Maleman, Tradisi Sambut Lailatul Qadar Masyarakat Jaton di Minahasa

Maleman, Tradisi Sambut Lailatul Qadar Masyarakat Jaton di Minahasa
info gambar utama

Memasuki 10 hari terakhir di bulan Ramadan menjadi malam istimewa bagi umat Islam. Hal ini karena diyakini turunnya malam lailatul qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Warga Jawa yang ada di Minahasa, Sulawesi Utara dan tinggal di Kampung Jawa Tondano (Jaton), di 10 malam terakhir ramadan memiliki tradisi yang namanya Maleman, untuk menyambut malam lailatul qadar.

Mereka lebih khusuk dan tawadu beribadah, terutama kaum usia lanjut. Tradisi yang dilakukan di Masjid Agung Al-Fallah Kyai Modjo jadi pusat kekhusukan warga Jawa Tondano ini.

“Kami biasa menggelar maleman, hitungan ganjil pada bulan Ramadan yang dimulai dari malam 21, 23 dan seterusnya,” kata Idris Mertosono, warga Kampung Jawa Yosonegoro Kabupaten Gorontalo, mengutip Kompas (3/5/2021).

Pada maleman ini, warga yakin akan turun malam lailatul qadar, malam yang syahdu dan hening. Di malam ini Tuhan akan melipatgandakan amal perbuatan manusia.

Tokoh agama Kampung Jaton, Ustaz Samsudin Djoyosuroto menjelaskan, tradisi maleman memang dilaksanakan untuk menyambut malam lailatulqadar, malam yang paling dinantikan seluruh umat muslim di dunia.

"Tradisi maleman ini dilaksanakan malam-malam ganjil di 10 malam terakhir ramadan. Jadi dilaksanakan malam ke 21, 23 dan 25, karena sebagaimana anjuran Rasulullah SAW, malam lailatulqadar itu ada di malam ganji," tutur Djoyosuroto, dalam Kumparan.

Doa dan santap makan bersama

Hal yang menarik pada tradisi maleman ini, masyarakat membawa makanan berupa ambeng, yang terdiri dari berbagai macam lauk pauk dan juga nasi kota untuk dibagikan kepada para jamaah dan anak-anak yang datang di masjid. Makanan yang dibawa dan dibagikan tersebut, kemudian disantap bersama di masjid.

“Panggang ayam selalu ada saat maleman,” kata Liza Nurkamiden, warga Desa Kaliyoso, Kecamatan Bongomeme Kabupaten Gorontalo yang dikutip dari Kompas.

Yang unik, ayam panggang ini disajikan dalam ancak atau usungan terbuat dari kayu. Pose ayam yang dibentangkan dengan menggunakan irisan bambu menambah penampilan yang memikat, juga aroma yang harum karena saat memanggang ayam dilumuri dengan rempah-rempah yang dihaluskan.

Aneka makanan ini dimasukkan dalam sudi, daun pisang yang dibentuk sebagai wadah makanan. Biasanya berisi serundeng, sambel goreng dan acar. Dalam 1 ancak dapat memuat banyak sudi yang diatur rapi.

Ancak yang sudah siap dengan segala masakan lezatnya ini dibawa ke masjid saat adzan magrib berkumandang. Setiap rumah tangga menyajikan masakan yang terbaik, ancak dibawa dua orang ke masjid saat matahari mulai memasuki cakrawala.

Djoyosuroto menyebutkan, masyarakat memang berlomba-lomba untuk membawa makanan yang akan dibagikan, sehingga suasana masjid tetap akan ramai hingga di hari-hari terakhir ramadan, karena mengejar pahala yang berlipat.

Imam masjid kemudian memimpin doa, memohon kesehatan, keberkahan rezeki, kebaikan dan keselamatan di dunia dan di akhirat kelak. Segala amal ibadah selama Bulan Ramadan semoga diterima Allah SWT. Dan mereka berharap menjadi orang yang selalu bersyukur atas segala karunia yang diberikan.

Usai berdoa, ambengan lalu diberikan beramai-ramai. Anak-anak menjadi kelompok yang paling bahagia, hal ini terlihat dari Keceriaan saat mereka pulang ke rumah dengan membawa sudi berisi makanan kesukaan mereka.

Tradisi yang terus dipertahankan

Tradisi maleman merupakan kegiatan yang terus dipertahankan meskipun generasi terus berganti. Menu ambeng tak pernah berubah, ayam panggang, serundeng, sambal goreng dan acar. Berkah dari tanah yang subur memberi banyak hasil bumi untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Tradisi maleman ini adalah tradisi lama yang dibawa para sesepuh dari Tanah Jawa. Mereka melestarikan tradisi ini awalnya di tepian Danau Tondano, Minahasa, tempat mereka dibuang pemerintah kolonial Belanda usai Perang Diponegoro tahun 1830.

Kiyai Mojo beserta anaknya Gazali yang baru berumur 6 tahun serta 62 pengikut setia yang semuanya kaum pria ini menjadi pelaku maleman pertama kali di tanah yang berawa-rawa jauh dari tempat asal mereka.

Semua perempuan Minahasa yang menikah dengan pasukan Kyai Modjo kemudian memeluk agama Islam. Anak cucu dari perkawinan mereka kemudian dikenal dengan Jawa Tondano.

Para gadis Minahasa yang dinikahi kombatan Perang Jawa ini juga terlibat aktif dalam budaya yang masih baru bagi mereka. Mereka turut membantu memasak dan menyiapkan semua keperluannya.

Bagi mereka, maleman bukan sekadar pesta ayam panggang dan lainnya, ada nilai spiritual yang dijalani untuk menjadi manusia paripurna. Salah satunya adalah menjumpai malam lailatul qadar, di mana amal ibadah manusia akan dilipatgandakan

Di manapun orang Jawa Tondano berada, tradisi ini terus dikembangkan. Kini orang Jawa Tondano sudah berpencar di berbagai daerah, tidak hanya di Tondano, Minahasa, Sulawesi Utara.

Mereka telah mengembangkan komunitasnya ke luar daerah, seperti di Desa Bojonegoro di Kabupaten Minahasa Selatan, Desa Ikhwan Kabupaten Bolaang Mongondow, Desa Yosonegoro, Kaliyoso, Reksonegoro, Mulyonegoro, Rejonegoro, Bandungrejo di Kabupaten Gorontalo.

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini