Cerita Anak Indekos yang Berkumpul pada 1928 Ikrarkan Sumpah Pemuda

Cerita Anak Indekos yang Berkumpul pada 1928 Ikrarkan Sumpah Pemuda
info gambar utama

Memasuki era tahun 1900 an, gelombang intelektual pribumi merekah di Hindia Belanda. Mereka membentuk beragam organisasi kepemudaan seperti Jong Celebes (pemuda Sulawesi), Jong Ambon (pemuda Ambon), Jong Java (pemuda Jawa), Jong Sumatranen Bond (pemuda Sumatra), dan Pemuda Kaum Betawi.

Hampir semua anggota dari organisasi kepemudaan ini bersekolah di kota-kota besar Jawa. Di Batavia saat itu, banyak sekolah yang menyediakan asrama untuk para pelajar ini.

Namun makin meningkatnya jumlah pelajar, menyebabkan asrama tidak lagi bisa menampung. Sehingga para pelajar ini, sebagian harus mencari rumah kos untuk tinggal.

Mengutip Kompas, Kamis (28/10/2021), salah satu tempat indekos yang menjadi tujuan dari para pelajar ini adalah sebuah gedung di Jalan Kramat Raya Nomor 106, Jakarta yang dikenal dengan nama Commensalen Huis.

Gedung ini sejak 1908 telah banyak dihuni oleh pelajar dan mahasiswa yang akan menempuh pendidikan di sekolah kedokteran School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (Stovia) dan sekolah hukum Rechtsschool (RS).

Sementara tulisan Detik yang bersumber dari buku Sejarah Pergerakan Nasional yang ditulis Fajriudin Muttaqin dkk, disebutkan bahwa pemilik tempat indekos ini adalah orang Tionghoa bernama Sie Kok Liong. Namun ada pula yang menulisnya Sie Kong Liong atau bahkan Sie Hong Liong.

Kisah di Balik Layar Kongres Pemuda Indonesia 2020

"Pada masa kata "merdeka" haram diucapkan, Sie Kong Liong justru menyediakan tempat bagi para pemuda untuk bersatu mengumpulkan semangat, menyusun pergerakan demi bisa memekikkan kata-kata merdeka," tulis Agustina Rizky Lupitasari dalam artikel bertajuk Cerita Museum Sumpah Pemuda, Gedung Kramat 106 Milik Sie Kong Liong yang dimuat di Kompas.

Menurut catatannya, beberapa nama besar pernah tinggal di rumah indekos ini, seperti Mohammad Yamin, Amir Sjarifoeddin, AK Gani, Roesmali. Sejak 1925, anggota Jong Java mulai banyak yang menempati rumah indekos ini.

Para penghuni indekos ini hanya perlu membayar tarif pemondokan dengan biaya 12,5 sampai 20 gulden Belanda, ini sudah termasuk makan tiga kali dalam sehari dan cuci pakaian.

Eko Septian Saputra menjelaskan banyaknya aktivis yang tinggal di tempat ini membuat rumah indekos ini selalu ramai dengan aktivitas diskusi. Mereka bahkan membuat perkumpulan dengan nama Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI).

Tentunya dengan banyaknya kaum intelektual yang tinggal di rumah indekos ini sangat mengancam keselamatan Sie Kong Liong. Apalagi para intelijen pemerintah kolonial Belanda yang terus mengawasi kegiatan para aktivis.

"Bayangkan pemuda-pemuda di sini diskusi seharian soal kebangsaan. Seandainya itu Sie Kong Liong sudah merasa membahayakan dirinya, mungkin dia inisatif, diusir saja para pemuda itu, tetapi ternyata tidak kan, nyatanya Sie Kong Liong memberi ruang buat para pemuda untuk tinggal, berdiskusi, dan semuanya leluasa begitu saja," jelas Eko, kurator Museum Sumpah Pemuda dalam BBC.

Soekarno juga menjadi salah satu tokoh pemuda yang pernah hadir dalam pertemuan di gedung ini. Dirinya bersama para tokoh dari Algemeene Studie Club Bandung sering membicarakan format perjuangan dengan para mahasiswa di sana.

Karena gedung ini sering diselenggarakan diskusi, sejak saat itu tempat yang semula memiliki nama Langen Siswo menjadi Indonesische Clubhuis (IC) atau Clubgebouw atau gedung pertemuan.

"Dahulu, semasa dihuni oleh para pemuda, terdapat meja biliard di Gedung Kramat 106. Sehingga, selain untuk berdebat politik, belajar, dan berlatih kesenian, Gedung Kramat 106 juga kerap digunakan untuk kongko-kongko pemuda atau mahasiswa di Jakarta kala itu," jelas Ronggo Astungkoro dalam artikelnya berjudul Gedung Kramat 106 Saksi Sejarah Gelora Sumpah Pemuda, seperti dikutip dari Republika.

Para anak indekos yang persatukan Indonesia

Setelah melakukan beragam diskusi, akhirnya pada Agustus 1928 ditetapkan bahwa akan diselenggarakan Kongres Pemuda II. Sebelumnya Kongres Pemuda I diselenggarakan dua tahun sebelumnya, yakni April 1926.

Bedasarkan catatan Historia, saat itu anggota IC memang berjejaring dengan basis pemuda pergerakan, seperti gedung milik Husni Thamrin di Gang Kenari dan Gedung Perguruan Rakyat di Salemba.

Karena itulah mereka memiliki peran penting untuk menggerakan para pemuda untuk hadir dalam Kongres Pemuda II. Apalagi persiapan matang sudah sering dibicarakan di Gedung Kramat 106.

Ketua Kongres Pemuda II adalah Soegondo Djojopoespito yang saat itu masih berusia 23 tahun. Sedangkan Mohammad Yamin yang menjadi sekretaris masih berusia 25 tahun.

Anak-anak indekos ini lalu menyelenggarakan Kongres Pemuda II pada 27-28 Oktober 1928. Pada hari pertama, rapat baru dimulai malam hari di Gedung Khatolieke Jongenlingen Bond yang terletak di Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng). Gedung itu kini menjadi kompleks sekolah Santa Ursula.

Lalu pada pagi harinya, anak-anak indekos ini melanjutkan kongres di Oost Java Bioscoop. Dahulunya gedung ini berada di Jalan Medan Merdeka Utara. Namun saat rapat di gedung bioskop ini banyak peserta yang harus berdiri karena sempitnya tempat penyelenggaraan. Karena itu, pada malam hari rapat kemudian berpindah ke Gedung Kramat Raya 106.

"Luas dan kerap dijadikan tempat nongkrong menjadi salah satu alasan mengapa gedung milik Sie Kong Liong itu dijadikan tempat rapat Kongres Pemuda ke-2," beber Ronggo.

Wanita Ini Jadi Orang Pertama yang Nyanyikan Lagu Indonesia Raya

Di gedung ini pulalah menjadi tempat pertama kali Wage Rudolf (W.R) Supratman memainkan lagu Indonesia Raya dengan biolanya. Juga menjadi saksi para pemuda mengikrarkan Sumpah Pemuda yang menjadi momen bersejarah bangsa.

Para peserta yang hadir tidak hanya dari pada pemuda. Tetapi juga utusan dari organisasi orang dewasa, anggota Volksraad, wartawan, sampai ke perorangan pun datang. Jumlahnya diperkirakan 750 orang. Demikian gambaran Intisari.

Para peserta kongres pun menyampaikan pidato yang mengandung unsur persatuan. Soegondo mengurai sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

"Perangilah pengaruh bercerai berai dan majulah terus ke arah Indonesia bersatu yang kita cintai," urai Soegondo.

Sementara itu Yamin menyampaikan untaian kata-kata yang cukup cermat. "Persatuan dan Kebangsaan Indonesia."

Selain itu sebagai lambang persatuan dan melepaskan unsur kedaerahan. Para pemuda kemudian melepas penutup kepala, entah itu topi, ikat kepala, atau blangkon. Mereka memutuskan memakai peci hitam sebagai ciri bangsa Indonesia.

Sisa yang terkenang di Gedung Sumpah Pemuda

Setelah peristiwa Sumpah Pemuda banyak para penghuninya yang kemudian meninggalkan gedung Indonesische Clubhuis karena sudah lulus belajar. Karena banyak pelajar tidak lagi menyewa tempat itu, gedung ini kemudian disewakan kepada Pang Tjem Jam selama tahun 1934-1937.

Pada 1937, gedung itu kemudian disewakan kepada Loh Jing Tjoe untuk kemudian dijadikan sebagai toko bunga hingga 1948. Sejak 1948, Loh Jing Tjoe mengubah gedung tersebut menjadi sebuah hotel bernama Hersia hingga 1951.

"Dari situ, kemudian Gedung Kramat 106 disewa Inspektorat Bea dan Cukai untuk perkantoran dan penampungan karyawannya," beber Ronggo.

Wage Mengisahkan Perjuangan Pemuda dan Kemerdekaan Lewat Karya Seni

Kemudian pada 1973, gedung ini lalu dijadikan Museum Sumpah Pemuda oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin. Museum ini sempat mengalami kebakaran di belakang gedung, dan juga dikabarkan tidak terawat.

Selain itu walau berstatus sebagai museum, gedung ini baru berubah status menjadi cagar budaya pada tahun 2013. Melalui SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No 254/M/2013.

Dalam kabar yang dimuat CNBC, rencananya dalam waktu dekat Museum Sumpah Pemuda akan mengalami revitalisasi. Nantinya ada 3 ruangan di Museum yang akan diubah menjadi lebih rapi dan tertata dengan sentuhan digital modern.

"Kekinian tetapi tetap dengan sejarahnya," ujar Titik Umi Kurniawati, Kepala Museum Sumpah Pemuda.

Diperkirakan proses revitalisasi ini akan memakan waktu selama kurang lebih 2 bulan. Targetnya di awal tahun nanti Museum Sumpah pemuda sudah berubah wajah dengan semangat dan energi yang baru.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini