Gunung Semeru, Tempat Bersemayam Para Dewa yang Jadi Paku Tanah Jawa

Gunung Semeru, Tempat Bersemayam Para Dewa yang Jadi Paku Tanah Jawa
info gambar utama

Orang-orang di pulau Jawa menyebut Gunung Semeru tempat bersemayam para dewa. Semeru merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa yang dalam kosmologi Hindu diartikan sebagai pusat jagat raya.

Gunung ini memang mewakili sebuah wujud kebesaran, karena memiliki ketinggian yang mencapai 3.676 m. Kedigdayaan Semeru tidak hanya tercatat dalam naskah Belanda, tetapi juga sudah terekam dalam naskah kuno Tantu Panggelaran dari abad 15.

Dalam naskah itu, diceritakan Semeru merupakan gunung yang berasal dari India. Kala itu Pulau Jawa masih terombang-ambing oleh Samudra dan kedudukannya masih belum mantap di dunia ini.

"Batara Guru, sang penguasa tunggal, lalu memerintahkan para dewa dan raksasa untuk memindahkan Gunung Mahameru di India, sebagai pemberat agar pulau itu tidak terombang-ambing lagi," sebut Norman Edwin dalam tulisannya berjudul Pertapaan Kameswara dan Prasasti di Danau yang termuat dalam buku Soe Hok Gie...Sekali Lagi (2009).

Kemudian para dewa dan raksasa beramai-ramai mengangkat gunung itu. Dewa Wisnu menjelma menjadi kura-kura yang besar bukan main, lalu menggendong Mahameru.

Dewa Brahma mengubah dirinya menjadi ular yang panjang sekali, lalu melilit gunung itu agar bisa ditarik. Para dewa dan raksasa bergotong royong menyeretnya ke Tanah Jawa.

Menjelajahi Pesona Objek Wisata di Kaki Gunung Semeru

Pada proses pemindahan ini, para dewa kesulitan memilih tempat untuk menancapkan Mahameru, bila ditaruh di Jawa bagian barat, ternyata membuat bagian timur Pulau Jawa menjungkit ke atas.

Akhirnya mereka memindahkan lagi ke arah Timur, sehingga mantaplah kedudukannya di Pulau Jawa sekarang. Dalam pemindahan ini, banyak bagian dari Semeru yang tercecer dan membentuk gunung-gunung di Pulau Jawa.

Tetapi masalah belum selesai, Mahameru miring ke arah utara, sehingga diputuskanlah untuk memotong ujung gunung itu, setelahnya dipindahkan ke barat laut dengan nama Gunung Pawitra.

"Mahameru itu adalah Gunung Semeru sedangkan Pawitra sekarang dikenal sebagai Gunung Pananggungan," jelas Edwin.

Dalam naskah Tantu Panggelaran juga diceritakan Gunung Semeru merupakan pertapaan Dewa Syiwa. Untuk memperindah pertapaannya, diceritakan lagi bahwa Dewa Syiwa telah membuat tempat pemandian yang konon itu adalah Ranu Kumbolo.

Kisah ini diperkuat dengan penemuan beberapa situs purbakala di Gunung Semeru. Prasasti itu terdapat di Ranu Kumbolo dan Arcapada.

Misalnya pada prasasti di Ranu Kumbolo yang diperkirakan telah ada sejak awal abad 12. Diceritakan sebuah kunjungan dari Kameswara, raja yang berasal dari
kerajaan Kediri.

Raja itu meninggalkan kerajaan untuk berziarah ke pemandian suci dan diduga dirinya datang ke Gunung Semeru untuk melakukan pertapaan.

Keindahan Gunung Semeru dalam catatan pendaki

Pada tahun 1838, menjadi catatan pertama adanya pendakian ke Gunung Semeru yang dilakukan oleh C.F. Clignett, seorang geolog asal Belanda. Dia mendaki dari arah barat daya dengan melewati jalur Widodaren.

Widodaren merupakan salah satu gunung yang terdapat di dalam kompleks Gunung Semeru. Terakhir kali diketahui, gunung ini memiliki ketinggian sekitar 2.650 mdpl.

Setelah mendaki Gunung Semeru, Clignett kemudian menuliskan pendakiannya tersebut. sehingga secara tidak langsung membuat nama Gunung Semeru mulai mendunia, terutama di Eropa pada sekitar 1840-an.

Setelah Clignett, orang kedua yang melakukan pendakian ke Gunung Semeru adalah Franz Wilhem Junghuhn. Dia melakukan pendakian melalui jalur Gunung Ayek-ayek, Gunung Inder-Inder dan Gunung Kepolo.

Junghuhn merupakan ahli botani yang sangat mungkin melakukan penelitian saat mendaki ke Gunung Semeru. Dirinya juga menjadi salah satu orang yang cukup berkontribusi dalam tersebarnya informasi mengenai Gunung Semeru.

Selanjutnya ada Mr. C.W. Wormer, seorang penulis berkebangsaan Eropa yang sempat mendaki Puncak Gunung Semeru pada tahun 1920 an. Dirinya juga mendaki 30 gunung dengan ketinggian di atas 2.000 mdpl di Jawa.

Kemudian dia menuliskan tentang keindahan gunung-gunung di Jawa dan menerbitkannya di Belanda. Buku yang berjudul Bergenweelde atau Kemewahan Gunung-Gunung menyimpan segala keindahan, terutama Gunung Semeru.

Telaga birunya terbentang tanpa gerakan. Sesekali seekor itik liar mengusik permukaan airnya yang licin, kala dia menyelam dalam-dalam dan menghilang. Sampai jauh malam, saya melihatnya berenang di danau dan sesekali terdengar suaranya mengalun di atas permukaan air.

Di seberang sana, batang-batang kayu besar telah roboh dan terendam sebagian di dalam air. Entah, sudah berapa tahun batang-batang kayu tersebut membusuk di sana. Di antara dedaunan yang hijau yang lebat dari pepohonan yang tumbuh tinggi, yang menutupi lereng-lereng gunung di sekitar sini, suara angin malam terdengar berdesis.

Ranu Pani, Desa Tertinggi di Pulau Jawa dan Keunikan Suku Tengger

Sang Rembulan muncul. Setelah sinar matahari, yang dengan tajam menampakkan bentuk-bentuk dari hutan dan telaganya, sinar rembulan mengaburkan semua keadaan. Sekarang puncak-puncak pepohonan tidak bergerak dan tampak samar-samar dilangit yang cerah. Di atas punggung-punggung gunung kelap-kelip bintang bergelantungan.

Di muka air telaga Sang Rembulan mulai memainkan sinar peraknya, menerangi bivak kami. Suatu malam tropik yang tenang mengendap di atas telaga gunung, yang sudah berabad-abad terlindung oleh dinding-dinding gunung, dan jarang sekali terganggu ketenangan tidurnya oleh kegaduhan manusia.

Eksistensi Semeru juga bisa dilihat dalam catatan harian Soe Hok Gie
dalam buku Catatan Seorang Demonstran (2008). Di sini Gie yang merupakan aktivis mahasiswa era 1960 menilai Semeru sebagai tempatnya menemukan kesunyian abadi.

Kisah erupsi Gunung Semeru

Tidak ada yang menduga, Gunung Semeru yang berada di Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang, Jawa Timur, erupsi pada Sabtu (4/12/2021) sore, pukul 14.50 WIB. Walau memang gunung api aktif di Indonesia ini telah mengalami beberapa kali erupsi.

BNPB mencatat Semeru punya sejarah erupsi sejak 1818, meski saat itu belum banyak informasi yang terdokumentasikan. Kemudian pada 1941-1942 terekam aktivitas vulkanik dengan durasi panjang.

Selanjutnya beberapa aktivitas vulkanik tercatat beruntun pada 1945, 1946, 1947, 1950, 1951, 1952, 1953, 1954, 1955-1957, 1958, 1959, 1960. PVMBG juga mencatat aktivitas vulkanik Gunung Semeru pada 1990, 1992, 1994, 2002, 2004, 2005, 2007 dan 2008.

Harley B Satha dalam tulisannya berjudul Sepenggal Kisah Pendakian Semeru Medio 1830-1930 menulis catatan Junghuhn yang melihat erupsi Gunung Semeru pada tahun 1844.

Saat itu Junghuhn melihat letusan Gunung Semeru pada pagi dan sore hari. Suaranya terdengar menderu meraung-raung dan terlihat dari jauh, kolom asap putih kekuningan akibat sinar matahari sore di atas sudut kanan puncak Mahameru.

"Saat matahari bersinar, kerucut Gunung Semeru terlihat muncul di atas hutan dengan warna kemerahan. Cahaya yang bersinar, berubah sangat cepat menjadi abu-abu kusam, setelah gunung bergejolak," tulisnya

Catatan lain juga ditulis oleh Cut Dwi Septiasari dalam buku Soe Hok Gie: Sekali Lagi (2009), yang merekam letusan Gunung Semeru. Sejak tahun 1967 aktivitas Gunung Semeru terus bekerja meletuskan abu dan lava.

Betapa Menakjubkan Melihat Lingkar Api Indonesia dari Luar Angkasa

“Pada letusan biasa, sebuah tiang asap membumbung dengan bergulung-gulung berupa ‘bom’ dan abu mencapai ketinggian 300-600 m, di atas kawah dengan interval letusan 15-30 menit. Pada tahun 1968, pertumbuhan kubah lava terus berlangsung. Terjadi banjir lahar yang membawa korban tiga orang penduduk Desa Sumber Wungkil. Juga pada tahun 1977, terjadi lagi guguran lava yang menghasilkan awan panas, ‘menyerang’ dan menghancurkan beberapa desa," sebutnya.

Letusan besar Gunung Semeru pernah terjadi pada 29-30 Agustus 1909 yang dikenal dengan bencana Lumajang. Kemudian ada lagi letusan besar di tahun 1981 yang menewaskan ratusan penduduk di sekitarnya.

Pada 1994 terjadi letusan dan dentuman disertai hujan abu dan guguran lava membentuk awan panas. Kali ini terdapat sembilan korban yang meninggal karena awan panas dan hanyut oleh lahar.

Terdapat dua macam bahaya Semeru jika sampai meletus, bahaya primer berupa batu, kerikil, pasir dan debu panas yang dimuntahkan saat terjadi letusan. Panasnya bisa di atas 600 derajat celsius.

Bahaya sekunder berupa lahar dingin atau material piroklastik, yaitu material vulkanis, seperti pasir, kerikil, dan batu yang telah dingin.

"Bila timbunan meterial ini terbawa arus air, bisa menjerang apa saja dan menimbulkan bahaya," ungkap Septiasari.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini