Hari Kesehatan Dunia, Peran Dokter dalam Perjuangan Kemerdekaan

Hari Kesehatan Dunia, Peran Dokter dalam Perjuangan Kemerdekaan
info gambar utama

World Health Day atau Hari Kesehatan Dunia dirayakan setiap tahun pada tanggal 7 April. Perayaan ini juga dilakukan untuk menandai didirikannya organisasi kesehatan dunia atau World Health Organization (WHO) pada tahun 1948.

Peran tenaga kesehatan sangatlah penting dalam penyelamatan generasi dari zaman ke zaman. Baik pada suasana damai maupun krisis seperti pandemi selama setahun ini. Tapi di Indonesia, peran tenaga kesehatan terutamanya dokter tidak hanya untuk menyembuhkan pasien. Namun, menyembuhkan bangsa yang telah terjajah oleh kolonialisme.

Menurut buku Merawat Bangsa: Sejarah Pergerakan Pada Dokter Indonesia, yang ditulis oleh Hans Pols mencatat peran mahasiswa kedokteran untuk memobilisasi pemuda untuk berperan dalam politik.

Mereka mendorong para pemuda melihat kondisi yang terjadi di tanah jajahan. Juga meminta mereka membayangkan bagaimana cara meningkatkan kualitas kehidupan orang pribumi di kepulauan ini.

Peran aktif para dokter dalam kesadaran bangsa tak sekadar mengikut panggilan zaman atau oportunitas. Kultur berjuang itu sudah ada sejak kolonialisme masih bercokol di Indonesia. Di era itu, para dokter termasuk yang paling awal menerima sains Barat dan lalu nasionalisme.

“Di Hindia Belanda, beberapa pendahulu nasionalis mereka telah melangkah melampaui batas-batas profesi kedokteran dengan terlibat dalam dunia jurnalistik, politik, dan kegiatan lain yang mendukung gerakan kaum nasionalis. [...] Pekerjaan mereka memperkuat hubungan kuat antara para dokter dan nasionalisme Indonesia,” tulis Hans Pols (hlm. 251).

Berawal dari Stovia

STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) memiliki peran penting bagi pergerakan perjuangan bangsa Indonesia. Pelopornya adalah Sekolah Dokter Djawa yang dibuka pada 1851. Latar belakang Sekolah Dokter Djawa didirikan sebagai pertimbangan mendirikan sekolah khusus petugas vaksin untuk menangani wabah cacar di sepanjang pantai utara Pulau Jawa dan wilayah Karesidenan Banyumas.

Lalu pada abad ke-19 atau 1902, Sekolah Dokter Jawa ditransformasikan ke dalam STOVIA. Tujuannya untuk menciptakan tenaga-tenaga medis di berbagai daerah. Selain itu melaksanakan di Rumah Sakit Tentara Batavia. Pemerintah kolonial kemudian mendanai pendidikan kedokteran-mendirikan perguruan tinggi kedokteran di Batavia (Jakarta) dan Surabaya, karena peran penting mereka dalam ekonomi kolonial.

Tapi pada akhirnya STOVIA malah menjadi tempat berkumpulnya tokoh-tokoh pergerakan nasional untuk memperjuangan kemerdekaan Indonesia. Lulusan STOVIA banyak yang aktif dalam pergerakan rakyat untuk mencapai Indonesia merdeka.

Mereka kemudian mendirikan organisasi Budi Utomo pada 1908, Indische Partij. Serta organisasi-organisasi pemuda lainnya, seperti Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon.

Tokoh tersebut seperti Sutomo, Tjipto Mangunkusumo, Wahidin Sudirohusodo. Kemudian ada di Sumatera Barat seperti Achmad Mochtar, A G Zakir, atau Mohamad Sjaaf.

Budi Utomo lahirkan kebangkitan nasional

Pada 1908, beberapa mahasiswa kedokteran lainnya di Batavia Medical College (STOVIA), bersama dengan dokter pensiunan, mendirikan sebuah asosiasi, bernama Budi Utomo. Asosiasi ini menganjurkan peningkatan kesempatan pendidikan bagi laki-laki dan perempuan muda Jawa.

Beberapa tokoh pendiri Boedi Oetomo (BO) antara lain Soetomo, Soeraji Tirtonegoro, Goenawan Mangoenkoesoemo, dan lainnya. Pendirian BO dapat diwujudkan berkat gagasan Wahidin Soedirohoesodo. BO dianggap organisasi pertama di Indonesia yang bersifat nasional dan modern dalam sejarah. Maka, tanggal berdirinya Boedi Oetomo diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Para pendiri BO yakin bahwa sains, teknologi, dan kedokteran modern dapat mengubah kehidupan semua orang Jawa. Mereka percaya bahwa pendidikan memberikan kunci menuju dunia yang lebih baik. Banyak mahasiswa di Jawa tertarik pada cita-cita Budi Utomo dan menjadi anggota.

Selain itu para dokter ini juga mengkritisi peran pemerintah kolonial yang komitmennya sangat terbatas dalam hal kesehatan dan obat-obat an. Dibanding kekuatan kolonial lainnya.

Sementara itu ada juga yang mendirikan rumah sakit dan klinik lalu memberikan pendidikan kesehatan masyarakat. Beberapa dokter bergabung dengan dewan kota yang menganjurkan penyediaan selokan dan air minum segar, yang diketahui dapat mengurangi penyakit dan meningkatkan kesehatan.

Memang setelah kemerdekaan, peran dokter dalam politik mulai surut karena sebagian besar dari mereka menjadi pegawai negeri. Tapi dengan keterlibatan politik di era kolonial, bisa menjadi insipirasi dokter Indonesia pada masa sekarang.

Baca juga:

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini