Dr Sardjito, Ilmuwan Pencipta Vaksin dan Obat-Obatan untuk Rakyat

Dr Sardjito, Ilmuwan Pencipta Vaksin dan Obat-Obatan untuk Rakyat
info gambar utama

Polemik pengembangan vaksin nusantara yang digagas oleh mantan Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto terus menjadi perhatian. Pasalnya, uji klinis fase kedua, meski Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) belum mengeluarkan izin atau Persetujuan Pelaksanaan Uji Klinis (PPUK).

Bahkan sejumlah anggota Komisi IX akan menerima vaksin Nusantara di RSPAD Gatot Soebroto pada, Rabu (14/4/2021).

Berbicara tentang vaksin, Indonesia memiliki figur yang begitu berjasa dalam perang kemerdekaan. Terutama dalam memproduksi vaksin dan obat-obatan untuk masyarakat dan tentara.

Dr Sardjito, nama ini mungkin lebih terkenal karena merujuk sebuah rumah sakit di Yogyakarta. Padahal, Ia bukan sekadar dokter yang berkiprah di bidang kesehatan. Sejatinya, pria kelahiran Magetan Madiun, 13 Agustus 1889 ini merupakan pendidik dan negarawan yang ikut berjuang pada masa pergerakan dan awal kemerdekaan RI.

Pada 1925, Dr Sardjito pernah menjadi Ketua Cabang Jakarta dan pengurus pusat Boedi Oetomo. Ia juga menjadi lulusan STOVIA ke-263 pada 1915 dan memperoleh predikat lulusan terbaik.

Setelah lulus, Ia kemudian bekerja di sejumlah klinik dan rumah sakit di Batavia. Setelah dua tahun bekerja, ia kemudian bekerja sebagai peneliti di lembaga penelitian vaksin dan obat milik pemerintah Hindia Belanda: Institute Pasteur.

Kepala Institute Pasteur asli pribumi

Pada akhir Agustus 1945, lembaga penelitian vaksin dan obat-obatan milik pemerintah Hindia Belanda, Institute Pasteur, secara resmi diambil alih oleh pemerintah Republik Indonesia. Tapi saat itu pimpinan dari lembaga vaksin dan obat ini masih kosong.

Saat itu Menteri Kesehatan Boentaran Martoatmodjo meminta kepala laboratorium Institute Pasteur di Semarang, Jawa Tengah, untuk mengambil alih kepemimpinan puat Institute Pasteur di Bandung. Ia adalah Sardjito yang resmi menjabat pada akhir September 1945.

Sardjito tercatat sebagai orang Indonesia pertama yang memegang jabatan itu. Sebelumnya pada masa penjajahan Belanda, hanya orang Eropa saja yang berhak menduduki jabatan kepala pusat.

Pada saat di Bandung, Sardjito mendirikan pos-pos medis di sepanjang jalur transportasi penting dan pinggiran kota tempat tentara berkumpul menjaga keamanan kota. Bahkan saat peristiwa Bandung Lautan Api, Sardjito terus membantu rakyat di garis depan.

Ia menyediakan kebutuhan akan obat-obatan, vaksin, dan makanan darurat. Di bawah pimpinannya Institute Pasteur menjadi garda terdepan dalam menyediakan kebutuhan medis semasa perang.

Berjasa dalam pembuatan vaksin

Pada masa kemerdekaan, Sardjito telah memberikan kontribusi nyata dalam membantu para pejuang kemerdekaan. Sardjito menciptakan makanan ransum bernama Biskuit Sardjito untuk para tentara pelajar yang sedang berjuang di medan perang.

Ia pun sempat menyelamatkan vaksin cacar yang dimasukan dalam tubuh seekor kerbau. Kerbau itu pun dibawa ke Klaten, kemudian disembelih untuk diambil bagian limpanya, demi memperoleh vaksin tadi.

Sardjito memang sudah gandrung dengan penelitian. Pada 1918-1919, ia melakukan riset pertama soal influenza. Saat itu Influenza menjadi salah satu penyakit yang cukup mematikan.

Sebagai seorang dokter yang juga peneliti, Sardjito mempunyai penemuan-penemuan penting bagi masyarakat. Dirinya menciptakan vaksin anti penyakit infeksi untuk Tipes, Kolera, Disentri, Staflokoken, Streptokoken, Calcusol, obat penyakit batu ginjal dan calterol, serta obat penurun kolesterol.

Tapi Sardjito tidak mengeksploitasi penemuannya untuk keuntungan pribadi. Dia bahkan menekankan obat tersebut tidak dijual mahal.

"Tidak boleh menjual obat ini mahal-mahal. Obat ini untuk rakyat. Banyak rakyat yang menderita penyakit batu ginjal. Kasihan kalau mereka harus operasi," kata Sardjito sebagaimana dikutip dari catatan makalah Prof. Dr. A.M. Hendropriyono.

Akhirnya dengan segala dedikasi dan jasanya, pada 8 November 2019, Presiden Joko Widodo memberikan gelar Pahlawan Nasional untuk Dr Sardjito.

Tentunya diharapkan sosok Dr Sardjito, bisa menjadi inspirasi para generasi penerus untuk menemukan obat-obat bagi wabah penyakit, utamanya vaksin virus Covid-19.

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini