Sejarah Perkembangan Tenaga Kesehatan Indonesia dan Peringatan Hari Perawat Nasional

Sejarah Perkembangan Tenaga Kesehatan Indonesia dan Peringatan Hari Perawat Nasional

Medical Professional Working ©Piron Guillaume on Unsplash

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

“Sebagian mereka mungkin tak sempat memikirkan hari peringatan profesi sendiri. Mereka sibuk melaksanakan tanggung jawab di ruang-ruang perawatan rumah sakit, klinik, dan pusat kesehatan. Bersama dokter dan paramedis lain, mereka berjuang untuk kesehatan rakyat bangsa ini” ujar Presiden Jokowi mengucapkan Selamat Hari Perawat Nasional di akun Twitternya pada 17 Maret 2020 lalu.

Seluruh dunia saat ini memang sedang digemparkan oleh penemuan virus baru atau Covid-19 yang mulai marak tak terkecuali di Indonesia. Sehingga, tenaga kesehatan tentunya sedang mengorbankan waktu, berjuang melawan pasien positif Covid-19 hingga dinyatakan sembuh. Pekerjaan itu bukan tanpa risiko, di Indonesia sendiri beberapa tenaga medis maupun para medis sudah ada yang dinyatakan meninggal dunia setelah merawat pasien virus corona. Mereka memang pantas dikatakan sebagai pahlawan. Namun, apakah kawan GNFI tahu bagaimana awal mula tenaga kesehatan mulai berkembang dan masuk ke Indonesia?

Sejarah dan perkembangan tenaga kesehatan atau tim medis sebelum masa penjajahan di Indonesia awalnya dijumpai dengan adanya resep-resep jamu warisan nenek moyang yang diturunkan dari generasi ke generasi melalui catatan pada daun lontar atau sarana lainnya yang dapat digunakan sesuai dengan zaman tersebut. Pengobatan ini menggunakan obat-obatan berupa dedaunan, akar-akar, kulit kayu dan rempah-rempah lainnya yang dianggap memiliki khasiat untuk menyembuhkan penyakit. Mereka yang memiliki pengetahuan mengenai ilmu kesehatan pada saat itu dianggap sebagai tokoh masyarakat dan sangat diperlukan oleh masyarakat.

Saat zaman penjajahan Belanda mulai memasuki Indonesia, ilmu kedokteran Eropa dibawa ke Indonesia guna melayani kesehatan para militer Belanda pada saat itu. Kesehatan para militer pada saat itu sangat penting bagi Belanda karena untuk mengokohkan kekuasaannya di Indonesia. Setelah Belanda berhasil merebut kekuasaan di Indonesia dan mengambil hasil panen petani Indonesia. Selanjutnya, perhatian kesehatan yang berikutnya tertuju kepada para petani Indonesia. Karena kesehatan petani sangat berpengaruh bagi Belanda untuk menjamin hasil panennya nanti.

Kurangnya tenaga medis akibat wabah penyakit cacar yang menular saat itu membuat Belanda mendesak para warga pribumi dan mengedukasi mereka mengenai vaksinisasi cacar. Sehingga mereka mendirikan sekolah Jawa atau biasa disebut “Dochter Java School”. Setelah lebih dari 20 tahun lamanya sekolah pendidikan kedokteran di tahun 1989 yang dikenal sebagai STOVIA (School tot Opleiding van Indlansche Arts) didirikan.

Selain STOVIA yang berada di Batavia sebagai sekolah kedokteran, bediri juga sekolah kedokteran kedua pada tahun 1931 yaitu di Kota Surabaya dan diberi nama NIAS (Nederlandsch Indische Artsen School) yang menerima murid dari bangsa Barat maupun Pribumi selain mendapat ilmu kedokteran mereka juga bisa bertukar pikiran demi memajukan wawasan tentang nasionalisme. Seperti misalnya Dr Soetomo, Dr Wahidin Soedirohoesodo, Dr Ciptomangoenkoesoemo, dan dokter lainnya yang menjadi pelopor gerakan nasionalisme demi mencapai kemerdekaan.

Sejak zaman penjajahan itulah tenaga kesehatan seperti perawat dan dokter Indonesia sudah ada dengan adanya rumah sakit. Dimulai dari rumah sakit Residen Vpabst (1819) di Batavia berubah nama menjadi Stadsverband (1919) dan berubah menjadi Central Burgerlijke Zieken Inrichting (CBZ) yang berlokasi di daerah Salemba dan saat ini menjadi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).

Pada 17 Maret 2020 lalu Hari Perawat Nasional telah diperingati, penentuan peringatan ini merupakan hari lahir terbentuknya organisasi Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) pada 17 Maret 1974 silam. Pada masa itu, para tenaga keperawatan membuat organisasi ini dengan tujuan untuk meningkatkan profesionalitas kinerja perawat sesuai dengan kode etik yang ada, dan berkomitmen untuk memberikan perlindungan pada masyarakat dan profesi keperawatan dengan menyusun RUU keperawatan, dan tentunya memberikan akses pelayanan yang mudah bagi masyarakat (ppni-inna.org).

Dengan begitu, Hari Perawat Nasional ini diperingati dengan harapan bahwa perawat dapat memberikan pelayanan yang baik dan berkualitas bagi seluruh rakyat Indonesia yang sesuai dengan kompetensi dan standar praktik keperawatan demi keselamatan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

*Diulas dari berbagai Sumber (ppni-inna.org, researchgate.net)

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Terobosan Digital, A Conference Sukses Dilaksanakan Sebelummnya

Terobosan Digital, A Conference Sukses Dilaksanakan

Guru Besar UGM Sebut Pandemi Covid-19 Jadi Momentum Berhenti Merokok Selanjutnya

Guru Besar UGM Sebut Pandemi Covid-19 Jadi Momentum Berhenti Merokok

Putri Maulida
@putrimaulida

Putri Maulida

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.