama dampak Covid-19, sempat membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan sangat dalam. Dari posisi tertinggi 6.299,54 poin pada akhir 2019, ke level 3.937.63 poin pada 24 Maret 2020. Di mana bulan tersebut adalah bulan awal Covid-19 masuk ke Indonesia.

Namun siapa sangka di tengah keterpurukan di Tahun Pandemi yang melanda Indonesia selama 2020 ini, iklim penawaran umum Indonesia dinilai masih sehat. Hal ini ditandai dengan pencatatan Bursa Efek Indonesia yang menunjukkan bahwa Indonesia akan jadi negara dengan Initial Public Offering (IPO) terbanyak di Asia Tenggara.

Jumlah Perusahaan yang IPO di Indonesia Lebih Banyak Dibanding Singapura dan Malaysia

IPO Indonesia Terbanyak di Asean
info gambar

BEI mencatat sebanyak 46 perusahaan yang IPO dengan nilai Rp5,22 triliun hingga penutupan kuartal ketiga 2020 atau tepatnya 27 November 2020. Jumlah tersebut terbilang sangat tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara di Asia Tenggara.

Malaysia dan Thailand mencatat 14 perusahaan yang menggelar IPO Saham. Sedangkan Singapura mencatat jumlah IPO sebanyak lima perusahaan dan Filipina hanya mencatat IPO dua perusahaan.

Menurut Bloomberg, jumlah IPO di Indonesia yang dicatatkan pada tahun 2020 ini juga merupakan yang tertinggi dalam 20 terakhir. Bahkan jika tren tersebut terlihat akan terus naik, yang berpotensi memungkinkan Indonesia semakin menambah panjang daftar perusahaan IPO hingga kuartal terakhir tahun 2020.

Meski jumlah perusahaan Indonesia yang melaksanakan IPO saham mencapai 46 perusahaan, namun nilai emisinya dinilai masih relative kecil. Hal ini dungkap Direktur Utama Bei, Inarno Djajadi, bahwa nilai emisi dari 46 perusahaan yang berjumlah Rp5,22 triliun atau 360 juta dolar AS itu masih kecil dibandingkan Malaysia.

Malaysia memang mengoleksi 14 perusahaan yang sudah melantai di bursa, namun nilai emisinya mencapai 480 juta dolar AS. Thailand, dengan jumlah perusahaan yang IPO juga hanya 14 perusahaan itu memiliki nilai emisi yang bahkan jauh lebih besar, yaitu 4,19 miliar dolar AS.

Meski begitu, Indonesia masih berpotensi untuk menambah nilai emisinya itu karena berdasarkan pipeline BEI per 27 November 2020, masih terdapat 20 perusahaan yang bakal melantai di bursa. Dari 20 perusahaan itu, rencana pencatatan saham pertama mereka dijadwalkan pada akhir 2020 tahun ini atau pada kuartal pertama tahun 2021 nanti.

‘’Mudah-mudahan akhir tahun ini ada perusahaan yang akan IPO dengan nilai yang besar,’’ harap Inarno dikutip Investor Daily (30/11/2020).

IPO Sampai Tahun 2021 Diprediksi Masih Ramai

Tren Pasar Modal Indonesia 2021
info gambar

Melihat semarak pasar modal dengan masuknya penawaran umum perdana saham dari 46 perusahaan di tahun 2020 ini, para analis memperkirakan bawa gelaran IPO pada tahun 2021 masih berpotensi dalam tren positif. Bahkan bisa lebih ramai jika dibandingkan dengan tahun 2020 dan berpotensi kembali mencatatkan rekor IPO terbanyak.

Baik untuk Indonesia, maupun Asia Tenggara, atau bahkan se-Asia. Mengingat di tengah situasi pandemi pada April 2020 silam, IPO di BEI juga pernah mencatatkan sebagai bursa saham teramai di Asia. Mengacu pada riset yang dipublikasikan Ernst and Young bertajuk Global IPO Trends: Q1 2020, Indonesia menunjukkan 18 perusahaan yang melepas saham perdananya dan tercatat di listing bursa Indonesia.

Jumlah perusahaan itu melesat 157 persen dari kuartal pertama tahun sebelumnya. Dan jumlah tersebut juga mencatatnya yang terbanyak dibandingkan dengan Malaysia yang mencatatkan enam perusahaan, Singapura mencatatkan lima perusahaan, dan Thailand yang baru mencatatkan dua perusahaan.

Untuk tahun 2021, Head of Investment Research Infovesta Utama, Wawan Hendrayana, kepada Kontan.co.id pada 16 Desember 2020 lalu, melihat bahwa pada tahun 2021 kondisi pasar, kondisi ekonomi Indonesia terbilang akan lebih stabil. Hal ini akan memicu perusahaan-perusahaan untuk memperoleh dana segar melalui IPO, selain dari penerbitan obligasi dan pendanaan perbankan.

Beberapa saham baru dari sektor kesehatan, telekomunikasi, sektor keuangan, dan terkait pertambangan nikel, disebut Wawan, sangat menarik untuk dicermati. Sektor telekomunikasi masih disebut menarik karena kegiatan serba daring diperkirakan masih akan berlanjut pada 2021 mendatang.

Sedangkan pertambangan nikel menarik diperhatikan seiring dengan rencanan investasi Tesla di Indonesia yang akan dimulai dengan pembicaraan tim Elon Musk yang direncanakan akan datang pada Januari 2021 mendatang.

Bahkan pemerintah Indonesia juga telah melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman dengan LG Energy Solution pada 18 Desember 2020 lalu untuk membangun pabrik baterai kendaraan listrik di Indonesia.

Sebenarnya dari sektor teknologi, isu Tokopedia yang akan IPO pada tahun 2021 mendatang juga akan menarik diperhatikan. Apalagi IPO perusahaan rintisan unicorn ini memang banyak dinantikan.

Baca: Menanti Penuh Harap, Menelusuri Kembali Perjalanan Tokopedia Menuju IPO

--

Sumber: Investor Daily | Kompas.com | CNNIndonesia.com | CNBCIndonesia.com | Investasi.Kontan.co.id

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini