Cerita Pondok Kopi, Perkebunan Kopi Pertama Belanda di Tanah Jawa

Cerita Pondok Kopi, Perkebunan Kopi Pertama Belanda di Tanah Jawa
info gambar utama

Kopi sudah mulai dikenal dan digunakan manusia sejak 1000 SM. Penyebaran kopi sebagai minuman sudah dimulai diperkenalkan bangsa Arab pada tahun 1400 M.

Bangsa Eropa sendiri, termasuk Belanda baru memperkenalkan kopi sebagai bisnis pada tahun 1658 M. Di Indonesia, kopi sudah ada sejak abad ke-17, dibawa oleh Belanda yang pada saat itu sedang menjajah Indonesia.

Pada tahun 1696, Gubernur Jenderal Adrian Van Ommen menerima biji kopi dari mertuanya yang bertugas di Malabar, India. Saat ditanam di kebun miliknya di sekitar Batavia dan Cirebon ternyata kopi yang dihasilkan sangat baik.

Di Nusantara sebenarnya kopi telah dikenal umat Islam sebelum dibawa oleh Belanda. Umat Islam yang menunaikan ibadah haji membawa kopi kembali ke tanah air. Hanya saja, kopi belum menjadi primadona saat itu. Nafsu keuntungan finansial Belanda-lah yang menjadikannya komoditas penting di tanah air.

Tapi tidak banyak yang tahu kalau tanaman kopi pertama di Indonesia ditanam di kawasan yang kini dikenal sebagai Pondok Kopi. Sekarang bahkan tak ada lagi tanaman kopi di Pondok Kopi. Kawasan Pondok Kopi di Jakarta Timur kini sudah jadi kawasan modern yang dipenuhi pemukiman. Padahal jika menengok sejarahnya, nama Pondok Kopi disematkan karena di sini dijadikan perkebunan kopi.

Awalnya bibit kopi ini diujicoba pertama kali di lahan pribadi Gubernur Jenderal VOC Willem van Outhoorn di kawasan yang sekarang dikenal sebagai Pondok Kopi, Jakarta Timur. Bibit kopi ini kemudian tumbuh subur dan menghasilkan buah yang bisa dipanen. Biji kopi dari hasil panen pertama kebun ini kemudian dibawa ke Hortus Botanicus Amsterdam.

Pondok Kopi dulunya dikenal dengan sebutan Desa Kopi, saat itu desa ini masuk dalam bagian Desa Malaka. Karena sulit membedakan antara Desa Kopi dan Desa Malaka, akhirnya warga sepakat mengganti nama Desa Kopi dengan sebutan Pondok Kopi. Nama ini masih digunakan sampai sekarang.

Sayangnya penanaman kopi di kawasan Pondok Kopi ini tak berjalan mulus karena kebun kopi dilanda banjir yang akhirnya merusak tanaman. Kemudian pada 1699, bibit kopi kembali didatangkan namun penanamannya diperluas ke Jawa Barat.

Baca juga:

Kopi berkualitas dari Jawa

Pasca uji coba tersebut, kebun kopi semakin luas dan menjelajah ke banyak daerah di Indonesia. Hal ini karena, hasil penelitian para biolog di Hortus Botanicus Amsterdam yang kagum dengan kualitas kopi Jawa.

Para biolog ini mengatakan kalau kopi Jawa punya kualitas dan cita rasa yang unik dan berbeda dengan kopi yang pernah mereka coba. Mengetahui hal ini, kemudian para ilmuwan mengirim contoh kopi Jawa ke berbagai kebun raya yang ada di Eropa.

Masyarakat Eropa, terutama Prancis begitu menyukai cita rasa dari kopi yang dahulu dikenal sebagai kopi Jawa ini.

"Seiring berjalannya waktu, istilah a Cup of Java muncul di dunia barat, hal ini mengesankan kopi Indonesia identik dengan Kopi Jawa, meskipun masih terdapat kopi nikmat lainnya seperti kopi Sumatera dan kopi Sulawesi. Kopi yang ditanam di Pulau Jawa pada umumnya adalah kopi Arabika," tulis akun twitter @penangkar_benih.

Memang setelah sukses di Batavia, Belanda kemudian memperluas lagi produksi kopinya di beberapa daerah seperti Prenger, Jawa Barat, Sumatera Utara, Aceh, Bali, hingga Papua.

Sejarah berkembang dan masuknya kopi di Indonesia juga tak lepas dari kondisi tanahnya yang subur. Di Indonesia semua kopi yang ditanam di dataran tinggi tumbuh dengan subur.

Segera setelah merasakan bagusnya hasil kopi di Jawa, Belanda segera memberlakukan kebijakan yang memaksa untuk menanam kopi. Para petani dipaksa menanam kopi dan hasilnya harus dijual kepada V.O.C. dengan harga yang sangat rendah.

Hal ini tentu saja sangat menguntungkan VOC. Dan di era tanam paksa ini, VOC menuai banyak keuntungan dan menguasai perdagangan kopi selama lebih dari dua abad.

Baca juga:

Pahitnya kopi dan penderitaan kolonialisme

Kopi memberi perubahan besar di negeri ini seperti kutukan. Ia tidak datang sekadar menjadi komoditas pertanian, tapi juga tiket emas kolonialisme Belanda. Tanpa keajaiban tanah subur Indonesia itu, VOC tak mungkin menyaingi dominasi spanyol di Eropa. Begitu juga tanpa dominasi VOC, tak mungkin kita merasakan tanam paksa (cultuurstelsel) yang merombak pondasi sosial kita.

Begitulah kopi hadir, tapi kental dengan cerita dan pahit seperti ingatan tanam paksa. Para petani di Priangan begitu menderita.

Mereka bukan saja dipaksa menanam kopi, tetapi juga mengantar hasil panennya ke gudang-gudang VOC dan menerima berapa pun harga yang ditentukan oleh VOC.

"Seorang pemilik kebun kopi swasta mengatakan bahwa ketika panen, semua orang dikerahkan untuk memetik panen kopi. Perempuan, anak-anak bahkan orang lanjut usia dikerahkan untuk memetik hasil panen," ucap Beggy Rizkiansyah, Penulis Sejarah dan Akitvis Jejak Islam untuk Bangsa (JIB) mengutip Republika.

Menurut catatan, pada tahun 1721 sekitar 90 persen kopi yang didagangkan di Amsterdam berasal dari Mocha, Yaman. Namun lima tahun kemudian, Jawa telah menjadi produsen utama kopi bagi Belanda.

"Sebanyak 90 persen berasal kopi yang didagangkan VOC berasal dari Jawa. Begitu terkenalnya kopi dari Jawa sehingga ‘Jawa’ menjadi istilah pengganti kata kopi. (Steven Topik: 2004) “A Cup of Java.” Begitu istilah yang dikenal saat itu," jelasnya.

Menurut Jan Breman dalam Mobilizing Labour for the Global Coffee Market, VOC menangguk untung luar biasa dari produksi kopi di Jawa. Pada tahun 1730, Amsterdam memperdagangkan kopi dari tiga benua, Jawa, Reunion dan Yaman.

Setelah Indonesia mendapatkan kemerdekaan, akhirnya perkebunan-perkebunan kopi yang ditanam VOC diambil alih oleh pemerintah sehingga hasilnya kemudian diekspor ke beberapa negara.

Kopi Aceh Gayo, Kopi Mandheling, Kopi Lintong, Kopi Kintamani Bali hingga Kopi Jawa Preanger jadi salah satu jagoan kopi asli milik Indonesia yang sangat populer tidak hanya dalam negeri tetapi juga mancanegara.

Dari jenisnya, mayoritas adalah kopi arabika, di mana lebih dari 90 persen dihasilkan oleh para petani kopi di daerah Sumatra Utara, dengan total produksi per tahunnya lebih dari 70 ribu dan 90 persennya merupakan produk ekspor.

Pada bulan Februari 2019, jumlah ekspor kopi Indonesia adalah 10,2 juta karung, yang masing-masing memiliki berat 60 kilogram. Terbanyak keempat di dunia, setelah Brasil, Vietnam dan Kolombia.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini