Keunikan Rumah Adat Tambi, Berbentuk Minimalis namun Tahan dengan Gempa

Keunikan Rumah Adat Tambi, Berbentuk Minimalis namun Tahan dengan Gempa
info gambar utama

Bagi masyarakat Sulawesi Tengah (Sulteng) terdapat tiga rumah adat yang menjadi kebanggaan mereka. Salah satunya adalah Rumah Adat Tambi yang merupakan bangunan tradisional Suku Lore dan Suku Kaili.

Mengutip tulisan Kompas, Rabu (10/11/2021), Rumah Adat Tambi ini tergolong rumah panggung yang pada bagian atapnya berguna sebagai dinding. Sedangkan alasnya terbuat dari balok yang tersusun dan batu alam digunakan sebagai fondasi.

Biasanya Rumah Adat Tambi menggunakan ijuk untuk menutupi atapnya. Dipilihnya ijuk karena bagi masyarakat Sulteng, bahan ini lebih mudah ditemukan dan sekaligus mampu mendinginkan rumah.

Tidak terdapat kamar dalam Rumah Adat Tambi, pasalnya para penghuninya lebih senang tidur di ruang tamu dengan menggunakan tempat tidur yang berasal dari kulit kayu.

Sementara itu juga terdapat ruang utama yang dikenal dengan nama lobona. Banyak kegiatan yang dilakukan oleh penghuninya di ruang utama tersebut.

Selain ruang utama, ada juga dapur yang biasanya digunakan sebagai tempat memasak dan juga menjadi penghangat ruangan ketika musim dingin. Tetapi dapur dan juga ruang utama tetap tersambung karena Rumah Adat Tambi memang tidak memiliki sekat.

Roomah menulis, karena berbentuk rumah panggung, Rumah Adat Tambi ini juga memiliki tangga. Namun jumlah tangga yang digunakan harus disesuaikan dengan tradisi adat setempat.

Biasanya perbedaan tangga pada setiap rumah adat tergantung status dari pemiliknya. Apakah memang rumah ini digunakan untuk kepala adat atau masyarakat biasa.

Pesona Molenteng, Rumah Pohon Dengan Pemandangan Tebing dan Pantai

Bagi penduduk biasa, pada umumnya tangga yang digunakan berjumlah genap, sedangkan tangga untuk kepala desa berjumlah ganjil. Hal ini membuat setiap orang bisa membedakan kedudukan dari seseorang melalui jumlah anak tangga.

Rumah ini sendiri memang berbentuk minimalis, dengan tinggi hanya 1 meter dan menggunakan tiang penyangga untuk menopang rumah. Tiang yang digunakan berjumlah 9 dan saling menempel dengan menggunakan pasak dari balok kayu.

Bahan material untuk tiang berasal dari kayu bonati yang memang tidak mudak lapuk. Bahan material yaitu papan kayu juga sudah tersusun secara rapi dan rapat dengan ukuran 5X7 meter.

Selain itu yang unik adalah rumah yang dibangun harus menghadap ke arah selatan atau ke arah utara. Di mana untuk pembangunan rumah tidak boleh menghalangi arah sinar matahari terbit dan terbenam.

Fungsi dan simbol rumah Tambi

Rumah Adat Tambi (Shutterstock)

Bedasarkan catatan laman Kebudayaan Kemdikbud, Rumah Tambi digunakan sebagai tempat tinggal. Tetapi karena ukurannya tidak terlalu besar mereka pun memiliki dua bangunan tambahan yang berada di luar rumah.

Dua bangunan pendampingan itu terkenal dengan nama Bohu dan Pointua yang memiliki fungsi masing-masing. Misalnya Bohu merupakan bangunan yang mempunyai dua lantai dan memiliki ruangan seperti pada rumah utama.

Pada lantai satu digunakan untuk menerima tamu, sedangkan pada lantai dua digunakan untuk tempat menyimpan padi. Sedangkan Pointua digunakan sebagai tempat menumbuk padi.

Dalam buku Arsitektur Benteng dan Rumah Adat di Sulawesi (2018) karya Kasdar, diketahui bahwa belakangan Rumah Adat Tambi mulai dibuatkan ornamen pada bagian pintu sebagai hiasan.

Motifnya banyak terinspirasi dari lingkungan, misalnya binatang atau tumbuh-tumbuhan. Terlihat pada bagian luar atap yang terdapat tanduk kerbau atau ada juga ukiran berbentuk kepala ayam atau babi.

Berkenalan dengan 5 Rumah Adat Papua Sebagai Warisan Budaya Tanah Air

"Dahulu dipasangnya tanduk kerbau pada atas atap tersebut melambangkan bahwa pemilik rumah pernah berburu," jelas Kasdar dalam penelitiannya.

Tetapi Kasdar menemukan fakta baru bahwa simbol-simbol ini memiliki makna tersendiri, misalnya kerbau melambangkan kekayaan, hati merupakan simbol kesejahteraan dan kesuburan.

Hal yang menarik juga adalah pendirian rumah adat ini juga tidak lepas dari beberapa kepercayaan, misalnya corak berbentuk hewan ini konon untuk menangkal gangguan roh jahat.

Rumah Adat Tambi juga menampilkan sisi spiritual masyarakat, misalnya rumah Tambi dominan berbentuk segitiga, di mana bentuk ini melambangkan sisi horisontal dan vertikal.

Pada sisi horizontal, memperlihatkan hubungan antara manusia, sedangkan pada sisi vertikal melambangkan hubungan manusia dengan sang pencipta.

Rumah Adat Tambi juga sekarang menjadi simbol dari Provinsi Sulteng sehingga beberapa kantor pemerintah mengadopsi gaya arsitekturnya. Walau untuk penggunaan ruangannya lebih dari satu.

Rumah adat tahan gempa

Disebutkan Selasar, Rumah Adat Tambi tidak terlepas dari budaya Suku Lore yang dahulunya hidup nomad. Biasanya suku ini hidup dengan cara bertani dan berladang dengan sistem tebang dan bakar.

Tetapi setelah meninggalkan budaya nomad, mereka memulai hidup sebagai pandai besi lalu mengembangkan budidaya perikanan.

Sedangkan Suku Kaili berasal dari daerah Kabupaten Sigi, Kabupaten Donggala, Kota Palu yang namanya diambil dari pohon dan buah Kaili.

Ternyata rumah adat ini sudah ada sebelum datangnya zaman Hindu. Arsitektur rumah ini memang mengadaptasi dengan lingkungan setempat.

Juga melihat kondisi geografis sekitar rumah yang berupa dataran tinggi yang dingin serta sejuk. Konstruksi rumah pun kemudian dapat memodifikasi iklim luar ruangan jadi lebih nyaman saat berada di dalam rumah.

Makna Dari Rumah Tradisional Betawi Penuh Arti Filosofis

Hal inilah yang membuat para pemilik atau penghuni rumah menjadi lebih hangat saat kondisi sedang dingin ataupun sebaliknya bisa bertahan saat kondisi sedang panas.

Rifai Mardin, dosen teknik arsitektur dari Universitas Tadulako menyebutkan rumah adat berasitektur panggung ini juga tahan gempa. Selain itu juga tahan dengan banjir dan tsunami.

Tentunya dengan catatan tingginya tidak setinggi badan bangunan atau di atas dua meter dari lantai dasar rumah. Rumah juga akan mampu bertahan bila gelombang air tidak membawa debris yang besar.

Rifai pun yakin masyarakat zaman dahulu telah memiliki pengetahuan yang cukup mengenai kondisi tempat tinggalnya. Apalagi masyarakat dahulu sudah biasa hidup dengan gempa, hal inilah yang terlihat dari budaya lokal setempat, khususnya dalam rancang bangunan.

Hal ini karena material yang digunakan memengaruhi kekuatan struktur suatu bangunan terhadap guncangan. Misalnya dalam bangunan tradisional biasa menggunakan kayu yang mempunyai daya lentur lebih baik daripada beton. Material yang digunakan pun merupakan kayu pilihan yaitu dengan kualitas terbaik

"Intinya semua bangunan tradisional atau bangunan vernakular di zamannya tentu sudah memperhitungkan permasalahan sekitar," ujar Rifai, mengutip Kompas.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini