Induk Perusahaan Shopee Siap Ramaikan Industri Bank Digital di Indonesia

Induk Perusahaan Shopee Siap Ramaikan Industri Bank Digital di Indonesia
info gambar utama

Belum usai dan masih terus mengalami perkembangan, pertumbuhan bank digital di Indonesia sejatinya memang baru memasuki tahap awal. Keberadaan layanan perbankan yang sepenuhnya mengandalkan teknologi digital ini nyatanya tidak hanya dihadirkan oleh perusahaan yang sejatinya memiliki dasar layanan perbankan atau bank konvensional.

Di saat yang bersamaan, perusahaan atau raksasa teknologi yang memiliki potensi dan keunggulan dalam hal teknologi, juga mencoba memanfaatkan peluang yang ada untuk merambah gurita bisnis di industri bank digital.

Jika ditelaah secara seksama, di antara deretan bank digital yang saat ini ada di Indonesia, sebagian besar memang didominasi oleh perusahaan yang memiliki latar belakang perbankan konvensional dan menghadirkan layanan bank digital dalam bentuk anak perusahaan atau unit bisnis baru.

Sebut saja Jenius yang banyak dikenal sebagai pionir bank digital di Indonesia sebagai anak usaha dari BTPN, kemudian yang terbaru ada calon pemain besar yaitu blu sebagai bank digital besutan BCA.

Di sisi lain, kehadiran deretan bank digital yang siap bersaing di Indonesia juga banyak terbentuk lewat aksi korporasi yang dilakukan oleh perusahaan teknologi dengan mengakuisisi bank dalam skala ‘kecil’. Sebagai contoh, ada Gojek yang sebelumnya mengakuisisi Bank Artos dan kemudian menggubah branding-nya menjadi Bank Jago.

Tak berhenti sampai di situ, faktanya ada langkah bisnis serupa yang dilakukan oleh raksasa teknologi asal negara tetangga yaitu Singapura untuk ikut bermain dalam industri bank digital di Indonesia, yaitu Sea Group yang mengakuisisi Bank Kesejahteraan Ekonomi (BKE), dan melakukan re-branding dengan nama SeaBank.

Deretan Bank Digital Indonesia dengan Aset Terbesar, Wujud Perbankan Masa Kini

Mengenal sekilas Sea Group

Sea Group
info gambar

Bukan hal baru, langkah akuisisi yang diambil oleh induk perusahaan eCommerce kenamaan Shopee, yaitu Sea Group sejatinya sudah dilakukan sejak awal tahun 2021, tepatnya di bulan Februari.

Sekilas info, Sea Group atau dikenal juga sebagai Sea Limited merupakan konglomerasi perusahaan berbasis teknologi asal Singapura yang didirikan oleh Forrest Li pada tahun 2009, dan dikenal berhasil menguasai bisnis berbasis teknologi di pasar Asia Tenggara.

Sea Group menjadi raksasa teknologi di Asia yang sudah mencatatkan namanya pada bursa efek di 3 negara sekaligus, bursa efek negara asalnya sendiri yaitu Singapura, bursa efek Frankfurt, dan bursa efek New York.

Menariknya, walau banyak dikenal sebagai induk dari Shopee, nyatanya bisnis utama yang dibangun oleh perusahaan ini dimulai dari Garena yang mengisi industri hiburan berupa pengembangan gim mobile berkonsep battle royale yaitu Free Fire.

Shopee sendiri baru didirikan pada tahun 2015 yang diikuti dengan pendirian anak usaha lain salah satunya di industri keuangan berbasis teknologi (fintech) yaitu Sea Money. Karenanya, tidak heran jika saat ini Sea Group cukup berani mengambil langkah besar untuk ikut terjun ke industri bank digital di Indonesia.

Siap Bersaing, Aplikasi Bank Digital Milik BCA Resmi Meluncur

Mengenal Bank BKE sebelum diakuisisi oleh Sea Group

Bank BKE
info gambar

Menukil Tirto, Bank Artos dan Bank BKE sebelum dipinang oleh dua raksasa teknologi yang ingin menggubah keduanya menjadi bank digital, merupakan Bank BUKU 2, artinya bank dengan kategori modal inti di kisaran Rp1-5 triliun.

Bank BKE sendiri sudah hadir sejak tahun 1992 yang dimiliki oleh Induk Koperasi Pegawai Republik Indonesia (IKPRI) dengan kepemilikan saham 90 persen, dan sisanya dimiliki oleh PT Taspen.

Sempat mengalami beberapa perubahan kepemilikan saham yang pada akhirnya didominasi oleh PT Danadipa Artha Indonesia sejak tahun 2020, belum genap setahun berselang kepemilikan tersebut lalu dilepas oleh Danadipa kepada Sea Group.

Efektif per tanggal 10 Februari 2021, Berdasarkan keputusan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengenai Penetapan Penggunaan Izin Usaha yang dilakukan, akhirnya Bank BKE resmi berganti nama menjadi SeaBank Indonesia disertai dengan penggantian logo dan menjadi kepanjangan tangan bank digital besutan Sea Limited di Indonesia.

Inilah 5 Bank Terbesar di Indonesia Berdasarkan Nilai Aset 2021

Alasan akuisisi bank ‘kecil’ dan kemudahan perizinan bank digital yang diberikan OJK

Sesuai prinsip awal yang ingin menghadirkan bank digital di mana sepenuhnya mengandalkan kemudahan yang dimiliki berkat teknologi, langkah para rakasasa teknologi dengan mengakuisisi bank ‘kecil’ atau bank kategori BUKU 2 dianggap sebagai langkah yang tepat.

Dalam hal ini, Sea Group yang mengakuisisi Bank BKE atau langkah sama Gojek terhadap Bank Artho dinilai dapat melakukan perubahan yang lebih leluasa, serta tidak terlalu rumit layaknya menggubah bank konvensional yang sudah memiliki nama besar untuk menjadi bank digital.

Di saat yang bersamaan, kemudahan transformasi untuk menjadi bank digital juga didukung dengan prosedur lebih mudah yang ditetapkan oleh OJK dalam pembentukan bank digital di Indonesia.

Sebagai contoh dari segi modal, OJK disebutkan mengeluarkan aturan terkait modal minimum pendirian bank digital berdasarkan masing-masing prosedur pembentukan. Untuk pendirian bank digital baru tanpa ada latar belakang kepemilikan bank konvensional, modal minimum yang disyaratkan adalah Rp10 triliun.

Sementara jika pembentukan bank digital dilakukan dengan langkah akusisi dari bukan kelompok bank seperti Bank Jago dengan SEA Bank, dan Bank Artos dengan Gojek, maka modal minimum yang ditetapkan cukup Rp3 triliun. Karenanya, tidak heran jika jalan akuisisi dipilih oleh perusahaan teknologi dibanding membangun bank digital dari nol yang membutuhkan modal lebih besar.

Adapun jika akuisisi dilakukan dalam satu kelompok bank yang sudah ada seperti kehadiran blu oleh BCA, Wokee oleh Bukopin, Digibank oleh DBS, maka modal minimumnya cukup sebesar Rp1 triliun.

Selain itu, beda halnya dengan bank konvensional yang umumnya memiliki banyak kantor cabang, OJK hanya mewajibkan bank digital minimal memiliki satu kantor pusat. Asalkan perusahaan memiliki skema model bisnis yang jelas, kemampuan teknologi informasi, mitigasi serangan digital, sampai tata kelola perlindungan nasabah dan data pribadi yang mumpuni.

BCA dan Mandiri Masuk 10 Besar Bank Paling Kuat di Dunia Tahun 2021

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini