Awal Mula Pendirian Kerajaan Majapahit Ternyata Berasal dari Daerah Ini

Awal Mula Pendirian Kerajaan Majapahit Ternyata Berasal dari Daerah Ini
info gambar utama

#WritingChallengeGNFI #CeritaDariKawanGNFI

Jika mempelajari sejarah, Kawan pasti sering mendengar nama Kerajaan Majapahit. Majapahit dianggap sebagai salah satu kerajaan terbesar di Indonesia. Pada masa pemerintahan raja Hayam Wuruk, kekuasaan kerajaan ini hampir meliputi seluruh wilayah Indonesia.

Lokasi kerajaan ini diketahui berada di Jawa Timur. Salah satu daerah yang sering disebut-sebut sebagai ibu kotanya adalah Trowulan, terletak di Kabupaten Mojokerto. Namun, sebelum berpusat di Trowulan, Kerajaan Majapahit awalnya didirikan di sebuah hutan yang kini menjadi bagian dari daerah Kabupaten Sidoarjo. Apakah Kawan tahu di mana letak daerah tersebut?

Terbentuknya Kerajaan Majapahit memiliki kaitan dengan peristiwa penyerangan yang dilakukan oleh Jayakatwang terhadap Kerajaan Singasari. Jayakatwang adalah seorang raja dari Kediri yang memiliki dendam pribadi kepada raja Singasari, yaitu Kertanegara.

Menurut Slamet Muljana seklaku penulis buku Menuju Puncak Kemegahan: Sejarah Kerajaan Majapahit, ketika penyerangan terjadi, seorang menantu Kertanegara, yaitu Raden Wijaya berhasil menyelamatkan diri ke Madura untuk menemui Wiraraja, seorang patih di wilayah Sumenep. Raden Wijaya menjadikan kediaman Wiraraja sebagai tujuan karena dahulunya ia adalah seorang demang pada masa pemerintahan Raja Wisnuwardhana. Sayangnya, ketika tampuk kepemimpinan Singasari dikuasai oleh Kertanegara, jabatan Wiraraja diturunkan menjadi adipati di Madura.

Sesampainya di sana, ia mendapat nasihat ketika suasana sudah terkendali. Ia meminta izin kepada Jayakatwang, agar membukakan wilayah untuknya. Dilansir dari Historia, untuk mendapatkan izin, Raden Wijaya berdalih agar diberi daerah sebagai basis pertahahan ketika musuh menyerang.

Usul tersebut dikabulkan oleh Jayakatwang dan Raden Wijaya. Akhirnya, diberilah sebuah daerah bernama Tarik. Pada saat itu, sekitar tahun 1292, Tarik masih berupa hutan tandus dan belum berpenghuni. Dilihat dari letak geografisnya, daerah Tarik sebenarnya cukup berpotensi untuk dijadikan sebuah pemukiman baru karena dikelilingi oleh beberapa sungai. Menurut Slamet Muljana, letak Tarik berhadapan dengan sungai Brantas dari sebelah barat dan bertemu dengan Kali Mas yang mengalir dari sebelah selatan.

Untuk menjadikan daerah Tarik sebagai basis pertahanan seperti yang diinginkan Raden Wijaya, Jayakatwang memerintahkan orang-orang dari Madura untuk membuka hutan. Ketika hutan berhasil dibuka, orang-orang Madura kemudian menetap daerah tersebut. Singkat cerita, penduduk yang telah menetap di daerah ini kemudian, menemukan buah yang bercita rasa pahit. Oleh karena itu, daerah Tarik disebut juga sebagai Wilwatikta atau Majapahit.

Selain itu, Jayakatwang juga berpesan kepada Raden Wijaya untuk mencari simpati rakyat Daha dan Tumapel agar bersedia datang ke daerah Tarik. Untuk mewujudkan hal tersebut, Raden Wijaya melakukan pendekatan khusus.

“Ia memberi kenaikan pangkat dan mengubah nama sesuai dengan watak dan rupa mereka," catat Slamet Muljana dalam bukunya. Cara itu rupanya disenangi oleh rakyat karena Raden Wijaya dianggap sebagai pemimpin yang ramah dan peduli dengan para pengikutnya.

Berbagai usaha yang dilakukan oleh Raden Wijaya di daerah Tarik sebenarnya merupakan strategi untuk menyusun kekuatan serangan balas dendam kepada Jayakatwang. Bak gayung bersambut, tujuan Raden Wijaya ternyata sejalan dengan kedatangan pasukan Kubilai Khan yang juga ingin menyerang Jayakatwang.

Dua kekuatan ini, yaitu Raden Wijaya dan pasukan Kubilai Khan kemudian bersama-sama menyerang Jayakatwang yang telah menundukkan Raja Kertanegara dari Singasari. Serangan yang dilakukan oleh dua kekuatan ini kemudian berhasil.

Setelah penyerangan tersebut, Raden Wijaya berbalik menyerang pasukan Kubilai Khan dan mengusirnya dari Jawa. Setelah penyerangan ini, Raden Wijaya kemudian ditasbihkan sebagai raja Kerajaan Majapahit.

Kisah mengenai pendirian Majapahit di daerah Tarik yang saat ini berada di wilayah Kabupaten Sidoarjo telah banyak dimuat dalam berbagai naskah dan prasasti. Melansir dari Historia, pendirian kerajaan ini tertulis dalam naskah Pararaton, Negarakertagama, dan Ranggalawe, serta diabadikan dalam Prasasti Kudadu dan Prasasti Sukamarta.

Meski telah dimuat dalam berbagai literatur dan prasasti, tetapi masih sedikit bukti fisik berupa bangunan peninggalan di wilayah Tarik yang dapat menunjukkan sisa pendirian Kerajaan Majapahit.

Namun beberapa tahun lalu, telah ditemukan sebuah situs di Desa Kedungbocok, Kecamatan Tarik. Temuan ini nampaknya bisa menjadi salah satu bukti bahwa Kecamatan Tarik yang saat ini berada di wilayah Kabupaten Sidoarjo, dulunya adalah hutan Tarik yang menjadi lokasi pendirian Kerajaan Majapahit.

Warga sedang melihat proses eskavasi situs
info gambar

Menurut Tempo, situs yang ditemukan pada awal tahun 2018 ini diduga bangunan berwujud pagar. Setelah dilakukan penggalian, bangunan tersebut terdiri atas lima tumpuk batu bata yang masing-masing berukuran panjang 32 sentimeter, lebar 21 sentimeter, dan tebal 7 sentimeter.

Penemuan situs ini diyakini sebagai bagian dari peninggalan Majapahit karena memiliki karakter yang sama seperti bangunan peninggalan Majapahit yang berada di Trowulan, Mojokerto. Selain memiliki material penyusun yang sama seperti di wilayah Trowulan, batu-bata yang ditemukan di situs Tarik, memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan batu-bata pada umumnya.

Meskipun belum banyak situs yang ditemukan, tetapi penemuan tersebut dapat menjadi bukti bahwa daerah Tarik memiliki peran yang penting bagi Kerajaan Majapahit.*

Referensi: Slamet Muljana, Menuju Puncak Kemegahan: Sejarah Kerajaan Majapahit | Tafsir Sejarah Negarakertagama | Historia.id | Tempo

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini