Dusun Prumpung, Tempat Para Pematung Ulung di Balik Kemegahan Candi Borobudur

Dusun Prumpung, Tempat Para Pematung Ulung di Balik Kemegahan Candi Borobudur
info gambar utama

Bukan menjadi kebetulan jika komunitas seniman dan pengrajin pahat batu hampir semua berkumpul di Dusun Prumpung yang terletak tidak jauh dari Gunung Merapi dan Candi Borobudur.

Batuan yang mereka gunakan sebagai materi pahatan berasal dari Gunung Merapi. Sementara itu terletak tidak jauh, terdapat keelokan seni pahat batu yang menghiasi Candi Borobudur.

Dusun Prumpung kini dikenal sebagai Prumpung Sidoharjo terletak di Desa Temanggung, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Lebih dari enam dasawarsa terakhir, di dusun kecil ini berkembang kesenian pahat batu andesit yang mungkin merupakan satu-satunya di Indonesia, khususnya dalam penciptaan replika barca, relief, gapura serta minatur candi bernuansa Hindu-Buddhisme.

Secara imajiner, saat ditarik bedasarkan lintasan lurus dari kaki Gunung Merapi ke arah Candi Borobudur, maka Dusun Prumpung akan tepat berada di pada titik tengahnya. Inilah lintasan sakral yang sangat dibanggakan masyarakat Prumpung, sekaligus menjadi salah satu kebetulan unik jika dihubungkan dengan pembangunan Candi Borobudur.

Candi Borobudur merupakan bangunan yang masih berdiri sangat megah hingga hari ini. Kekaguman atas mahakarya peradaban Jawa kuno seolah tidak pernah ada habisnya, mengiringi misteri yang menyelimuti pembangunannya dan bilangan tahun usianya.

Sejarah Hari Ini (26 Mei 824) - Candi Borobudur Selesai Dibangun

Sejarah hanya mencatat bangunan raksasa ini dibangun saat pada masa Kerajaan Syailendra, sekitar abad ke-8 Masehi. Menurut disertasi sejarawan J. G. de Casparis bedasarkan Prasasti Karangtengah dan Prasasti Tri Tepusan, Borobudur merupakan tempat pemujaan yang dibangun oleh raja Mataram Kuno, Samaratungga sekitar tahun 824 Masehi.

Pembangunan ini diperkirakan memakan waktu hingga setengah abad dan baru terselesaikan pada masa pemerintahan Ratu Pramodawardhani, putrinya. Prasasti Karangtengah juga menyebut penganugerahan tanah bebas pajak oleh Kahulunan atau Pramodawardhani, yang dilakukan untuk merawat sebuah bangunan suci yang dipergunakan untuk memuliakan para leluhur, yang disebut Bhumisambhara.

Casparis menyebut istilah Bhumi Sambhara Bhudara dalam bahasa Sanskerta berarti "bukit himpunan kebajikan sepuluh tingkatan Boddhisstawa". Ini merupakan nama asli dari Candi Borobudur.

Pada 1991, Candi ini telah ditetapkan sebagai salah satu situs warisan dunia oleh UNESCO. Tetapi hingga kini masih belum ditemukan catatan pasti untuk memperkuat sejarah keberadaannya.

Sekarang yang tampak hanya keelokan sebuah candi dengan tinggi lebih dari 30 meter, yang memiliki diameter alas sepanjang 120 meter. Bagian-bagian tubuhnya dihiasi lebih dari 500 buah patung, serta sekitar 1.500 panel relief seluas 2.500 meter persegi.

Proses pembangunannya juga memunculkan sebuah misteri. Sulit membayangkan bagaimana bangunan ini tercipta, mengingat teknologi yang ada pada masa itu.

Entah berapa lama dan tenaga yang dibutuhkan untuk memindahkan, memotong dan memberikan karakter pada sekitar 1.600.000 blok batu andesit yang menjadi elemen Candi Borobudur. Bisa dibayangkan keramaian pada masa itu, inilah yang menjadi imajinasi masyarakat Prumpung melihat sejarah keberadaan desa mereka.

Masyarakat Prumpung percaya bahwa bebatuan yang menjadi bahan pembangunan Candi Borobudur berasal dari Gunung Merapi. Desa mereka juga dianggap sebagai tempat singgah para pekerja, seniman dan arsitek pembangunan candi.

"Perilaku simpatik para pendatang disambut oleh keramahtamahan masyarakat pribumi. Suasana kegotongroyongan tercipta sebagai perwujudan dari interaksi sosial yang sangat dinamis. Dari sejak itulah masyarakat pribumi mulai mengenal seni memahat batu," tulis Agus Yuniarso dalam artikel berjudul Pematung Ulung dari Prumpung.

Para pemahat dari Prumpung

Sejarah mencatat sejak pertama kali dibangun pada tahun 824 Masehi, Candi peribadatan umat Buddha Mahayana ini hanya berfungsi hingga awal abad ke-11 Masehi. Konon hal ini terjadi karena munculnya bencana besar yang melanda Jawa Tengah, terjadinya gempa bumi dan beriringan dengan letusan Gunung Merapi.

Prumpung menjadi senyap dari keramaian para pemahat batu yang pernah mewarnai denyut kehidupan dalam beberapa abad silam. Baru sekitar dua dasawarsa menjelang kemerdekaan, mulai terlihat kembali seni pahat batu di daerah ini.

Dahulu sekitar tahun 1930-an, tersebutlah tiga nama: Salim Djajapawiro, serta dua kerabatnya, Wiradkrama dan Mbah Mur. Mereka yang sehari-hari hidup bertani ternyata memiliki keterampilan yang tidak dimiliki warga desanya, yaitu memahat batu.

Tiga orang pemahat batu dari Dusun Prumpung ini dipekerjakan oleh Theodoor Var Erp untuk memugar Candi Borobudur, antara tahun 1907 sampai 1911. Dari keturunan Salim Djajapawiro inilah seni pahat batu mulai nampak dan berkembang di Dusun Prumpung.

Doelkamid Djayaparna atau yang akrab dipanggil Djayaparna adalah salah seorang putra Salim Djajapawiro yang disebut-sebut sebagai perintis kerajinan pahat batu di Dusun Prumpung pada tahun 1953.

"Dahulu di kala senggang, kami sering diajak turun ke kali mengambil batu dan dipahat menjadi barang kebutuhan sehari-hari," Ucap Djayaparna.

Berawal dari idenya, Djayaparna mengajak dua orang saudaranya Ali Rahmad dan Karin mencoba untuk memahat batu berbentuk kepala Buddha dengan mencontoh patung Buddha di Candi Borobobudur. Pada mulanya, mereka ragu-ragu untuk memulainya karena takut dianggap melanggar ajaran agama Buddha atau dianggap berdosa.

Makna dan Kisah di Balik 5 Patung Ikonik Indonesia

Namun, dengan modal nekad, akhirnya mereka berhasil membuat sebuah kepala patung Buddha yang sama persis patung Buddha di Borobudur. Alhasil, arca kepala Buddha buatan mereka berhasil dijual kepada seorang pedagang dari daerah Sumatra. Berawal dari situlah, Djayaparna bersama kedua saudaranya mendirikan Sanggar Pahat Batu Sanjaya pada tahun 1960.

Kabar kepiawaian mereka pun tersebar luas. Pesanan pun datang dari segala penjuru, termasuk dari pembesar negeri ini. Dirinya bahkan sempat diundang oleh Presiden Soeharto untuk berkarya melengkapi koleksi Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang sedang dalam proses pembangunan.

Melihat kesuksesan Djayaparna bersaudara, warga Prumpung pun mulai sedikit demi sedikit kembali melirik pada keterampilan memahat batu. Mereka mencoba menimba ilmu langsung kepada Sang Maestro.

Tidak hanya warga Prumpung, warga dari dusun lain juga ikut mengembangkan kerajinan pahat batu di daerah mereka. Mulai saat itu pertumbuhan sanggar pahat batu di Desa Prumpung makin menjamur setiap tahunnya.

Keramaian para pemahat batu yang belakangan muncul seolah mengingatkan kembali dengan suasana kemrumpyungan yang pernah ada sekian abad lalu, saat Candi Borobudur sedang dibangun. Namun dusun itu kemudian dilengkapi menjadi Prumpung Sidoharjo yang lebih kurang berarti keramaian yang membawa kesejahteraan.

Dari tahun 1960-1970 telah berdiri sekitar 14 sanggar pemahat, kemudian tahun 1970-1980 bertambah menjadi 38 sanggar, dan sekitar 1980-1985 bertambah lagi menjadi 45 sanggar. Karya mereka menjadi makin menarik karena munculnya patung-patung akulturasi yang memadukan gaya Jawa-Bali, lampion-lampion batu khas Jepang, serta kepala raja-raja Mesir Kuno.

Seniman dan pemahat batu dari Desa Prumpung juga sempat melahirkan miniatur sejumlah bangunan bersejarah dari berbagai negara, seperti bangunan Angkor Wat di Kamboja, Pagoda Dagong Shwe di Myanmar serta Istana Potala di Tibet.

Hingga saat ini, bila kita melintasi jalan raya sekitar 5 km di sepanjang lingkar jalan Muntilan-Borobudur-Magelang terdapat ratusan pemahat dan pengusaha kerajinan pahat batu, mulai dari yang muda hingga yang tua.

Seolah bertutur: Inilah salah satu galeri seni terpanjang di dunia, galeri para seniman pengrajin pahat batu di Dusun Prumpung Sidoharjo, warisan asli para pemahat Candi Borobudur.

Ruwatan mustikaning watu aji

Pagelaran Mustikaning Watu Aji Borobudur digelar sejumlah seniman pahat batu dan akademisi di alur Sungai Pabelan Dusun Prumpung Sidoharjo. Prosesi pada Senin (19/10/2020) siang itu untuk memohon berkah dan keselamatan kepada Tuhan dari pandemi Covid-19 khususnya di sektor ekonomi.

Prosesi Mustikaning Watu Aji di Sungai Pabelan ini adalah sebuah upaya menjaga garis trah (keluarga) pemahat tradisional Candi Borobudur.

"Masyarakat Prumpung adalah bagian sejarah pelestarian Candi Borobudur. Kini seni pahat batu menjadi daya tarik bagi wisatawan," ungkap Yoga yang dinukil dari Magelangkab, Senin (11/10/2021).

Yoga dan pemahat batu lain di Desa Prumpung percaya jika keahlian memahat batu adalah sebuah anugerah dari Tuhan. Dari setiap proses kreasi panjang itu tercipta stupa, arca dan relief Candi Borobudur dan aneka rupa patung lainnya.

Dengan pandang mata samar, dua sesepuh pemahat batu Muntilan Eyang Kasrin dan Mbah Joyo Prono mencoba memilah dan memilih batu mustika di antara aliran sungai yang berhulu di Gunung Merapi tersebut.

Kemudian keduanya mengambil sebuah batu sebesar buah kelapa. Melalui doa dan tetabuhan gamelan batu itu ditasbihkan menjadi mustika batu yang akan diwariskan ke generasi pemahat selanjutnya.

Dawai Karmawibhangga, Bentuk Apresiasi Musisi akan Kemegahan Candi Boroudur

Batu terpilih itu diserahkan kepada Budayawan Ruwat Rawat Borobudur Sucoro yang kemudian disimpan oleh pemahat batu Prumpung.

Peneliti budaya dari Yogyakarta Profesor Baikhuni yang menyaksikan ritual ini menilai jika alih generasi pemahat secara alami di tengah sungai merupakan ritus budaya unik. Karena dalam ritual itu, lanjutnya, terdapat semangat baru yang ditunjukan para pemahat batu di tengah pandemi Covid-19. Semangat itu dalam arti mereka kuat secara ekonomi, mental spiritualitas dan budaya.

"Memecahkan masa kini dan masa depan dengan berpijak kepada sejarah leluhur. Mereka belajar mengalami memahami dan pengamalan," paparnya.

Dosen Fakultas Geografi UGM ini menambahkan tugas kita merawat memimpin alam dunia. Memuliakan kemanusiaan dan melestarikan lingkungan. Dengan itu kita jadi makhluk unggul dan mulia di hadapan Tuhan dan umat.

Melalui prosesi budaya ini diharapkan keahlian pahat batu dapat berlanjut. Sedangkan batu itu adalah simbol tetenger atau tanda dari masyarakat terhadap suatu peradaban.

"Ritual watu aji ini merupakan peristiwa agung, ilmu kanthi laku, laku kanthi ilmu (ilmu kehidupan dan kehidupan yang berilmu," paparnya.

Peneliti dan pemerhati Candi Borobudur Marsis Sutopo menilai Dusun Prumpung di luar terkenal sebagai pembuatan arca relief candi. Namun demikian juga terkenal kualitas bagus adalah coweknya.

Lebih hebat lagi adalah kerja keras para pemahat tradisional ini karena tetap bertahan hingga kini, baik itu pada masa pandemi, maupun segala kondisi.

Pada Candi Borobudur, terang Marsis, juga terdapat relief pembuatan gerabah. Abad 8-9 sudah menggunakan teknik roda putar sekarang masih dikerjakan di Karanganyar Borobudur.

Demikian pula Mustikaning Watu itu, papar Marsis, ada nilai keterkaitan antara pemahat dan Candi Borobudur di batu-batu yang tersusun dan terpahat. Bagaimana kemudian Mustikaning Watu Candi Borobudur itu ada di sini.

"Kita bisa memastikan tradisi berlanjut yakni lipoh dan pembuatan arca di sini," ujar pria yang pernah menjadi Kepala Balai Konservasi Borobudur ini.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini