Andalkan Ekor untuk Memburu Mangsa, Inilah Spesies Hiu Tikus yang Ada di Indonesia

Andalkan Ekor untuk Memburu Mangsa, Inilah Spesies Hiu Tikus yang Ada di Indonesia
info gambar utama

Selama ini hiu selalu identik dengan penggambaran hewan air ganas yang memang dikenal biasa berburu dengan memanfaatkan rahang dan rangkaian giginya yang tajam untuk mencabik mangsa, bahkan berbahaya bagi manusia.

Meski tidak sepenuhnya salah, namun ternyata di lain sisi juga terdapat sejumlah spesies hiu yang memiliki morfologi atau karakteristik tubuh berbeda, dan memiliki cara unik tersendiri dalam memburu mangsa ditambah dengan keberadaanya yang tidak membahayakan manusia.

Beberapa jenis hiu yang tidak secara langsung dapat menyerang manusia sebut saja hiu berjalan, dan spesies tertentu dari hiu martil. Bukan tanpa alasan, jenis hiu tersebut tidak berbahaya secara langsung karena pada dasarnya mereka tidak mengandalkan rahang dan susunan gigi tajam yang selama ini lekat dengan gambaran hiu itu sendiri.

Selain dua jenis di atas, jenis hiu lain yang diketahui memiliki keunikan tersendiri dalam memburu mangsanya adalah hiu tikus.

Mengenal 4 Jenis Hiu Martil yang Ada di Perairan Indonesia

Karakteristik hiu tikus

hiu tikus
info gambar

Hiu tikus atau secara global lebih dikenal dengan nama thresher sharks merupakan jenis hiu yang berasal dari genus Alopias spp. Satu hal yang paling mencolok dan membuat hiu jenis ini berbeda dengan hiu lain adalah bagian ekor yang panjang nyaris mencapai setengah panjang tubuhnya.

Pada satu jenis tertentu, panjang ekor yang dimaksud bahkan hampir dapat menyamai ukuran tubuhnya sendiri. Ekor tersebut yang digunakan oleh mereka untuk memburu mangsa dengan cara menarik perhatian kemudian memecut mangsa tersebut sebelum dimakan.

Menurut penjelasan dari laman Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), hiu tikus bagi beberapa orang juga kerap dijuluki sebagai hiu monyet. Mangsa yang kerap menjadi korban perburuan dan cambukan dari hiu tikus biasanya adalah ikan-ikan kecil dan cumi-cumi.

Bicara soal ekornya yang diandalkan, kecepatan cambukan ekor hiu tikus disebut dapat mencapai 60 miles/hour atau sekitar 96,5 kilometer per jam. Kekuatan tersebut diketahui mampu membelah molekul air dan oksigen sehingga dapat mencambuk mangsa hingga pingsan atau mati.

Soal perkembang biakan, hiu tikus umumnya bereproduksi sebanyak dua kali dalam waktu satu tahun tanpa waktu atau musim tertentu, yang masing-masing dapat menghasilkan kelahiran dua hingga empat anak.

Hiu Paus, Salah Satu Satwa yang Dikeramatkan oleh Masyarakat Indonesia

Mengenal 3 Jenis dan status populasi hiu tikus

Tiga jenis hiu tikus
info gambar

Melansir Mongabay Indonesia, Hiu tikus pada dasarnya merupakan jenis satwa laut yang masuk kategori circumglobal, atau dapat ditemui hampir di seluruh perairan dunia termasuk Indonesia.

Di Indonesia sendiri, penyebaran hiu tikus dilaporkan terdeteksi di perairan Sumatra (Aceh), Jawa (Pelabuhan Ratu, Cilacap, dan Banyuwangi), Bali, Lombok, dan Nusa Tenggara Timur mulai dari Laut Sawu hingga Laut Alor.

Sementara itu mengenai klasifikasinya, secara global hiu tikus hanya terdiri dari tiga jenis di mana dua di antaranya berada di perairan Indonesia.

Tiga jenis hiu tikus yang dimaksud yaitu Pelagic Thresher Shark atau hiu tikus dengan nama ilmiah Alopias pelagicus. Hiu ini merupakan hiu tikus jenis terkecil yang memiliki ukuran mencapai 3,3 meter untuk usia dewasa.

Kemudian ada hiu tikus mata besar Big-Eye Thresher Shark atau yang memiliki nama ilmiah Alopias superciliosus dengan ciri khas berupa benjolan di bagian kepala. Terakhir Common Thresher Shark yang memiliki nama ilmiah Alopias vulpinus yang merupakan jenis hiu tikus terbesar di mana bisa mencapai ukuran hingga 5,7 meter.

Bicara soal status konservasinya, berdasarkan IUCN big-eye thresher dan common thresher berarti di status rentan atau vulnerable, sedangkan pelagic thresher berada di status terancam atau endangered.

Dari ketiga jenis tersebut, sejauh ini dua jenis yang dilaporkan ada di perairan Indonesia adalah big-eye thresher dan pelagic thresher.

Upaya-upaya untuk Melestarikan Hiu Paus Berjalan di Indonesia

Dilema objek mata pencarian dan upaya perlindungan

Masuknya salah satu jenis hiu tikus ke status terancam punah terjadi bukan tanpa alasan, berdasarkan informasi dari dua sumber yang disebutkan di atas, hiu tikus di Indonesia sendiri ternyata telah menjadi hasil tangkapan sampingan (bycatch) bagi para nelayan ikan tuna.

Hal tersebut dipertegas oleh Rafid Shidqi, pria yang saat ini dikenal sebagai pemimpin dari organisasi lingkungan yang mengupayakan konservasi hiu tikus di Indonesia, yakni Thresher Shark Indonesia.

“Status hiu tikus yang merupakan 50 persen tangkapan sampingan perikanan tuna. Artinya, jika ada 100 ton hasil tangkapan perikanan tuna, 50 ton merupakan hiu tikus,” tuturnya.

Rafid juga menjelaskan bahwa populasi hiu tikus saat ini sudah mengalami penurunan drastis sebanyak 80 persen. Padahal, hiu tikus dikenal sebagai hewan yang dapat hidup hingga usia 50 tahun. Namun kenyataannya saat ini kebanyakan hiu tikus hanya dapat bertahan hidup sampai usia 10-20 tahun.

“Hal ini dikarenakan banyak hiu tikus yang tertangkap jaring ketika menuju laut lepas, setelah menghabiskan masa remajanya di perairan dangkal atau pesisir,” jelas Rafid lebih jauh.

Banyak diburu, jika bicara soal pemanfaatan hiu tikus sebenarnya sama seperti jenis hiu lainnya di mana hampir semua bagian tubuh mereka dimanfaatkan. Selama ini sirip menjadi bagian tubuh yang paling dicari karena memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi.

Lain itu, bagian sirip, daging, tulang, dan kulit biasanya diekspor ke berbagai negara untuk dimanfaatkan sebagai bahan makanan, bahan baku obat maupun kosmetik, bahan baku kerajinan kulit, atau dijadikan sebagai makanan ringan.

Sebenarnya, Indonesia sudah memiliki Undang-Undang yang mengatur upaya perlindungan hiu tikus melalui Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 26 tahun 2013 tentang Usaha Perikanan Tangkap di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPP NRI) dan wajib dilepas serta dilaporkan jika mati.

Namun, peraturan tersebut dinilai belum terlalu berhasil menekan angka penangkapan dan perlindungan terhadap hiu tikus secara penuh.

Berangkat dari kondisi tersebut, Rafid bersama organisasi yang ia pimpin selama ini diketahui terus menjalankan sejumlah upaya konservasi terhadap populasi hiu tikus yang ada di Indonesia, tepatnya di perairan Alor, Nusa Tenggara Timur yang menjadi titik dominasi keberadaan hewan laut tersebut.

Salah satu upaya konservasi yang Rafid lakukan adalah dengan memasang penanda satelit akustik pada tubuh hiu tikus yang bertujuan untuk mengetahui perilaku serta habitatnya, dan pola migrasi serta sejumlah lokasi penting yang sering mereka kunjungi.

Di saat yang bersamaan, Rafid juga mengungkap bahwa upaya lain yang tak kalah penting adalah memberikan pemahaman kepada masyarakat terutama nelayan mengenai pentingnya menjaga lingkungan dan populasi hiu tikus agar tidak dijadikan objek tangkapan.

“Hal penting adalah memberikan edukasi serta mengajak masyarakat lokal untuk peduli terhadap hiu tikus dan lingkungannya. Jika kepedulian sudah tumbuh, upaya konservasi hingga kegiatan ekoturisme akan mudah dilakukan,” pungkas Rafid.

Upaya Mencegah Hiu dan Pari dari Kepunahan

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini