Beksi Petukangan, Silat Lokal Melawan Kolonial

Beksi Petukangan, Silat Lokal Melawan Kolonial
info gambar utama

#WritingChallengeGNFI #CeritadariKawanGNFI

Pernahkah Kawan membaca atau mendengar kata Beksi? Beksi merupakan salah satu nama aliran silat khas Betawi. Menurut data Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat, aliran silat ini memiliki jumlah murid dan perguruannya di wilayah kebudayaan Betawi. Bicara wilayah kebudayaan Betawi tentunya tidak sebatas hanya Jakarta, tetapi juga sampai ke Tangerang, Depok, Bogor, Bekasi, dan Karawang.

Silat Beksi bermula di sebuah kampung bernama Petukangan yang setelah tahun 1975 masuk dalam wilayah Provinsi DKI Jakarta, yang sebelumnya masuk dalam wilayah Jawa Barat. Menurut Zaenuddin HM dalam bukunya 212 Asal-Usul Djakarta Tempo Doeloe, toponimi Kampung Petukangan berasal dari banyaknya para buruh atau pekerja mebel yang mendiami dan beraktivitas di wilayah tersebut. Hal itu dikarenakan daerah tersebut yang dekat dengan wilayah Kebayoran, yang pada masa kolonial dikenal sebagai penghasil kayu bayur untuk dikirim ke Kota Batavia.

Kampung Petukangan yang termasuk wilayah Ommelanden (luar tembok Batavia) merupakan daerah yang begitu rawan dengan perlawanan rakyat akibat sistem tanah partikelir, yang berlaku pada masa Pemerintah Hindia Belanda. Haji Godjalih yang merupakan warga asli Petukangan pun geram dan belajar silat ke Kampung Dadap, Tangerang yang juga wilayah Ommelanden daerah pesisir.

Strategi ilmu silat dari lima tokoh

Silat Beksi di Petukangan | Foto: Kastara
info gambar

Rian Biadillah dalam buku Silat Beksi dan Tokoh-Tokohnya di Petukangan menyebutkan bahwa sekitar tahun 1900 awal selesai berguru, ia mengenalkan hasil bergurunya kepada para muridnya yang kini juga dikenal sebagai tokoh-tokoh pengkreasi dan pengembang awal Beksi.

Mereka adalah, Haji Godjalih, Haji Hasbullah, Simin, M. Noer, dan Minggu. Kelima orang tersebut merupakan tokoh lokal yang berjuang meraih dan mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia bersama para murid silat yang dimilikinya, dan hampir terlupakan dalam catatan sejarah.

Haji Godjalih sangat disegani masyarakat terlebih ia adalah anak seorang lurah ternama bernama Haji Gatong. Menurut penuturan Muali Midi, sesepuh masyarakat Petukangan, Haji Godjalih pun diangkat sebagai lurah versi republik sekitar tahun 1940-an sehingga ia mampu mengordinir rakyat. Paling tidak dalam upaya mempertahankan daerah sekitar wilayahnya, terutama dalam hal kekecewaan sistem tanah partikelir dan maraknya perampokan.

Kelima tokoh tersebut kemudian membuat strategi dengan mengajarkan ilmu silat yang dimiliki dalam hal ini Beksi. Pada saat itu belum bernama Beksi sebagian orang Betawi tengah menyebutnya dengan istilah main pukulan, sedangkan orang Betawi pinggir dan pesisir menyebutnya dengan istilah jurus. Banyak warga yang tertarik mempelajari terutama hanya sekadar untuk menjaga diri sendiri dari ancaman.

Menurut keterangan Eddie Marzuki Nalapraya, presiden silat dunia beberapa waktu lalu, pada masa kolonial pembelajaran silat dilakukan secara sembunyi-sembunyi karena jika ketahuan akan dianggap makar dan mencoba memberontak pemerintah. Terutama ketika revolusi bergejolak di tahun 1945 daerah Jakarta.

Haji Godjalih bersama para muridnya di Petukangan dan sekitarnya bersatu dan mengumpulkan kekuatan rakyat yang kemudian disebut laskar rakyat. Skripsi Muhamad Rido berjudul Eksistensi Silat Beksi di Petukangan Jakarta Selatan 1945-2015 menuliskan bahwa persatuan inilah yang kemudian dinamakan Laskar Beksi.

Pengorganisasian laskar yang dilakukan Haji Godjalih berkat keaktifannya sebagai anggota BPRI (Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia) yang diketuai oleh Bung Tomo dan memiliki banyak ranting di wilayah Pulau Jawa salah satunya Kota Jakarta.

Wilayah Kebayoran yang terdapat tangsi militer Belanda pun diserang dan berhasil dikalahkan oleh para laskar salah satunya Laskar Beksi sehingga menyebabkan beberapa tentara tewas. Kekalahan kemudian menjadi dendam bagi penjajah kolonial terutama tentara NICA (Netherlands-Indies Civiele Administration) untuk menyerang balik para laskar.

Dalam buku Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta karya Robert Cribb menyebutkan bahwa para tentara Eropa melakukan aksi penyisiran dari kampung ke kampung atau disebut juga Operasi Sergap yang bertujuan mencari tokoh atau dalang dalam gerakan laskar. Berita pertempuran Kebayoran dikuatkan dalam koran berbahasa Indonesia yang ditayangkan oleh Program Singkap, Kompas TV tahun 2019.

Desas-Desus penyisiran kemudian diketahui oleh Laskar Beksi di Petukangan, yang dengan sigap para anggota laskar berupaya menghadang dalam perjalanan guna menyerang balik. Ketika sedang dalam perjalanan tiba-tiba suara desing peluru berbalasan, bahkan ledakan bom tidak terelakkan lagi yang menyebabkan Mohamad Saidi, salah satu anggota Laskar Beksi tewas dalam pertempuran.

Berdasarkan penuturan Dasik Aripin, Dewan Guru Beksi, peritiwa itu sampai hari ini dikenal masyarakat Petukangan dan sekitarnya ditambah nama Mohamad Saidi diabadikan menjadi nama jalan yang menghubungkan wilayah Petukangan Selatan dengan Bintaro Utara.

Erpie Muhammad Nafis, yang juga Dewan Guru Beksi menambahkan bahwa Ideologi komunis yang marak sampai meletusnya G30S (Gerakan Tiga Puluh September) pada 1965 mampu ditangkal oleh Beksi, yang lekat dengan ajaran Islam dengan filosofinya “Berbaktilah Engkau Kepada Sesama Insan”. Hingga sekarang, istilah Beksi lebih populer dengan arti dan makna tersebut.

Kemerdekaan hari ini yang kita nikmati bersama dengan seluas-luasnya adalah bukti sejarah para pendiri bangsa yang tentunya tidak bisa dilupa. Berbagai ranah perjuangan ditempuh mulai dari diplomasi, gerilya para milisi sampai pengorbanan para pesilat tradisi. Dalam hal ini, belum begitu luas diungkap bagaimana para pesilat tradisi dalam hal ini Silat Beksi ini meraih dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Sejarah sesungguhnya tidak bisa berbohong, sebagai bukti bahwa Beksi sampai sekarang semakin bertambah murid dan perguruannya. Selain itu, pada tahun 2015 oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Silat Beksi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda milik Provinsi DKI Jakarta.

Kebenaran sejarah semakin nyata pada tanggal 12 Desember 2019 yang menjadikan Pencak Silat sebagai warisan budaya dunia milik bangsa Indonesia.

Oleh karenanya, sebagai generasi penerus bangsa sudah sepatutnya memahami perjalanan sejarah dan budaya bangsa supaya kita bisa lebih mengenal lagi identitas siapa diri kita sesungguhnya. Rasanya, dengan memahami masa lalu dan mau belajar dari pengalaman maka masa depan akan tergenggam paling tidak teraba dengan baik.

Jangan sekali-sekali melupakan sejarah, serta mari memajukan dan lestarikan budaya bangsa sebagai tanggung jawab kita bersama.

Salam hormat penuh hangat!

Referensi: Kemdikbud | Rian Biadillah, Silat Beksi dan Tokoh-Tokohnya di Petukangan, Naskah, 2019. | Robert Cribb, Para Jago dan Kaum Revoluisoner Jakarta 1945-1949, Depok: Masup Jakarta, 2010. | Muhamad Rido, Eksistensi Silat Beksi di Petukangan 1945-2015, Skripsi UIN Jakarta, 2020. | Wawancara dengan Dasik Aripin, sesepuh Dewan Guru Beksi pada 16 Februari 2021, Eddie M. Nalapraya, Ketua Umum PERSILAT pada 20 April 2019, dan Erpie M. Nafis, sesepuh Dewan Guru Beksi sekaligus Petarung Beksi tahun 1975 pada 16 Februari 2021

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

MR
KO
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini