Catatan Beragam Perilaku Aneh Hewan di Sekitar Letusan Gunung Krakatau 1883

Catatan Beragam Perilaku Aneh Hewan di Sekitar Letusan Gunung Krakatau 1883
info gambar utama

Letusan Gunung Krakatau pada 26 Agustus 1883, sukar untuk terlupakan bagi masyarakat Banten, Lampung dan juga seluruh dunia. Gemuruh suaranya menggelegar dan meliputi luas muka bumi.

Jendela kaca rumah di Jakarta yang berjarak 150 km dari pusat ledakan pecah berkeping-keping. Satu km kubik bahan padat yang tenggelam membangkitkan gelombang pasang sampai 20 meter.

Akibat ledakan ini sebuah kapal uap yang sedang bersandar di Telukbetung tercampakkan oleh gelombang sampai 3300 meter ke dalam hutan. Tercatat akibat letusan dahsyat ini 36 ribu jiwa manusia melayang ditelan gelombang pasang.

Ledakan Krakatau ini memang memunculkan gelombang tsunami yang menurut majalah Discover terbitan Agustus 1983 merupakan gelombang terbesar dalam catatan sejarah dunia. Angkasa bumi selama 3 tahun pun dikotori debu dari letusan gunung ini.

Begitu mengerikannya letusan Krakatau tidak hanya dirasakan oleh manusia, para hewan ternyata memiliki insting untuk terlebih dahulu merasakan akan adanya bencana dahsyat.

Paparan Budi Gustawan, Dosen dari Department Sejarah dan Filologi FIB Universitas Padjadjaran (Unpad) dalam jurnal sejarah berjudul Binatang-Binatang di Sekitar Letusan Krakatau 1883 misalnya menceritakan kisah nyonya Johanna Beyerinck yang merasakan keanehan atas perilaku hewan pasca gempa yang terjadi pada bulan Mei 1883, atau dua bulan sebelum letusan Krakatau.

Letusan Gunung Krakatau, Kiamat Kecil dari Ujung Selat Sunda

Beyerinck melihat kuda-kudanya mengamuk, sedangkan ayam-ayamnya tidak mau bertelur, tidak terlihat lagi kera-kera serta burung-burung yang biasanya bertengger di pohon. Walau saat itu suaminya, Rogier Verbeek yang merupakan seorang geolog menyatakan itu hanyalah takhayul.

Simon Winchester dalam buku Krakatau; Ketika Dunia Meledak 27 Agustus 1883 menyebut berkembang ilmu pengetahuan modern membuat manusia Barat saat itu abai dengan pertanda alam. Padahal menurutnya pertanda alam seharusnya bisa menjadi prosedur mitigasi bencana yang baku.

Sebagai spesies, binatang juga menjadi pihak yang dirugikan dalam bencana. Dalam risalah berjudul In het Rijk van Vulcaan, R.A. van Sandick menyaksikan banyak mayat kuda dan kerbau yang terkapar di antara reruntuhan pohon.

Catatan Peter Boomgaard bedasarkan buku Frontiers of Fear Tigers and People in The Malay World 1600-1950, menulis tentang harimau-harimau yang mulai mengancam penduduk di sekitar Banten pada periode 1887 hingga 1889. Fenomena ini disebut sebagai wabah harimau (tijger plaag) yang menyita perhatian pemerintah Kolonial.

Melihat uraian di atas, tentunya menjadi penting melihat posisi hewan sebagai konsekuensi logis dari hubungan ekologis. Salah satunya peran mereka untuk merasakan datangnya sebuah bencana.

Insting penanda bencana dari para hewan

Gunung Anak Krakatau (Shutterstock: The Wild Eyed)
info gambar

Peristiwa yang agak ganjil terjadi kepada rombongan sirkus bernama Wilson’s Great World Circus yang menggelar pertunjukan di Batavia 30 Juli 1883. Pertunjukan mereka saat itu memang bersamaan dengan geliat dan gejolak Krakatau yang mulai menumpahkan hujan abu vulkanik.

Saat itu seekor gajah kecil berprilaku aneh di tengah-tengah pertunjukan, beberapa hewan juga berusaha menyakiti si gajah. Karena kondisi ini, sang pawang, Miss Nanette Lochart memindahkannya ke dalam kamar di Hotel des Indes, tetapi setelahnya beberapa tindakan aneh dilakukan gajah tersebut.

“...barangkali saja peka pada apa yang tengah terjadi di dalam bumi jauh di bawah kakinya, sehingga dia luar biasa kebingungan. Dia mondar-mandir dan menyeruduk dan menginjak-injak semua perabot di kamar Miss Lochart, menghancurkannya sampai berkeping-keping. Dia melolong-lolong. Dia mengaum. Dia menghentak-hentakkan kaki kakinya yang belum besar itu dengan begitu agresif sehingga tamu-tamu lain mengira hotel itu akan roboh," tulis Winchester.

Selain pertunjukan sirkus, Winchester dalam bukunya juga mencatat beragam kejadian aneh yang disaksikan oleh masyarakat saat melihat perilaku hewan, seperti ikan-ikan lele berlompatan keluar dari air, lebah-lebah secara misterius mengosongkan sarangnya, ayam-ayam betina berhenti bertelur dan lain-lain.

Koran Belanda, Provinciale Overijsselsche Zwolsche Courant pada 16 Februari 1891 memuat ulasan khusus mengenai perilaku binatang sebelum dan pasca letusan Krakatau. Seperti banyak binatang yang menjadi korban dan juga melarikan diri untuk sementara waktu.

Mengintip Kembali Gunung Krakatau

Hal ini bedasarkan kesaksian dari van Sandick yang melihat kawanan besar burung laut yang melintasi laut dari Batavia pada pagi hari 24 Agustus 1883. Kawanan ini diduga melakukan migrasi untuk menghindari bencana.

Pangeran Aria Djajadingingrat, dalam buku kenangannya berjudul Herinneringen van Pangeran Aria Achmad Djajadinigrat juga mengutarakan kisah pamannya yang merupakan seorang penyayang binatang.

Setelah melihat cahaya api besar di atas Krakatau, pamannya langsung melepaskan para hewan, baik kuda maupun burung kemudian melarikan diri setelah kandangnya terbuka.

Tetapi ada satu kuda yang enggan melarikan diri, sehingga membuat pamannya selamat dari letusan Krakatau. Kuda yang kemudian diberikan nama kehormaatan Toemenggoeng, menyelamatkan pamannya, istri, beserta anaknya ke perbukitan.

Memang tafsir perilaku binatang sebagai indikator bencana masih menyisakan tanda tanya besar. Namun beragam kesaksian pada letusan Krakatau pada 1883 setidaknya memberikan penanda bahwa insting binatang perlu diperhitungkan sebagai sinyal sebelum terjadinya bencana alam.

Binatang yang mati, lalu kembali bermunculan

Krakatau Volcano (Shutterstock: Surawan Gittao
info gambar

van Sandick menyaksikan beragam mayat hewan di sepanjang pantai Banten, seperti kuda, kerbau. Mayat hewan ini bertimbunan dengan mayat manusia, potong-potongan bangunan dan ratusan pohon tumbang.

Memang kejadian letusan Krakatau ini diperparah dengan adanya gelombang tsunami. Kondisi tersebut menyebabkan kerusakan total ekosistem di wilayah yang terdampak gelombang dan abu vulkanik Krakatau.

Ternyata banyaknya mayat yang bergelimpangan juga memberi "berkah" bagi para hewan yang masih hidup, van Sandick mencatat saat itu muncul buaya --biasa disebut kaailui-- yang menyeret mayat-mayat tersebut.

Selain buaya, ditemukan juga beragam ikan hiu dan ikan laut yang mengerubungi dan memakan mayat tersebut. Beragam kesaksian menyatakan ada beberapa warga yang menangkap ikan kakap, lalu ketika dibedah perutnya, ditemukan dua jari manusia yang lengkap dengan kuku.

Sebenarnya pernyataan adanya binatang pasca letusan masih diperdebatkan oleh para ahli botani. Karena sebagian percaya bahwa tidak ada makhluk hidup yang tersisa akibat letusan hebat tersebut.

Pasalnya mengacu penelitian Verbeek yang menyatakan permukaan pulau diselimuti dengan lapisan debu panas serta batu apung dengan ketebalan 30-60 meter. Menyimpulkan bahwa seluruh binatang di Pulau Krakatau dan pulau-pulau kecil di sekitarnya mati total.

Suara Terkeras yang Tercatat dalam Sejarah, Datang dari Selat Sunda

Namun ada juga yang menyakini teori binatang yang muncul pasca erupsi, bukan karena kemampuan bertahan diri, tetapi karena migrasi. Pasalnya banyaknya binatang besar bersayap hingga 80 persen di Pulau Krakatau, memunculkan argumen kuat bahwa mereka bermigrasi menggunakan sayap.

Selain itu ada juga penemuan 58 spesies yang tidak dapat terbang, tetapi mudah dibawa oleh arus udara seperti ular berusia muda, lalu laba-laba berusia muda, dan tungau kecil yang juga mudah dibawa oleh angin.

Peneliti seperti Nico J. van Strien dan Kees Rookmaaker juga mencoba melihat eksistensi binatang pasca letusan yaitu badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) di ujung barat Pulau Jawa. Mereka mempertanyakan dampak dari letusan dan gelombang tsunami terhadap populasi badak.

Mereka memperkirakan badak tidak dapat bertahan dari terjangan gelombang yang melanda Ujung Kulon. Tetapi hal ini tidak menyebabkan kepunahan, karena masih ditemukannya populasi badak pada 1892, 1906, dan 1908 Masehi.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini