Tantangan Pelestarian Kain Tenun Tanimbar, Hiyashinta Klise: Seniman Tenun Kuncinya

Tantangan Pelestarian Kain Tenun Tanimbar, Hiyashinta Klise: Seniman Tenun Kuncinya
info gambar utama

“…harapannya itu minimal dalam satu rumah masyarakat Tanimbar bisa menghasilkan sendiri kain tenun daerah mereka. Tradisinya tetap turun temurun dan lestari, alat tenun kedepannya akan diwariskan dan menjadi barang pusaka…”

---

Bicara soal budaya, kain nusantara menjadi salah satu bagian tak terpisahkan dari identitas bangsa Indonesia, yang bahkan telah ada jauh sejak kehidupan para leluhur di masa lampau.

Memiliki filosofi, makna, dan nilai kehidupan yang sejatinya harus tetap dijaga, rasanya bukan hal yang berlebihan jika seluruh masyarakat Indonesia tanpa terkecuali, ikut memiliki tanggung jawab yang sama besar dalam menjaga kelestarian kain nusantara. Tentu tidak hanya di masa kini, melainkan juga memastikan kelestariannya untuk generasi yang akan datang di masa depan.

Dengan segala macam upaya pelestarian kain nusantara yang sudah dilakukan, termasuk pencapaian serta pengakuan dunia akan eksistensi kain nusantara Indonesia yang berasal dari daerah tertentu, nyatanya masih ada tantangan besar yang harus dihadapi dalam pelestarian kain nusantara di dalam negeri sendiri.

Adapun berbagai tantangan yang dimaksud terdiri dari berbagai hal, mulai dari pemahaman akan tradisi yang sudah mulai luntur, keterbatasan sumber daya, sampai bagian yang paling penting yakni regenerasi dari seniman tenun itu sendiri.

Beruntung, di samping berbagai tantangan tersebut masih ada sosok yang hingga detik ini, masih memperjuangkan kelestarian kain nusantara sebagai bagian dari tradisi dan budaya yang dimiliki Indonesia.

Adalah Hiyashinta Klise, pendiri dari yayasan sosial Lamerenan yang memiliki visi besar melestarikan warisan budaya, dalam hal ini kain tenun yang berasal dari tanah kelahiran leluhurnya yaitu Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku.

Good News From Indonesia (GNFI), memiliki kesempatan berbincang dengan Shinta yang secara gamblang memaparkan tantangan dan kondisi sebenarnya dari upaya pelestarian kain tenun di Tanimbar.

Berikut ungkapan Shinta kepada GNFI, terkait isu pelestarian kain tenun Tanimbar yang saat ini terjadi.

Peta Sebaran Wilayah dengan UMK Kain dan Tenun Terbanyak di Indonesia

Bagaimana sebenarnya posisi dan peran kain dalam adat dan tradisi masyarakat Tanimbar?

Di tanimbar, kain itu punya peran sangat besar dari setiap bagian kehidupan, salah satunya untuk momen perayaan seperti pernikahan, ataupun saat ada seseorang yang meninggal dunia.

Kalau dalam kaitannya dengan adat dan tradisi, secara garis besar kain di Tanimbar jadi hal yang diutamakan dalam prinsip budaya Duan dan Lolat, terutama sebagai simbol pemberian kain yang dilakukan oleh pihak perempuan kepada pihak laki-laki saat menikah.

Atau di sisi lain, kain juga memegang peran penting dalam tradisi penyelimutan seseorang yang meninggal dunia sebagai pemberian dari anggota keluarganya, dan akan ikut dibawa oleh seseorang yang telah meninggal saat dikuburkan.

Secara mendasar seperti itu, dan hal tersebut menjadi tradisi yang sampai saat ini masih terus berjalan, jadi keberadaan kain tenun Tanimbar sendiri otomatis menjadi hal yang sangat penting dan akan selalu diperlukan.

Lalu bagaimana situasi terkini dari penenun kain yang ada di Tanimbar?

Situasinya sama seperti penenun yang mungkin juga ada di berbagai daerah lainnya di Indonesia, seiring perkembangan zaman keberadaan penenun sudah tidak seperti dulu yang mungkin hampir di setiap rumah minimal ada satu anggota keluarga umumnya anak perempuan yang bisa menenun, kalau sekarang itu langka sekali.

Tidak perlu jauh-jauh kondisi nyatanya di lingkungan saya saja, dari beberapa saudara dan sepupu yang ada, yang bisa menenun itu hanya kakak sepupu dan saya sendiri yang saat ini sebenarnya masih dalam tahap terus belajar.

Isu utama apa yang sebenarnya muncul dari pelestarian tenun Tanimbar?

Permasalahannya dari segi motif yang mengandung filosofinya sendiri yang sekarang sudah mulai luntur. Maksudnya, bahkan para penenun yang sekarang ada di Tanimbar kebanyakan sudah lupa dengan filosofi motif dan pakem-pakem apa saja yang harus diterapkan dalam membuat kain tenun terutama dalam bentuk sarung adat yang memiliki motif dan hasil akhir tertentu.

Selain itu dari segi bahan juga sudah jarang dan langka yang mengunakan benang dari kapas yang dipintal, atau pewarna yang berasal dari sumber pewarna alam.

Meskipun saat ini kita juga mencoba lagi untuk menghidupkan dan membawa kembali esensi dari kain tenun Tanimbar itu hakikatnya seperti apa, mulai dari motif unik dan langka apa saja yang sebenarnya dimiliki dari ragam kain Tanimbar, lalu mulai melestarikan lagi tanaman-tanaman yang dijadikan pewarna alami, dan lain-lain.

Apakah selama ini ada kontribusi dari pihak luar baik dari pemerintah daerah atau swasta dalam upaya pelestarian?

Kontribusi kalau dari pihak pemerintah daerah sejauh ini mereka banyak memberikan dukungan dengan pemesanan kain-kain yang memang diperlukan untuk kebutuhan mereka, seperti busana berupas jas dan selendang untuk acara tertentu.

Tapi ya kembali lagi, pembuatan baju layaknya jas atau selendang itu kan biasanya proses yang dilalui lebih sederhana dari pada sarung-sarung adat yang padat motif, jadi para penenun kita sudah terbiasa melakukan pembuatan tenun yang motifnya sederhana ini, dan lama-kelamaan mulai melupakan motif sarung khusus untuk keperluan adat, di mana dalam proses pembuatannya memang umumnya rumit.

Akhirnya pakem-pakem khusus, motif, dan pola yang ingin kita lestarikan masih belum tercapai untuk beberapa jenis sarung.

Kemudian kalau bantuan dari yang lainnya, terakhir yang saya tau itu ada dari Bank Indonesia (BI) yang membangun sentral tenun di Tanimbar tapi bukan menggunakan alat gedog atau backstrap loom, melainkan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) yang lebih modern.

Pesona Wastra Indonesia, Lebih dari Sekadar Kain Penutup Tubuh

Tantangan apa yang dihadapi dalam melakukan pelestarian kain tenun Tanimbar?

Tantangannya masih berhubungan dengan pembahasan sebelumnya. Menurut saya, tenun yang dihasilkan dengan ATBM dan alat gedog itu berbeda. Dalam arti kata filosofinya, makna, nilai meditasi yang kita dapat saat menenun menggunakan alat gedog itu kan tidak didapat saat menenun dengan menggunakan ATBM.

Memang, jika menggunakan ATBM ini produksi tenun yang dihasilkan jadi lebih banyak dan mendukung tujuan pemenuhan ekonomi, tapi kan yang dilihat dari hasil suatu karya seni itu sebenarnya makna dan proses pembuatan yang dilalui.

Kenyataannya, di pasaran yang semakin memiliki nilai tinggi itu justru yang punya proses lebih rumit dan penuh makna dalam pembuatannya. Jadi kalau misalkan mau tercapai dari segi ekonomi seperti yang selama ini digaungkan, harusnya pelestarian bukan dari segi alat untuk menghasilkan kain tenun lebih banyak yang dimunculkan atau dipenuhi, melainkan dukungan untuk kehadiran dan regenerasi para seniman tenun kuncinya.

Bagaimana regenerasi seniman tenun di Tanimbar sendiri saat ini?

Mungkin terdengar miris untuk dikatakan, tapi kenyataannya memang memprihatinkan, dalam arti kata kalau untuk regenerasi seniman tenun di usia anak muda benar-benar bisa dihitung jari, karena anak-anak muda di Tanimbar sendiri banyak yang sudah merantau.

Mayoritas di Tanimbar penenun di usia 35 tahun atau 40 tahun ke atas, sisanya sesepuh yang memang sudah menenun sejak dulu dan masih ada hingga saat ini.

Apakah keberadaan tenun Tanimbar sudah mampu memberi pengaruh ekonomi yang berarti bagi para penenunnya?

Dalam skala besar mungkin belum, karena saat ini kan penenun tradisionalnya saja masih terpecah hanya mengerjakan tenunan dari rumah masing-masing. Contohnya saya dari Lamerenan melakukan pemesanan dengan para mitra yang ada di Tanimbar, penenun mitra saya ini mengerjakan tenunannya dari rumah masing-masing.

Tapi beberapa juga ada yang membuktikan kalau potensi ekonominya cukup lumayan. Beberapa penenun dari mitra Lamerenan ada yang mampu membiayai anaknya kuliah, dan ada juga yang membangun gereja dari hasil menenun.

Sudah sejauh mana keberhasilan memperkenalkan tenun Tanimbar ke banyak orang dan bagaimana tanggapan yang didapat?

Untuk tanggapan untungnya positif, terutama sejak saya mendirikan Lamerenan dan bergabung di perkumpulan Wastra Indonesia, nyatanya kan memang belum ada yang memiliki pengetahuan mendalam dan orisinil akan tenun Tanimbar.

Akhirnya para senior-senior banyak yang bertanya kepada saya seperti apa sebenarnya tenun Tanimbar itu, akhirnya saya punya kesempatan berbagi informasi secara mendetail.

Mereka juga yang banyak membantu saya hingga bisa berpartisipasi di berbagai pameran, untuk memperkenalkan wujud dan pemahaman seutuhnya dari tenun Tanimbar itu seperti apa.

Apa harapan untuk keberlangsungan tenun Tanimbar di waktu yang akan datang?

Sebenarnya cita-cita saya kain Tanimbar itu tidak harus dikenal atau terkenal, hal tersebut saya anggap lebih sebagai motivasi dan semangat bagi para penenun. Tapi harapan sebenarnya itu minimal dalam satu rumah masyarakat Tanimbar bisa menghasilkan sendiri kain tenun daerah mereka.

Tujuannya tradisi tetap turun temurun dan lestari, alat tenun kedepannya akan diwariskan dan menjadi barang pusaka, jadi ketika membutuhkan kain tenun tidak perlu membeli lagi.

Sehingga ketika mereka ingin melakukan perayaan dari momen pernikahan, atau ada peristiwa kematian yang prosesinya mau dilakukan dengan tradisi dan adat Tanimbar, otomatis kan harus memakai dan membutuhkan kain, jangan sampai untuk saat-saat penting seperti itu orang Tanimbar asli hanya mengandalkan kain yang dibeli, padahal mereka bisa buat sendiri.

Karena bagaimana kita mau memperkenalkan kain Tanimbar ke pihak lain, kalau orang Tanimbarnya sendiri saja sudah tidak ada yang bisa menenun, atau ternyata sudah tidak ada lagi kain Tanimbar yang punya nilai dan filosofi asli dari adat Tanimbar sendiri.

Memahami Pentingnya Pelestarian Kain Nusantara Sebagai Identitas Budaya Indonesia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini