Sepeda Polygon, dari Sidoarjo hingga ke 33 Negara di Dunia

Sepeda Polygon, dari Sidoarjo hingga ke 33 Negara di Dunia
info gambar utama

Pandemi COVID -19 yang telah berlangsung lebih dari 1 tahun telah menyebabkan perubahan terhadap bisnis dan pola hidup masyarakat. Salah satu tren yang timbul akibat new normal ini adalah minat masyarakat untuk bersepada.

Hal ini menjadi peluang untuk produsen sepeda di Indonesia untuk mengembangkan bisnis baik secara domestik maupun internasional. Salah satunya PT Insera Sena atau lebih dikenal dengan produk sepeda merek Polygon.

Sering dianggap perusahaan dari luar negeri, ternyata Polygon sebuah perusahaan sepeda lokal yang berbasis di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Perusahaan ini berdiri sejak tahun 1989 dengan luas 30.000 m² dengan luas bangunan sebesar 18.000 m².

PT. Insera Sena didirikan oleh Seojanto Widjaja yang lulus dari Teknik Industri ITB pada tahun 1987. Sosok yang akrab dipanggil Yanto itu membangun PT. Insera Sena karena ingin meneruskan usaha keluarganya yang menekuni pekerjaan dalam distribusi sepeda sejak lama.

Pandemi Corona, Tren Naik Sepeda Justru Meroket!

Insera adalah kepanjangan dari “Industri Sepeda Surabaya”, sementara Sena adalah nama dari sosok wayang yang cukup terkenal di Jawa Timur yang menggambarkan kekuatan. Perusahaan sepeda ini memiliki visi untuk menjadi merek sepeda yang berkualitas global dan siap bersaing di pasar internasional.

"Berawal dari sebuah perusahaan kecil yang berorientasi untuk memproduksi sepeda khusus untuk ekspor, 10 tahun pertama adalah proses pembelajaran dan fokus Polygon untuk persiapan pengembangan brand secara mandiri," mengutip dari situs resmi Polygon.

Perusahaan ini juga memproduksi berbagai macam jenis sepeda, seperti varian city bikes, trekking, MTB (Mountain Bike), full suspension, hard-trail bikes, downhill, BMX, dan lain-lain. Presentase produksi secara keseluruhan adalah 65 persen untuk sepeda MTB, 30 persen untuk trekking, dan 5 persen untuk jenis sepeda lainnya.

Sejak awal Insera Sena sudah dirancang sebagai industri yang memproduksi sepeda berkualitas dunia. Awal produksinya sebagian besar adalah untuk ekspor. Rencana jangka panjangnya yakni 50 persen untuk pasar ekspor dan 50 persen untuk pasar lokal.

Insera Sena pada mulanya memproduksi sepeda berdasarkan pesanan merek-merek terkenal dari luar negeri, masih belum menggunakan merek sendiri. Namun inisiatif untuk memproduksi sepeda lokal dengan merek Polygon kemudian muncul sejak awal 1990.

Meski begitu, jenama/merek Polygon saat itu belum dipromosikan secara serius, karena perhatian masih diarahkan pada peningkatan kualitas, yang salah satu caranya adalah dengan banyak menerima order dari luar negeri. Hingga pada tahun 1994, akhirnya mereka mengibarkan merek Polygon secara utuh.

Cara Polygon menembus pasar sepeda dunia

Bukan perkara mudah memang memasarkan sepeda di tengah kondisi krisis ekonomi pada 1997. Hampir seluruh pelosok negeri disambangi untuk mencari mitra yang mau jadi dealer penjualan Polygon. Banyak yang menolak, tetapi ada juga yang mau diajak kerja sama.

"Bayangkan waktu itu tahun 1999, sepeda Polygon dibanderol Rp500 ribu per unit. Sementara sepeda yang sudah ada paling mahal Rp200 ribu,” ungkap Ronny Liyanto, Direktur Dispoly Indonesia, anak perusahaan Insera yang khusus memasarkan Polygon.

Pada saat itulah Soejanto bersama seorang rekannya ketika itu mendirikan toko sepeda bernuansa modern dengan nama Rodalink. Pada tahun krisis itu, Insera Sena yang dipimpinnya mulai merakit jaringan pemasarannya sendiri.

Rodalink dirintis sebagai toko dengan konsen onestop shopping. Dimana toko tersebut tidak hanya menawarkan sepeda Polygon, melainkan juga sepeda dari berbagai merek kelas dunia beserta aksesorinya.

Hingga pada tahun 2000 tercatat ada 24 gerai Rodalink, dan pada 2001-2002 Rodalink merambah ke negeri jiran, Singapura dan Malaysia.

5 Brand di Indonesia yang Sering Dikira Brand Luar Negeri

Keberhasilan Polygon menembus pasar dalam dan luar negeri antara lain karena konsistensinya dalam produksi. Sejak awal Polygon, memang dibuat sebagai produk gaya hidup, bukan sekadar alat transportasi.

Polygon memulai dengan mengambil target pasar dari segmen atas lebih dulu. Dengan strategi itu, diharapkan pasar yang ada di bawahnya akan ikut terbawa. Awalnya, strategi ini tidak berjalan dengan baik. Karena, sulit menemukan dealer dan pedagang yang mau menjualnya. Hal ini dapat dimaklumi karena harga Polygon tergolong mahal.

Tapi seiring meningkatnya penjualan Polygon, satu per satu dealer bersedia untuk menjual Polygon. Meskipun demikian, Insera Sena tetap menjaga citra eksklusifnya, yaitu dengan membatasi jumlah dealer. Memang hanya mitra yang memenuhi syarat yang bisa menjadi dealer, tentunya dengan memerhatikan zona wilayahnya.

Selain itu, Polygon pun masuk ke berbagai komunitas, seperti Bike to Work dengan mensponsori acara yang dilakukan oleh komunitas independen itu. Strategi ini dianggap cukup ampuh karena melihat produk Polygon yang begitu mahal. Tapi dengan adanya komunitas, produk mereka akan terjual layaknya kacang goreng.

Polygon juga berusaha untuk menjadi trend-setter dalam meluncurkan lini produk baru seperti sepeda hibrid atau sepeda tandem. Dengan menjadi yang pertama kemungkinan besar Insera Sena bisa lebih memimpin.

Sekarang, di berbagai daerah mulai banyak gerakan bersepeda. Seperti gerakan sepeda kampus, Bike to Work, atau Fun Bike. Pangsa pasar Polygon untuk segmen sepeda bermerek buatan dalam negeri pun terus meningkat. Sekarang, Polygon menguasai 70-80 persen pasar segmen itu.

Seiring perjalanan waktu, 90 persen produk Polygon kemudian diekspor ke negara-negara Eropa dan Amerika Serikat. Ada pun sisanya sebesar 10 persen untuk konsumen dalam negeri.

Dengan mengedepankan otentisitas, originalitas dan kualitas, Polygon telah terdistribusi di 500 gerai yang tersebar di berbagai belahan dunia, dan terdistribusi hingga 33 negara.

Tantangan penjualan saat pandemi

Pademi Covid-19 yang mewabah di Indonesia sejak Maret 2020, ternyata menghasilkan dampak yang positif bagi industri sepeda di dalam negeri. Hal ini yang telah dirasakan nyata oleh jenama Polygon, setelah membukukan catatan kenaikan permintaan sepeda sejak pertengahan April 2020 lalu.

Namun demikian, lonjakannya memang baru terlihat setelah pemerintah mulai melakukan pelonggaran PSBB. Hal ini disebabkan oleh rasa bosan yang didapat oleh sebagian masyarakat akibat berkurangnya aktivitas di luar rumah.

Terlebih, penerapan new normal juga menciptakan kebutuhan baru akan moda transportasi alternatif yang aman digunakan. Kenaikan permintaan sepeda tidak hanya terpusat di kota-kota besar besar saja, namun juga terjadi secara cukup merata di kota-kota kecil.

"Dari beberapa laporan dealer ada yang melonjak 200 persen, ada yang 100 persen, ada yang 50 persen, jadi sangat bervariasi,” tutur Brand Director PT Insera Sena William Gozali yang dikutip dari Kontan.

Sepeda Lipat ala Brompton Buatan Bandung, Siap Ekspansi ke Negeri Jiran

Namun demikian, peningkatan penjualan sepeda Polygon hanya terjadi sebulan, di bulan Juli 2020 penjualan drastis menurun.Ternyata perubahan grafik yang drastis akibat ulah spekulan yang memborong sepeda lalu menjual dengan harga tinggi di bulan itu, dan jadi biang kerok tren pasar yang tidak terukur oleh Polygon.

Di saat jumlah pengguna sepeda meningkat pesat, stok pasar tidak dapat mengimbangi tingginya permintaan. Akhirnya sempat terjadi kejar-mengejar antara jumlah pengguna sepeda yang meningkat, dan stok pasar yang terhambat.

Diperkirakan lonjakan permintaan sepeda Polygon dari pasar global sebesar 30 persen, dan dari pasar lokal sebesar 10 persen. Selain itu, hambatan utama yang dihadapi Polygon adalah pasokan komponen dari sejumlah negara, utamanya China.

Sebagai gambaran saja, satu sepeda membutuhkan 100 lebih onderdil, jika satu saja tidak didapatkan, maka sepeda tidak terproduksi.

Ada beberapa hal yang dilakukan oleh Polygon agar tetap bisa bertahan dalam masa pandemi. Salah satunya adalah berupaya menjaga harga produk agar tetap stabil di tengah kondisi permintaan yang naik dan turun.

"Sekarang masih masuk Juni kami belum bisa prediksi untuk tahun ini. Namun, untuk harga sendiri Polygon tidak melakukan penurunan harga dan kami masih tetap menjaga supaya ini bisa terus stabil," kata juru bicara perusahaan kepada Bisnis, Senin (7/6/2021).

Selain itu Polygon, juga fokus dalam pengembangan sepeda gunung atau Mountain Bike yang dianggap paling diminati. Pada tahun lalu, Polygon mencoba kembali bertarung di segmen ini dengan meluncurkan produk baru Siskiu T8.

Menurut MarketWatch, pasar sepeda gunung global bernilai jutaan dolar pada 2018 dan akan mencapai miliaran dolar pada akhir 2025. Assistant Head of Global Marketing Communications Polygon Bikes, Yunike Maris, menjelaskan bahwa permintaan sepeda gunung terus tumbuh konsisten.

Meski banyak jenama lokal maupun global bermain di segmen ini, Polygon mengklaim masih menjadi pemimpin pasar sepeda gunung di dalam negeri. Saat ini, Polygon memiliki fasilitas pabrik di Sidoarjo, Jawa Timur dengan kapasitas 700.000 unit sepeda tahun. Fasilitas ini diklaim sebagai pabrik sepeda terbesar di dunia dengan teknologi canggih di seluruh lini produksi.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini