Makna dan Kisah di Balik 5 Patung Ikonik Indonesia

Makna dan Kisah di Balik 5 Patung Ikonik Indonesia
info gambar utama

Penulis: Nur Annisa Kusumawardani

Gabung ke Telegram Kawan GNFI, follow Instagram @kawangnfi dan Twitter @kawangnfi untuk dapat update terbaru seputar Kawan GNFI.

Sejarah tidak hanya tertulis dalam buku maupun terlukis sebagai relief, tetapi juga diabadikan melalui monumen-monumen penuh makna. Di Indonesia, terdapat berbagai patung yang mengandung cerita dan kisah luar biasa di baliknya.

Jika Amerika Serikat memiliki Patung Liberty dan Brazil patung Christ the Redeemer, negara kita juga punya beragam patung-patung ikonik yang terkenal sekaligus mendatangkan para wisatawan. Sejarah dan cerita di baliknya juga menjadikan karya ini menjadi salah satu kekayaan tanah air yang membanggakan.

Tak sedikit di antara patung-patung tersebut kemudian menjadi landmark wilayah dan wajah dari suatu kota di Indonesia. Apa saja patung paling ikonik di Indonesia? Bagaimana kisah yang melatarbelakangi dan makna yang mengiringinya? Simak dalam daftar berikut ini.

Garuda Wisnu Kencana

Patung Garuda Wisnu Kencana | Foto: Blog Airpaz
info gambar

Berada di Bali, patung Garuda Wisnu Kencana merupakan wujud dari Dewa Wisnu yang merupakan Dewa Pemelihara (Sthiti) dalam agama Hindu. Penggambaran Dewa Wisnu diperlihatkan sedang mengendarai seekor burung Garuda. Bentuk ini berasal dari kisah Garuda dan Kerajaannya, yaitu Dewa Wisnu yang melindungi burung Garuda karena telah berbakti dan berkorban untuk menyelamatkan ibunya dari perbudakan.

Nama patung ini berasal dari nama karakter patung itu sendiri, yaitu Garuda dan Wisnu. Kencana memiliki arti emas, merujuk pada tahta tempat patung burung Garuda dan Dewa Wisnu berdiri yang dilapisi emas.

Kisah Pawang Hujan, Para Komunikator Alam dalam Tradisi Masyarakat Nusantara

Diresmikan pada 22 September 2018, salah satu fakta menarik dari Patung Garuda Wisnu Kencana adalah statusnya sebagai patung tertinggi di Indonesia. Tinggi patung ini melebihi Patung Liberty di Amerika, yaitu mencapai 120 meter.

Patung yang merupakan karya pematung I Nyoman Nuarta ini dikenal akan keindahan dan keunikannya, menjadikan Garuda Wisnu Kencana sebagai salah satu landmark kebangaan Bali.

Patung Selamat Datang

Monumen Selamat Datang | Foto: Antara Foto
info gambar

Patung/monumen Selamat Datang memiliki letak di tengah-tengah Bundaran HI, menjadikannya sebagai patung yang sering dijumpai masyarakat. Khususnya, bagi yang berkunjung ke Jakarta.

Patung ini dibangun pada 1962 atas gagasan Ir. Soekarno untuk menyambut tamu-tamu dari berbagai negara datang ke Jakarta, yang pada saat itu menjadi tuan rumah perhelatan Asian Games IV.

Kini, patung itu menjadi salah satu patung paling terkenal di Indonesia. Ada fakta menarik, ternyata pembuatan Monumen Selamat Datang ini berlangsung selama satu tahun dengan peresmian dilakukan langsung oleh Soekarno.

Keindahan Tenun Cual, Kain Khas Bangka Belitung yang Punya Harga Fantastis

Patung Selamat Datang dibuat dengan bahan perunggu menggunakan sistem cor. Hasilnya, ia memiliki berat 5 ton, dengan tinggi kepala sampai kaki 5 meter. Tinggi seluruh monumen ini secara keseluruhan sampai ujung tangan adalah 7 meter, dan tinggi penyangga atau voetstuk dudukan sebesar 10 meter.

Patung Dirgantara (Patung Pancuran)

Patung Pancoran | Merdeka/Imam Buchori
info gambar

Siapa yang tak kenal dengan Patung Pancoran? Salah satu patung yang paling sering muncul dalam sinema dan layar kaca ini memiliki nama lain Patung Dirgantara dengan lokasi di daerah Pancoran, Jakarta.

Patung Dirgantara adalah salah satu patung ikonik yang ada di Indonesia. Dirancang oleh Edhi Sunarso pada 1964-1965, patung yang terbuat dari perunggu ini memiliki berat mencapai 11 ton.

Patung ini dibuat pada masa pemerintahan Soekarno yang memiliki visi soal dunia kedirgantaraan Indonesia. Kepada Edhi Sunarso, Soekarno menyampaikan keinginannya menghormati para pahlawan penerbang Indonesia melalui monumen.

Patung ini menggambarkan kekuatan Indonesia, berupa lambang manusia, yang memiliki semangat kuat untuk menjelajah angkasa. Wajah Tugu Dirgantara mengekspresikan wajah gagah berani penuh semangat membara dari Gatotkaca. Lokasi tempat patung ini juga dipilih karena Markas Besar Angkatan Udara RI sempat berada di tempat tersebut.

Monumen Pancasila Sakti

Ilustrasi | Foto: Babatpost
info gambar

Indonesia memiliki beragam patung-patung dan monumen-monumen yang dibangun sebagai bentuk penghormatan kepada suatu sosok dalam cerita rakyat maupun tokoh penting bangsa. Monumen Pancasila Sakti menjadi salah satunya.

Monumen Pancasila Sakti didirikan di atas areal tanah seluas 14,6 hektar pada pertengahan tahun 1967 dan diresmikan pada 1 Oktober 1973 oleh Soeharto. Sejak itu berdasarkan Surat Keputusan Menpangad No. Kep 977/9/1966 tanggal 17 September 1966, setiap tahun dimulai tradisi Hari Peringatan Kesaktian Pancasila. Monumen ini digunakan untuk mengenang, menghormati, dan menghargai jasa-jasa para pahlawan tanah air.

Melihat Kemegahan 10 Patung Tertinggi di Dunia, Garuda Wisnu Kencana Salah Satunya

Monumen ini memperlihatkan sosok Jenderal Ahmad Yani, Jenderal S. Parman, Jenderal Suprapto, Jenderal Sutoyo, Jenderal MT Haryono, Jenderal Panjaitan, dan Kapten P. Tendean berdiri kokoh dengan sebuah Patung Garuda Pancasila yang berdiri di belakangnya.

Tak hanya menjadi simbol, patung ini juga menyimpan nilai sejarah. Lubang dan rumah penyiksaan menjadi saksi bisu peristiwa bersejarah, yang merenggut nyawa para Jendral tersebut.

Patung Ikan Sura dan Baya

Patung Sura dan Baya | Foto: Dokumentasi Pemkot Surabaya
info gambar

Patung Ikan Sura dan Baya merupakan salah satu monumen paling populer di Indonesia sekaligus menjadi ikon dari Kota Surabaya. Diamati dari bentuknya, patung ini menggambarkan pertarungan antara ikan sura (hiu) dan baya (buaya) yang sangat erat dengan legenda dan kisah rakyat mengenai Kota Surabaya.

Konon, di lautan yang sangat luas, terjadilah perkelahian antara hiu dan buaya. Pertarungan ini membuat sang hiu kelelahan dan membuat kesepakatan pembagian wilayah dengan buaya. Pembagian ini berupa lautan untuk hiu dan daratan untuk buaya.

Tak berhenti di situ, konflik sura dan baya ini dilanjutkan dengan habisnya ikan di laut yang menyebabkan sang hiu mencari mangsa di sungai yang merupakan daerah kekuasaan buaya. Kejadian ini menyebabkan buaya murka kepada hiu sehingga pertarungan dimulai kembali.

Patung Kristus Raja, Hadiah Soeharto yang Gagal Rebut Hati Masyarakat Timtim

Seperti pada adegan di patung Surabaya, terlihat hiu menggigit ekor buaya dan buaya membalas dengan menggigit ekor hiu. Singkat cerita, pertarungan ini diakhiri dengan kembalinya hiu ke lautan dan buaya tetap di daratan.

Patung ikonik ini terletak di depan Kebun Binatang Surabaya (KBS), yaitu Jalan Diponegoro, Wonokromo, Surabaya. Patung Sura dan Baya dari Kota Jawa Timur ini merupakan lambang dari Kota Surabaya. Kemudian, ikan sura dan baya merupakan simbol dari sifat keberanian pemuda Surabaya yang tidak gentar menghadapi bahaya.

Patung ini juga difungsikan oleh para wisatawan domestik dan mancanegara untuk dijadikan tempat berfoto. Bahkan, ada pendapat yang mengatakan bahwa kurang rasanya kalau belum melakukan foto bersama Patung Sura dan Buaya ketika berada di Surabaya.*

Referensi: Traveloka | Airpaz Blog | Kompas | Pusat Sejarah TNI

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Kawan GNFI Official lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Kawan GNFI Official.

Terima kasih telah membaca sampai di sini