Makan Menggunakan Tangan, Warisan Budaya Asli Indonesia

Makan Menggunakan Tangan, Warisan Budaya Asli Indonesia
info gambar utama

Penulis: Habibah Auni

Indonesia memiliki beragam kuliner khas di setiap daerah. Dari Sabang sampai Merauke, semua berjejer makanan-makanan lezat nan menggiurkan. Sebagai negara yang kaya akan budaya, negeri ini punya cara sendiri untuk menikmati cara makan.

Makan pakai tangan! Siapa yang tidak pernah? Ya, itu adalah kebiasaan makan asli orang Indonesia. Tradisi makan dengan tangan dapat menambah kenikmatan dari makanan yang sedang disantap. Entah kenapa bisa begitu. Terutama ketika Kawan GNFI makan nasi dengan sambal, kehangatan dan tekstur begitu melezatkan.

Semua Bermula dari Nasi Bungkus

Ilustrasi | Foto: Unsplash
info gambar

Percayakah Kawan GNFI kalau nasi bungkus lah yang memulai tradisi makan pakai tangan? Agar terdengar masuk akal, kita akan merujuk pendapat para pakar di bidangnya.

Pertama, ada Prof. Murdjiati, Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Gajah Mada. Ia berpendapat bahwa makan pakai tangan dilakukan oleh orang Jawa dan Sumatra di masa lampau.

Lalu, ada Arie Parikesit seorang pakar kuliner yang giat di media sosial. Ia mengungkapkan kalau makan pakai tangan berkaitan dengan hidangan masa lalu. Saat masyarakat Indonesia belum terlalu mengenal sendok garpu yang dibawa oleh orang Portugis.

Selain itu, Arie juga menyatakan pendapat serupa dengan Prof. Murdjiati bahwa makan pakai tangan berhubungan dengan nasi bungkus. Nasi bungkus yang dimaksud Arie tak lain adalah nasi rames.

Muluk

Ilustrasi | Foto: Unsplash
info gambar

Dalam budaya Jawa, makan pakai tangan dikenal sebagai muluk. Mengutip Suryadi (2019), muluk memiliki arti leksikal mengambil sesuatu dan setinggi-tingginya. Makanan akan terasa lebih nikmat ketika disantap dengan kesederhanaan, yaitu makan dengan mengoptimalkan penggunaan jari tangan.

Tradisi makan Jawa menekankan penggunaan lima jari tangan dalam mengambil makanan untuk dimasukkan ke dalam mulut. Kelima jari tangan dianggap sebagai satu kesatuan yang memiliki gerak dan fungsi saling melengkapi.

Selain itu, muluk turut mengaplikasikan sunnah rasul, yaitu makan dengan menggunakan tangan. Adapun 3 jari yang dipakai adalah ibu jari, jari telunjuk, dan jari tengah. Jari telunjuk dan jari tengah berfungsi menahan makanan di tangan, sementara ibu jari berperan dan mendorong makanan ke dalam mulut.

Hal ini akan membiasakan Kawan GNFI dalam melaksanakan pola hidup higienis. Mengingat Kawan GNFI ada kewajiban untuk mencuci tangan sebelum dan setelah muluk. Jari dan kuku Kawan GNFI akan terhindar dari kotoran dan kuman yang berpotensi menimbulkan berbagai penyakit.

Aktivitas muluk juga memiliki 2 nilai filosofi tentang usaha kerja keras. Pertama, mengambil makanan secukupnya. Kedua, menghargai apa yang sudah diambil dan mengangkat makanan sebagai ungkapan rasa syukur.

Di samping itu, muluk memiliki nilai sosial. Hal ini bisa dilihat di pesantren salaf, di mana makan pakai tangan dilakukan di atas hamparan daun pisang supaya bisa makan secara bersama-sama. Tak tanggung-tanggung, aktivitas muluk dapat menghemat tenaga untuk mencuci piring, mempererat tali ukhuwah, mendapatkan berkah, dan menumbuhkan sikap saling menghormati.

Implementasi nilai sosial dapat ditemui di acara hajatan, selamatan atau kenduri yang menyajikan semua hidangan-hidangan dalam ancak anyaman (wadah penampung makanan) dan dimakan bersama dengan aktivitas muluk.

Nah, itu dia fakta mengenai makan pakai tangan. Ternyata tersimpan sejarah, nilai, dan filosofi dari aktivitas yang sering kita lakukan. Kawan tim mana, nih? Makan pakai tangan atau sendok?*

Referensi:Budaya Indonesia | inibaru.id | Kreativv | Kumparan | Rembukan | SAA IAIN Kediri | Suryadi, M. (2019). Potret Aktivitas Makan dalam Leksikon Jawa dan Nilai Filosofi. NUSA.

Baca Juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

KO
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini