Braga Bandung, Pusat Perbelanjaan Sejak Masa Kolonial Belanda

Braga Bandung, Pusat Perbelanjaan Sejak Masa Kolonial Belanda
info gambar utama

Penulis: Brigitta Raras

Semarakkan semangat dan aksi kolaborasi Festival Negeri Kolaborasi live di seluruh kanal media sosial GNFI. Informasi lebih lanjut kunjungi FNK 2021.

Kota Bandung menjadi salah satu destinasi favorit bagi masyarakat Indonesia, maupun turis mancanegara. Kota yang dijuluki Kota kembang ini menawarkan beragam destinasi menarik, seperti wisata alam, sejarah, fesyen, dan kuliner.

Sebagai salah satu kota metropolitan di Indonesia, Kota Bandung memiliki budaya dan sejarah yang menarik perhatian wisatawaN. mulai dari pertunjukan kesenian, gedung-gedung peninggalan masa lampau hingga salah satu jalan yang sangat ikonik.

Jalan tersebut penuh dengan deretan bangunan peninggalan Belanda dan menjadi pusat keramaian saat masa kolonial hingga saat ini. Siapapun yang pertama kali mengunjungi Kota Bandung akan menjadikan jalan ini sebagai salah satu destinasi mereka. Jalan ini bernama jalan Braga.

Asal-usul nama ‘Braga’

Jalan Braga | Foto: myeatandtravelstory.wordpress.com
info gambar

Asal-usul nama ‘braga’ sebenarnya memiliki banyak versi dan masih simpang siur hingga saat ini. Beberapa masyarakat mengatakan kalau ‘braga’ berasal dari nama Theotila Braga (1834-1924) seorang penulis naskah drama. Awalnya, kawasan ini memang tempat perkumpulan drama bangsa Belanda pada 18 Juni 1882 oleh Peter Sijthot, seorang Asisten Residen.

Ada pula yang mengatakan kalau ‘braga’ berasal dari kata ‘bragi’, nama dewa puisi dalam mitologi bangsa Jerman. Sementara seorang sastrawan Sunda mengatakan kalau ‘baraga’ merujuk pada jalan di tepi sungai. Jalan Braga memang terletak di tepi Sungai Cikapundung.

Menyoal Kemenangan Gugatan Pencemaran Udara di Jakarta dan Hari Bebas Kendaraan Bermotor

Kemudian, menurut “ Kuncen bandung” almarhum Haryoto Kunto, kata Braga berasal dari bahasa Sunda “Ngabaraga” yang memiliki arti bergaya atau mejeng. Braga kala itu memang menjadi tempat yang “untuk dilihat dan melihat”. Ruas jalan yang tak terlalu panjang tersebut menjadi tempat rendezvous atau bertemu sambil jalan-jalan dan berbelanja.

Sejarah jalan Braga Bandung

Jalan Braga | Foto: Tirto.id
info gambar

Awal mulanya jalan braga merupakan jalan kecil dan sepi, pembangunan jalan braga ini bertujuan sebagai penghubung dua jalan utama di Kota Bandung sekitar tahun 1811. Dulunya, jalan braga terkenal dengan jalan pedati yang berlumpur.

Dikenal dengan nama karrenweg atau pedatiweg pada masa penjajahan Belanda, jalan ini menghubungkan gedung kopi milik Andreas de Wilde (Saat ini dikenal dengan Balai Kota Bandung) dengan Jalan Raya Pos (Saat ini Jalan Asia Afrika).

Hingga di abad ke-19, kota Bandung mulai dibangun dan jalan Braga mulai berkembang. Di jalan tersebut dibangun toko-toko dan menjadi pusat perbelanjaan bagi warga Eropa yang tinggal di Bandung.

A. Kasoem: Tokoh Perintis Pabrik dan Optik Kacamata Pertama di Indonesia

Orang-orang Belanda yang membuka toko pakaian di sepanjang jalan Braga, kerap mengikuti fesyen yang sedang berkembang di kota Paris, Prancis. Apa yang sedang menjadi tren di Paris dapat dipastikan terdapat pula di Kota Bandung. Inilah alasan mengapa kota Bandung juga kerap disebut sebagai Paris Van Java.

Salah satu toko yang terkenal saat itu adalah Modemagazinj ‘au bon Marche’ yang menjual gaun wanita bergaya Paris. Selain itu, terdapat juga restoran khas Paris Maison Bogerijen yang menjadi tempat makan dan bertemunya para pejabat atau pengusaha Hindia Belanda.

Kemudian, jalan Braga juga menjadi kawasan yang dipenuhi oleh para preangerplanters atau pengusaha perkebunan teh. Dalam buku Wajah Bandoeng Tempo Doeloe (1984) yang ditulis oleh Haryoto Kunto mengungkapkan bahwa jalan Braga menjadi pusat perbelanjaan ternama bagi orang-orang kaya saat itu.

Hal ini membuat kawasan Braga dijuluki sebagai De meest Eropeesche winkelstraat van Indie, atau komplek pertokoan Eropa paling terkemuka di Hindia Belanda.

Kawasan Braga saat ini

Jalan Braga saat ini | Foto: Explore Bandung
info gambar

Mengunjungi jalan Braga saat ini, Kawan akan menemukan banyak bangunan yang masih berarsitektur zaman Belanda. Salah satunya adalah Gedung Merdeka yang dibangun pada tahun 1895. Gedung yang digunakan sebagai Societeit Concordia, juga digunakan sebagai penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika tahun 1955.

Kisah Macan Tutul Jawa, Dahulu Dihormati Kini Diburu

Selain itu, juga adanya Gedung Majestik yang dibangun pada tahun 1825. Gedung yang menyerupai kaleng biskuit, dulunya adalah bioskop. Saat ini, gedung Majestik masih digunakan untuk tempat pameran, pertunjukkan musik, dan pemutaran film.

Menyusuri sepanjang jalan Braga, Kawan juga akan melihat banyak seniman yang menjual lukisan. Lukisan yang dijual di Braga umumnya bercerita mengenai panorama pedesaan, adu ayam, buah-buahan hingga kereta kuda.

Kawasan yang tak pernah sepi selama 24 jam ini dijadikan tempat para wisatawan untuk mengabadikan momen bersama orang-orang terdekat mereka.*

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Kawan GNFI Official lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Kawan GNFI Official.

KO
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini